ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 61 Juli 2026

Marriage is Scary”? Memahami Keputusan Generasi Z Menunda Pernikahan dari Perspektif Attachment Theory

Oleh:
Putri Balqis
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Marriage is scary” Kalimat yang sekarang terdengar familiar dikalangan Generasi Z, terutama di media sosial. Pernikahan yang dulu dipandang sebagai pencapaian dan tujuan dalam kehidupan dewasa, kini justru menjadi sesuatu yang ditunda bahkan dihindari. Banyak dari kalangan Gen Z lebih memilih untuk fokus pada karir, pengembangan diri, dan mengejar pendidikan daripada pernikahan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik: apakah penundaan pernikahan pada Generasi Z semata-mata dipengaruuhi faktor ekonomi dan sosial, atau justru berkaitan dengan dinamika psikologis yang lebih dalam?

 

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami fenomena ini adalah attachment theory yang dikembangkan oleh John Bowlby (Bowlby, 1988). Teori ini menjelaskan bahwa pengalaman relasi awal individu dengan figur pengasuh membentuk pola keterikatan yang relatif stabil dan memengaruhi cara individu menjalin hubungan di masa dewasa.

 

Fenomena penundaan perrnikahan pada Generasi Z secara empiris, khususnya tren penundaan pernikahan menunjukkan peningkatan signifikan. Data menunjukkan bahwa usia rata-rata pernikahan pertama terus meningkat, termasuk di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2023). Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung menunda pernikahan karena faktor pendidikan, pengembangan karier, serta kesiapan finansial (Herawati et al., 2023).

 

Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran nilai terhadap pernikahan. Generasi muda tidak lagi melihat pernikahan sebagai kewajiban sosial, melainkan sebagai pilihan yang harus dipertimbangkan secara matang (Arnett, 2019). Narasi seperti “marriage is scary” menunjukkan adanya kecemasan terhadap komitmen jangka panjang.

 

Dalam sudut pandang psikolgi khususnya attachment theory, pola keterikatan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak akan memengaruhi bagaimana individu membangun relasi di masa dewasa, termasuk dalam hubungan romantis (Fraley & Shaver, 2000). Terdapat tiga pola utama attachment, yaitu secure attachment, anxious attachment, dan avoidant attachment.

 

Individu dengan avoidant attachment cenderung menghindari kedekatan emosional dan lebih menekankan kemandirian. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan pola ini memiliki kecenderungan lebih rendah untuk berkomitmen dalam hubungan jangka panjang (Mikulincer & Shaver, 2007).

Sementara itu, individu dengan anxious attachment cenderung mengalami ketakutan akan penolakan dan ketidakstabilan hubungan, sehingga ragu untuk mengambil keputusan besar seperti pernikahan.

Di sisi lain, individu dengan secure attachment memiliki kecenderungan lebih positif terhadap hubungan, namun tetap mempertimbangkan kesiapan finansial dan karier sebelum menikah.

 

Pilihan Generasi Z untuk memprioritaskan karier sering kali dipahami sebagai keputusan rasional. Namun, dari perspektif psikologis, keputusan ini juga dapat dilihat sebagai bentuk mekanisme adaptif. Karier menyediakan rasa kontrol, pencapaian, dan stabilitas yang lebih dapat diprediksi dibandingkan hubungan interpersonal.

Dalam beberapa kasus, fokus pada karier juga dapat berfungsi sebagai strategi regulasi diri, terutama bagi individu dengan pengalaman relasi yang kurang aman. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa fase emerging adulthood ditandai oleh eksplorasi identitas sebelum memasuki komitmen jangka panjang (Arnett, 2019).

 

Fenomena penundaan pernikahan pada Generasi Z tidak dapat dipahami secara sederhana. Keputusan tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor sosial, ekonomi, dan psikologis. Attachment theory membantu menjelaskan bahwa di balik keputusan tersebut terdapat dinamika emosional yang berkaitan dengan kebutuhan akan keamanan dan pengalaman relasi sebelumnya.

Dengan demikian, penundaan pernikahan bukan semata-mata bentuk penolakan terhadap hubungan, tetapi juga bagian dari proses individu dalam mencapai kesiapan emosional dan stabilitas hidup.

 

Kesimpulan

Fenomena “marriage is scary” mencerminkan perubahan cara pandang Generasi Z terhadap pernikahan. Attachment style memainkan peran penting dalam membentuk sikap individu terhadap komitmen, yang pada akhirnya memengaruhi keputusan untuk menunda pernikahan.

 

Daftar Pustaka

Arnett, J. (2019). Emerging Adulthood: The Winding Road from the Late Teens Through the Twenties (2nd edition). https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199929382.001.0001

Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Pemuda Indonesia 2023 (B. P. Statistik (ed.); 4103008th ed.). Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/publication/2023/12/29/18781f394974f2cae5241318/statistik-pemuda-indonesia-2023.html

Bowlby, J. (1988). A secure base:  Parent-child attachment and healthy human development. In A secure base:  Parent-child attachment and healthy human development. (pp. xii, 205–xii, 205). Basic Books.

Fraley, R. C., & Shaver, P. R. (2000). Adult romantic attachment: Theoretical developments, emerging controversies, and unanswered questions. In Review of General Psychology (Vol. 4, Issue 2, pp. 132–154). Educational Publishing Foundation. https://doi.org/10.1037/1089-2680.4.2.132

Herawati, I., Hoesni, S. M., Manap, J., & Khatib, N. A. M. (2023). A Qualitative Study: Exploring Marital Readiness among Generation Z. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences. https://doi.org/10.6007/ijarbss/v13-i12/20107

Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change. In Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change. (p. 578). The Guilford Press.