ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 64 Agustus 2026
Antek Asing – Londo Ireng dan
Konsekuensi Psikologis-nya
Oleh:
Indro Adinugroho
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Akhir-akhir ini khalayak umum seringkali dikagetkan dengan peryataan-pernyataan kontroversial dari Pemerintah Republik Indonesia. Dari mulai pelatihan ala militer untuk menumbuhkan rasa kebangsaan, keracunan dari MBG yang dinilai tidak berdampak kronis hingga tuduhan antek asing dan londo ireng yang dikemukakan Presiden Republik Indonesia di muka umum dan ditujukan untuk aktivis dan wartawan. Kedua aktor ini dipersepsikan sebagai musuh dalam selimut yang terkadang tidak suka melihat Indonesia tumbuh menjadi negara yang hebat. Namun, apakah aktor-aktor ini benar adamya? Atau ini hanyalah komunikasi politik Pemerintah untuk menjaga kohesivitas kelompok dan mempertahankan dukungan dari pemilihnya? Dalam konsep ilmu politik, anggapan mengenai pihak asing yang beraksi di belakang layar dijelaskan sebagai teori konspirasi, yaitu sebuah pandangan yang melihat bahwa ada musuh tersembunyi, bahkan sulit untuk diidentifikasi dan mereka mengancam eksistensi dari kelompok tertentu.
Sistem Nilai dan Pandangan Konspirasi
Tidak jauh berbeda dengan ilmu politik, dalam kacamata psikologi yang mempelajari perilaku, pemikiran konspirasi diidentifikasi sebagai sistem nilai (belief) yang mengidentifikasi adanya ancaman dari kelompok yang melakukan aktivitasnya secara tersembunyi, dan memiliki tujuan jahat (Douglas et al., 2017; Sutton & Douglas, 2020). Jika menelisik melalui sudut pandang psikologi kognitif, beberapa argumen konspirasi yang ada di dunia bukanlah pandangan yang terkesan destruktif, melainkan sebuah opini yang sederhana, pendek, menarik dan bahkan bisa menghibur sebagian kelompok (van Prooijen et al., 2022), contohnya konspirasi tentang alien di area 51, atau konsep bumi datar. Dalam konteks politik Eropa, pemikiran konspirasi bahkan memiliki korelasi dengan 2 sudut ideologi politik ekstrim, sayap kanan dan kiri (van Prooijen et al., 2015).
Jebakan Lubang Kelinci Teori Konspirasi
Bagi sebagian kelompok, termasuk di Indonesia, teori konspirasi mungkin terdengar konyol karena fakta yang dipaparkan terkesan tidak valid, grande, dan mengada-ada. Namun, sadarkah kita bahwa seseorang yang percaya bahwa konspirasi benar adanya terus menerus konsisten menyuarakan isu ini. Sebagai contoh, calon Gubernur DKI Jakarta 2024, Dharma Pongrekun yang terus menyuarakan peran elit global sebagai upaya mengendalikan manusia melalui virus COVID-19. Sebagai respon atas eksistensi Dharma, berbagai kalangan content creator menngunggah opini yang terkesan mengolok-olok bahkan mentertawakan pandangan Dharma. Namun, secara mengejutkan, Dharma Pongrekun berhasil mengantongi 10,53% suara, jauh melebihi ekspektasi yang digambarkan oleh berbagai lembaga survei. Tentu saja terlalu dini untuk mengatakan bahwa ini disebabkan karena teori kopnspirasi yang selalu diusung oleh Dharma karena kemenangan pasangan calon ditentukan oleh berbagai faktor. Namun, layaknya kita bertanya, apakah memang teori konspirasi tersebut memiliki dampak? Sutton & Douglas (2022) pernah mengemukakan konsep empiris rabbit hole syndrome untuk memahami mengapa kepercayaan terhadap teori konspirasi cenderung sulit untuk diubah. Mereka memandang bahwa teori konspirasi muncul sebagai sebuah argumen non-destruktif, melainkan hadir sebagai pandangan yang menarik dan menghibur audiens, namun menjadi jebakan kognitif dimana individu akhirnya tidak menyadari bahwa mereka secara implisit mempercayai padangan tersebut. Konsep ini lahir dari inspirasi cerita Alice in Wonderland dimana ketika Alice berada di hutan, melihat sebuah lubang kelinci, ia masuk kesana hingga tidak bisa mencari jalan keluarnya. Ketika proses kognitif ini terjadi, maka kecenderungan individu adalah menempatkan pandangan konspirasi sebagai salah satu inspirasi mereka.
Apa Dampak Teori Konspirasi Yang Dipersepsikan Sebagai Inspirasi?
