ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 64 Agustus 2026

Olahraga lari sebagai strategi koping modern dalam menghadapi stres pada masyarakat urban : tinjauan psikologi

Oleh:

Mochamad Rayhan Agustian, Ayuningtyas Sujono Putri, Diyaz Aprilian, Bunga Zafira Melati, Mumtaz Saputra & Aulia Ni’matussayyidah

Fakultas Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

Pendahuluan

Urbanisasi telah mengubah pola kehidupan masyarakat secara signifikan. Kota-kota besar menawarkan beragam peluang pendidikan, pekerjaan dan pengembangan Karier, namun disaat yang sama menghadirkan berbagai tekanan psikologis yang semakin kompleks. Ritme kehidupan yang cepat, tingginya tuntutan pekerjaan, kemacetan lalu lintas, kompetisi sosial, serta keterbatasan waktu untuk beristirahat menjadikan Masyarakat urban lebih rentan mengalami stres dibandingkan masyarakat yang tinggal di wilayah non perkotaan.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menempatkan Kesehatan mental sebagai salah satu komponen penting dalam kualitas hidup Masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang tinggal di lingkungan perkotaan memiliki resiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan, depresi, maupun stress kronis akibat paparan tekanan lingkungan yang berlangsung secara terus menerus. Dalam konteks psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai environmental stressors, yaitu berbagai tuntutan dari lingkungan yang memerlukan kemampuan adaptasi agar tetap mampu mempertahankan kesejahteraan psikologis.

Menurut Transactional Model of Stress and Coping yang dikembangkan oleh Lazarus dan Folkman (1984), stres tidak semata-mata ditentukan oleh beratnya tuntutan lingkungan, melainkan oleh bagaimana individu menilai situasi yang dihadapi serta strategi koping yang dipilih untuk mengelolanya. Individu yang mampu menerapkan strategi koping adaptif cenderung memiliki resiliensi yang lebih baik dalam menghadapi tekanan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu strategi koping yang semakin popular dikalangan masyarakat urban saat ini adalah aktivitas olahraga lari. Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga lari telah berkembang dari sekadar olahraga menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang didukung oleh munculnya berbagai komunitas lari, penyelenggaraan acara fun run serta penggunaan aplikasi digital untuk memantau aktivitas fisik. Fenomena ini menunjukkan bahwa Masyarakat mulai memandang akivitas fisik bukan hanya sebagai sarana menjaga kebugaran, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan Kesehatan mental.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas olahraga lari mampu berperan dalam memperbaiki suasana hati, menurunkan tingkat kecemasan, serta meningkatkan kemampuan individu dalam mengelola stres. Selain memberikan manfaat fisiologis, keterlibatan dalam komunitas lari juga memperluas dukungan sosial (social support) yang merupakan salah satu faktor protektif terhadap berbagai permasalahan psikologis.

Berdasarkan kondisi tersebut, artikel ini bertujuan mengulas fenomena meningkatnya aktivitas olahraga lari sebagai strategi koping modern dalam menghadapi stres pada masyarakat urban melalui perspektif psikologi. Pembahasan diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai hubungan antara tekanan kehidupan perkotaan, mekanisme koping dan pentingnya aktivitas fisik sebagai salah satu upaya dalam menjaga kesehatan mental masyarakat.

 

Stres Urban sebagai tantangan kesehatan mental

Perkembangan kota yang pesat membawa berbagai konsekuensi terhadap kesehatan mental masyarakat. Urbanisasi tidak hanya meningkatkan peluang ekonomi dan Pendidikan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang penuh tekanan akibat kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, tingginya biaya hidup, polusi, serta tuntutan pekerjaan yang semakin kompleks. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat urban lebih sering terpapar stressor yang berlangsung secara terus-menerus dibandingkan masyarakat di wilayah non perkotaan.

Dalam perspektif perilaku organisasi, Robbins dan Judge (2022) menjelaskan bahwa stres muncul ketika individu menghadapi tuntutan yang dipersepsikan melebihi kemampuan atau sumber daya yang dimiliki. Apabila tekanan tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa strategi penyesuaian yang efektif, individu beresiko mengalami strain, yaitu dampak negatif yang muncul pada aspek fisiologis, psikologis, maupun perilaku. Dampak tersebut dapat berupa gangguan tidur, kelelahan emosional, penurunan konsentrasi, mudah marah, menurunnya produktivitas kerja, hingga meningkatnya resiko gangguan kecemasan dan depresi.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui job demands-resources (JD-R) model yang dikembangkan oleh Bakker dan Demerouti. Model ini menjelaskan bahwa tingginya tuntutan pekerjaan seperti beban kerja, tekanan waktu, konflik peran, dan tuntutan emosional akan meningkatkan resiko kelelahan apabila tidak diimbangi oleh sumber daya yang memadai, seperti dukungan sosial, otonomi kerja, kesempatan pemulihan, dan aktivitas yang meningkatkan kesejahteraan psikologis. Oleh  karena itu, menjaga Kesehatan mental tidak hanya bergantung pada kemampuan individu mengurangi tuntutan, tetapi juga pada upaya meningkatkan sumber daya yang dimiliki.

