ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 64 Agustus 2026
AI (Artificial Intelligence) Mendengarkanmu, tapi Apakah Itu Cukup?
Oleh:
Yuliana Anggreany1 & I Putu Bagus Erix Wijaya2
Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan1
Fakultas Informatika, Universitas Telkom2
Curhat ke Artificial Intelligence (AI) bisa terasa melegakan. Tapi di balik rasa lega itu, ada hal penting yang perlu kita sadari. Bayangkan pukul dua dini hari. Kamu tidak bisa tidur, pikiran penuh, dan tidak ada satu pun orang yang bisa diajak bicara. Lalu kamu membuka ponsel, mengetikkan isi hati ke sebuah aplikasi AI — dan jawaban yang muncul terasa menenangkan. AI itu seolah mengerti, tidak menghakimi, dan selalu ada.
Di antara tahun 2020 dan 2025, Artificial Intelligence (AI) berkembang dengan cepat, yang pada akhirnya membentuk kembali cara individu mendapatkan dukungan emosional, mengekspresikan perasaan-perasaan, dan membangun kepercayaan interpersonal (Santiago-Torner, dkk., 2026). Saat ini semakin banyak individu yang mengandalkan sistem AI untuk meredakan stres, mengusir rasa sepi, dan menenangkan emosi yang sedang bergejolak.
Mengapa Curhat ke AI Terasa Melegakan?
Bagi sebagian orang, bercerita kepada AI terasa lebih ringan — terutama saat sedang dilanda perasaan yang tidak menyenangkan. AI merespons dengan cara yang memvalidasi perasaan kita, bahkan memberi semacam dukungan dan penguatan. Ketika hal ini terjadi berulang kali, perlahan tumbuh rasa percaya terhadap AI.
Metaanalisa yang dilakukan terhadap 13 studi menunjukkan bahwa ChatGPT memiliki kecenderungan sekitar 73% untuk dipersepsikan lebih memiliki empati dibanding praktisi manusia ketika berinteraksi menggunakan teks (Howcroft, dkk., 2025). Sistem AI yang interaktif, dapat memenuhi kebutuhkan individu ketika menginginkan solusi ataupun cara yang cepat, dapat terjaga kerahasiaannya, serta memberikan pendampingan, hal-hal yang dicari ketika seseorang mencari dukungan emosional (Santiago-Torner, dkk., 2026).
Sisi Lain dari “Selalu Ada”
Dibandingkan dengan mencari bantuan profesional ketika sedang berhadapan dengan permasalahan, mengungkapkan permasalahan dan perasaan yang dirasakan kepada AI dapat menjadi cara/ solusi yang dilihat positif. Berbagi ke AI dapat dilakukan dengan cepat (tidak perlu membuat janji terlebih dahulu, dapat diakses kapan saja dan dapat dilakukan di mana saja). Hal-hal tersebutlah yang menjadikan AI terasa seperti dapat memberikan pendampingan karena naturnya yang dapat diakses dengan mudah.
Namun, kemudahan ini juga memiliki resiko. Semakin sering kita menyandarkan keputusan emosional pada teknologi, semakin besar pula kemungkinan kita bergantung pada gawai — dan tanpa sadar, mengganti interaksi dengan sesama manusia dengan “ikatan digital” (Santiago-Torner, dkk., 2026). Fenomena ini mengilustrasikan digital affective paradox, ketika konektivitas teknologis meningkat, orang belum tentu akan merasa lebih terkoneksi. Bahkan pada kenyataannya, semakin orang didampingi sistem digital, semakin sulit mempertahankan relasi-relasi yang tulus dan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang stabil.
Empati yang Diprogram, Bukan Empati yang Dirasakan
Di sinilah letak persoalannya. AI memang bisa merespons seolah-olah berempati, tetapi pada dasarnya ia adalah sistem yang telah diprogram. Empatinya bukan empati yang benar-benar dirasakan. Karena itu, berbagi perasaan dengan AI tidak akan pernah sama dengan berbagi dengan manusia yang sungguh-sungguh hadir, mendengar, dan peduli.
Teknologi memang dapat mempermudah komunikasi. Tetapi pada saat yang sama, ia bisa menjadi penghalang untuk membangun relasi dengan orang-orang di sekitar kita. AI seringkali dipandang sebagai sumber jawaban yang tepat, padahal ia tetap memiliki keterbatasan.
Lalu, Bagaimana Sebaiknya?
Bukan berarti kita harus menjauhi AI. Kuncinya adalah menggunakannya dengan bijak. Beberapa hal yang bisa kita lakukan:
• Kenali emosi dan tingkatkan literasi digital. Belajar membedakan: apakah AI sedang membantu kesejahteraan (well-being) kita, atau justru melemahkan kemampuan kita mengelola diri sendiri?
• Tetapkan batasan. Beri batas pada pendampingan digital agar kita tidak terlalu bergantung pada dukungan emosional dari AI.
• Sisihkan waktu untuk diskoneksi digital. Cari kegiatan yang bisa dilakukan secara langsung di dunia nyata.
• Utamakan pengalaman emosional yang nyata. Pengalaman bertemu, berbicara, dan merasakan secara langsung tidak bisa digantikan oleh dunia digital.
Pada akhirnya, AI sebaiknya kita tempatkan sebagai pelengkap — sumber informasi atau teman bicara tambahan — bukan pengganti kehadiran manusia. AI memang bisa mendengarkan. Tapi untuk benar-benar dimengerti, ditemani, dan dipahami, kita tetap membutuhkan satu sama lain.
Referensi:
Santiago-Torner, C., Corral-Marfil, J.-A., & Tarrats-Pons, E. (2026). Artificial intelligence and the reconfiguration of emotional well-being (2020–2025): A critical reflection. Societies, 16(1), 6. https://doi.org/10.3390/soc16010006
Howcroft, A., Bennett-Weston, A., Khan, A., Griffiths, J., Gay, S., & Howick, J. (2025). AI chatbots versus human healthcare professionals: A systematic review and meta-analysis of empathy in patient care. British Medical Bulletin, 156, 1–13. https://doi.org/10.1093/bmb/ldaf017