Berbagai studi telah menunjukkan konsekuensi negatif dari penerimaan terhadap teori konspirasi seperti penolakan terhadap vaksin (Jolley & Douglas, 2014) hingga menilai perubahan iklim sebagai kebohongan (Biddlestone et al., 2022; Douglas & Sutton, 2015). Dalam konteks politik, teori konspirasi umumnya banyak ditemukan pada pemimpin-pemimpin otoriter untuk menggalang dukungan, menyerang kelompok out-group hingga mempertahankan identitas (Ren et al., 2022). Teori konspirasi menawarkan simplifikasi argumen dan menjadi jalan pintas mental yang mendukung untuk pengambilan keputusan di tengah kompleksitas realitas sosial. Jika menelisik lebih dalam dengan menggunakan teori pengambilan keputusan deskriptif, teori konspirasi menjadi nilai yang dapat dipertimbangkan untuk mempengaruhi individu dalam mengambil keputusan, misalnya dalam kondisi ketidakpastian, pandangan konspirasi menawarkan cara berpikir yang cepat dan minim usaha. Sebagai contoh, studi yang dilakukan oleh Adinugroho et al. (2024) menunjukkan bahwa pandangan konspirasi menjadi lebih penting dan berkontribusi dalam keputusan untuk vaksinasi saat vaksin COVID-19 pertama kali diterapkan untuk kelompok populasi besar ketimbang periode awal COVID-19 dan saat booster vaksin diterapkan di Inggris.
Jangan Biarkan Ikut Terjebak
Lalu, bagaimana menjaga agar kita tidak terjebak dalam “lubang kelinci” teori konspirasi? Dalam hal ini, psikologi menawarkan berbagai pendekatan kognitif yang dapat diaplikasikan secara sederhana. Eksperimen yang dilakukan oleh Swami et al., (2014) yang menstimulasi partisipan dengan tugas sederhana analitik menunjukkan hasil yang signifikan, dimana partisipan di kelompok eksperimen cenderung memiliki skor pemikiran konspirasi yang lebih rendah ketimbang kelompok kontrol (tanpa tugas analitik). Selain itu, literasi media juga menjadi hal yang esensial karena saat ini teori konspirasi menyebar melalui media sosial dengan repetisi informasi yang sangat masif. Lalu, apakah kita akan mudah percaya dengan konsep antek asing – londo ireng? Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan cerdas, mari kita berpikir analitis, saling mengingatkan satu sama lain, untuk terus menjaga kewarasan!
Daftar Pustaka
Adinugroho, I., Stafford, T., & Bentall, R. P. (2024). The correlation between conspiracy mentality and vaccine intentions is moderated by social events: Evidence from longitudinal data during COVID-19 pandemic in the UK. Vaccine, 42(16), 3607–3614. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2024.04.071
Biddlestone, M., Azevedo, F., & van der Linden, S. (2022). Climate of conspiracy: A meta-analysis of the consequences of belief in conspiracy theories about climate change. Current Opinion in Psychology, 46, 101390. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101390
Douglas, K. M., & Sutton, R. M. (2015). Climate change: Why the conspiracy theories are dangerous. Bulletin of the Atomic Scientists, 71(2), 98–106. https://doi.org/10.1177/0096340215571908
Douglas, K. M., Sutton, R. M., & Cichocka, A. (2017). The Psychology of Conspiracy Theories. Current Directions in Psychological Science, 26(6), 538–542. https://doi.org/10.1177/0963721417718261
Jolley, D., & Douglas, K. M. (2014). The Effects of Anti-Vaccine Conspiracy Theories on Vaccination Intentions. PLoS ONE, 9(2), e89177. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0089177
Ren, Z. (Bella), Carton, A. M., Dimant, E., & Schweitzer, M. E. (2022). Authoritarian leaders share conspiracy theories to attack opponents, galvanize followers, shift blame, and undermine democratic institutions. Current Opinion in Psychology, 46, 101388. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101388
Sutton, R. M., & Douglas, K. M. (2020). Conspiracy theories and the conspiracy mindset: Implications for political ideology. Current Opinion in Behavioral Sciences, Political Ideologies, 34, 118–122. https://doi.org/10.1016/j.cobeha.2020.02.015
Sutton, R. M., & Douglas, K. M. (2022). Rabbit Hole Syndrome: Inadvertent, accelerating, and entrenched commitment to conspiracy beliefs. Current Opinion in Psychology, 101462. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101462
Swami, V., Voracek, M., Stieger, S., Tran, U. S., & Furnham, A. (2014). Analytic thinking reduces belief in conspiracy theories. Cognition, 133(3), 572–585. https://doi.org/10.1016/j.cognition.2014.08.006
van Prooijen, J.-W., Krouwel, A. P. M., & Pollet, T. V. (2015). Political Extremism Predicts Belief in Conspiracy Theories. Social Psychological and Personality Science, 6(5), 570–578. https://doi.org/10.1177/1948550614567356
van Prooijen, J.-W., Ligthart, J., Rosema, S., & Xu, Y. (2022). The entertainment value of conspiracy theories. British Journal of Psychology, 113(1), 25–48. https://doi.org/10.1111/bjop.12522