Selain tekanan pekerjaan, lingkungan perkotaan juga menghadirkan berbagai environmental stressors. Kebisingan, kualitas udara yang buruk, keterbatasan ruang terbuka hijau, serta tingginya intensitas interaksi sosial dapat  mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Individu menjadi lebih rentan mengalami penurunan suasana hati, kelelahan mental, dan kesulitan mengendalikan emosi. Dalam jangka Panjang, stres kronis tidak hanya mempengaruhi kondisi psikologis, tetapi juga Kesehatan fisik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres berkepanjangan berkaitan dengan meningkatnya Risiko hipertensi, penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme, penurunan sistem imun, serta gangguan kualitas tidur. Oleh karena itu, diperlukan strategi koping yang mampu membantu individu mengurangi dampak negatif stres sekaligus meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap tuntutan kehidupan modern.

 

Olahraga lari sebagai strategi koping modern

Salah satu bentuk strategi koping yang makin berkembang di kalangan masyarakat urban adalah aktivitas fisik berupa olahraga lari. Berbeda dengan beberapa bentuk olahraga yang memerlukan fasilitas khusus atau biaya yang cukup tinggi, olahraga lari merupakan aktivitas fisik yang mudah dilakukan, fleksibel, dan dapat disesuaikan dengan kemampuan setiap individu. Faktor inilah yang menjadikan olahraga lari semakin popular sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat perkotaan.

Dalam teori Transactional Model of stress and coping , Lazarus dan Folkman (1984) menjelaskan bahwa individu dapat memilih berbagai bentuk koping untuk menghadapi tekanan. Aktivitas olahraga lari termasuk dalam kategori problem-focused coping sekaligus active coping, yaitu upaya aktif yang dilakukan individu untuk mengurangi dampak stres melalui tindakan nyata. Berlari tidak menghilangkan sumber tekanan secara langsung, tetapi membantu individu meningkatkan kapasitas psikologis sehingga mampu menghadapi tuntutan kehidupan secara lebih adaptif.

Dari sisi fisiologis, aktivitas lari memicu pelepasan berbagai neurotransmitter yang berperan dalam regulasi emosi. Mengaktifkan hormon Endorphin yang dikenal mampu mengurangi persepsi terhadap rasa sakit sekaligus meningkatkan perasaan nyaman. Sementara itu, peningkatan kadar serotonin dan dopamine berkontribusi terhadap perbaikan suasana hati, meningkatnya motivasi, serta berkurangnya gejala kecemasan. Kombinasi mekanisme tersebut menjelaskan mengapa individu sering melaporkan perasaan lebih rileks dan lebih optimis setelah melakukan aktivitas lari secara rutin.

Selain memberikan manfaat biologis, olahraga lari juga memberikan manfaat psikologis melalui peningkatan psychological resilience. Individu yang mampu mempertahankan rutinitas olahraga cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan, serta memiliki persepsi kontrol yang lebih tinggi terhadap kehidupannya dalam perspektif conservations of resources theory, aktivitas lari dapat dipandang sebagai investasi sumber daya pribadi yang membantu individu mempertahankan energi, optimisme, dan Kesehatan psikologis Ketika menghadapi berbagai tekanan.

Fenomena berkembangnya komunitas lari di berbagai kota besar juga menunjukkan bahwa manfaat aktivitas ini tidak hanya berasal dari aspek fisik. Interaksi dengan sesama anggota komunitas menciptakan dukungan sosial yang terbukti menjadi salah satu faktor protektif terhadap stres. Melalui komunitas, individu memperoleh kesempatan untuk berbagi pengalaman, membangun hubungan interpersonal, meningkatkan motivasi, serta mempertahankan konsistensi dalam berolahraga. Dukungan sosial tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya rasa memiliki (Sense of belonging) yang merupakan salah satu aspek penting dalam kesejahteraan psikologis.

Perkembangan teknologi turut memperkuat fenomena ini. Berbagai aplikasi seperti Strava, Garmin Connect, maupun Nike Run Club memungkinkan pengguna memantau perkembangan latihan, menetapkan target dan berinteraksi dengan komunitas secara daring. Kehadiran teknologi tidak hanya meningkatkan motivasi, tetapi juga memberikan umpan balik positif yang membantu individu mempertahankan perilaku hidup sehat secara berkelanjutan.

Dengan demikian, aktivitas olahraga lari tidak lagi dipandang sekedar sebagai olahraga rekreasi, melainkan sebagai salah satu strategi dalam menjaga Kesehatan mental masyarakat urban. Manfaat fisiologis, psikologis dan sosial menjadikan lari sebagai bentuk koping adaptif yang relevan untuk menghadapi kompleksitas kehidupan perkotaan pada era modern

 

Dampak bagi masyarakat urban

Meningkatnya popularitas aktivitas olahraga lari memberikan peluang bagi berbagai pihak untuk mengembangkan program peningkatan kesehatan mental berbasis komunitas. Pemerintah daerah dapat memperluas akses terhadap ruang terbuka hijau dan jalur lari yang aman, sementara organisasi maupun Perusahaan dapat mendorong terbentuknya komunitas olahraga sebagai bagian dari program kesejahteraan karyawan.

Bagi individu, aktivitas lari dapat menjadi salah satu kebiasaan sederhana yang memberikan manfaat jangka panjang. Melakukan lari intensitas sedang selama 30-45 menit sebanyak tiga hingga lima kali setiap minggu tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga membantu mengurangi tingkat stres, memperbaiki kualitas tidur, meningkatkan konsentrasi, serta memperkuat kesehatan mental secara keseluruhan. Dengan menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari gaya hidup, Masyarakat urban memiliki peluang yang lebih besar untuk mempertahankan keseimbangan anatara tuntutan pekerjaan, kehidupan pribadi dan kesejahteraan psikologis.

 

Kesimpulan

Perkembangan kehidupan perkotaan telah menghadirkan berbagai peluang sekaligus tatangan bagi kesehatan mental masyarakat. Tingginya tuntutan pekerjaan, kemacetan lalu lintas, kompetisi sosial, serta minimnya waktu untuk beristirahat menjadikan masyarakat urban lebih rentan mengalami stres yang berkepanjangan. Apabila tidak dikelola secara tepat, stres kronis dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas kerja, Kesehatan fisik serta kejahatan psikologis individu

Dalam perspektif psikologi, stres bukanlah kondisi yang sepenuhnya dapat dihindari, melainkan respons adaptif yang perlu dikelola melalui strategi koping yang efektif. Salah satu bentuk koping yang semakin relevan pada Masyarakat modern adalah aktivitas pagi. Selain mudah dilakukan dan relatif murah, lari memberikan manfaat yang komprehensif melalui mekanisme fisiologis, psikologis, maupun sosial

Pelepasan hormon endorphin, serotonin, dan dopamine selama aktivitas fisik membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi kecemasan, serta meningkatkan keterlibatan dalam komunitas lari juga memperkuat dukungan sosial terhadap berbagai permasalahan kesehatan mental

Fenomena meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga lari menunjukkan adanya perubahan paradigma bahwa aktivitas fisik tidak lagi dipandang semata sebagai upaya menjaga kebugaran tubuh. tetapi juga sebagai investasi terhadap kesehatan mental. Oleh karena itu, olahraga lari dapat diposisikan sebagai salah satu strategi yang mudah diakses oleh berbagai kelompok masyarakat dalam menghadapi tekanan kehidupan perkotaan.

Membangun kebiasaan berlari secara rutin tentu bukan satu-satunya solusi dalam mengatasi stress. Namun, apabila dikombinasikan dengan pola hidup sehat, manajemen waktu yang baik, kualitas tidur yang memadai, serta dukungan sosial yang positif, aktivitas lari dapat menjadi bagian penting dari gaya  hidup yang mendukung terciptanya Masyarakat urban yang lebih sehat, produktif dan tangguh secara psikologis

Rekomendasi Praktis

Berdasarkan pembahasan dalam artikel ini, terdapat beberapa Langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk membantu mengelola stres di lingkungan perkotaan :

1.    Melakukan aktivitas olahraga lari dengan intensitas 30-45 menit sebanyak tiga hingga lima kali setiap minggu

2.    Menjadwalkan waktu olahraga sebagai bagian dari rutinitas harian agar aktivitas fisik menjadi kebiasaan yang berkelanjutan

3.    Bergabung dengan komunitas lari untuk memperoleh dukungan sosial, meningkatkan motivasi, dan menjaga konsistensi berolahraga

4.    Memanfaatkan aplikasi pemantauan aktivitas fisik sebagai sarana menetapkan target pribadi serta mengevaluasi perkembangan latihan

5.    Mengkombinasikan aktivitas fisik dengan pola hidup sehat lainnya, seperti tidur yang cukup, konsumsi makanan bergizi seimbang, latihan relaksasi dan pengelolaan beban kerja.

Penerapan Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi tekanan kehidupan perkotaan sekaligus memperkuat Kesehatan mental secara berkelanjutan

 

Referensi

American Psychological Assessment (2023). Stress effect on the body. https://www.apa.org

Bakker, A.B., & Demerouti, E (2017). Job Demands-ResourcesTheory: taking stock and looking forward journal of Occupational Health Psychology, 22(3), 273-285.

Colquitt, J. A., LePine, J.A., & Wesson ,M.J. (2021) Organizational behavior:Improving Performance and commitment In the workplace (7th ed.) Mc-Graw-Hill

Lazarus, R. S., & Folkman, S (1984). Stress, Apraisal and coping . Springer

Robbins, S.P., & Judge TA (2022) organizational Behavior (19th Global Edition). Pearson

Salmon, P. (2001) effects or physical exercise on anxiety, depression, and sensitivity to stress : A unifying theory. Clinical Psychology Review 21(1),33-61.

Warburton, D.E.R & Bredin, S.S.D (2017). Health benefits of physical activity : A systematic review of current systematic review. Current opinion in cardiology, 32(5)541-556

World Health Organization. (2022). World Mental health Raport: Transforming mental health Health, Report transforming mental for All