ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 61 Juli 2026

Psychological First Aid, Intervensi Awal Yang Esensial Bagi Penyintas Bencana

Oleh:

Arie Rihardini Sundari & Eko A Meinarno

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

Pengantar

Kehilangan menjadi tema utama penyintas bencana, baik seseorang yang berarti dalam hidupnya, harta benda yang berharga, tempat tinggal, bahkan hewan kesayangan yang selalu menemaninya sehari-hari. Relawan akan bijak jika dapat menghibur dengan tepat, dengan menanyakan kondisi melalui pertanyaan yang empatik. Misalnya, “Saat kehilangan, adakah perilaku yang tidak diharapkan yang anda terima?” atau “Saat kehilangan, adakah perilaku yang diharapkan anda terima?” Sejumlah pertanyaan sederhana tersebut terkadang menjadi kunci saat pelayanan psikososial yang dilakukan relawan. Oleh karena penting untuk diperhatikan bahwa nasihat-nasihat yang terlalu cepat untuk pulih justru akan melukai, penyintas terkadang hanya perlu untuk dipeluk dan ditemani. Perasaan dihargai atas kehilangan itu yang paling dibutuhkan oleh penyintas, di semua usia. Dalam ilmu psikologi, dalam konteks bencana, tindakan pertama yang harus segera dilakukan adalah pelayanan psikososial yang lebih dikenal dengan Psychological First Aid (PFA). Layanan yang khusus diberikan sesuai dengan kondisi ‘real’ dan sesuai dengan fase yang tengah dihadapi penyintas (Sundari & Meinarno, 2026a; Sundari & Meinarno, 2026b; Sundari & Meinarno, 2026c).

 

Konsep dan Praktik Psychological First Aid

Sejatinya, intervensi saat krisis mental pada penyintas bencana merupakan metode yang wajib diberikan sesegera mungkin dan bersifat jangka panjang (Ehly dalam Akbar dkk., 2022). Model intervensi yang dapat dirujuk adalah model ekuilibrium, model kognitif, model transaksi psikososial, model pengembangan ekologis, dan model kontekstual ekologis. PFA merujuk pada kelima model tersebut. Fokus PFA utamanya diberikan pada individu atau komunitas yang mengalami bencana alam dan berpotensi mengalami masalah kesehatan fisik ataupun mental, yang dimulai sejak beberapa hari usai bencana hingga lebih dari enam bulan lamanya (Sim & Wang, 2021). Prinsip utama PFA adalah Look, Listen,  Link (Connect), Comfort, Protect dan Hope. Selain itu, PFA merupakan sebuah respons yang bersifat manusiawi dan suportif kepada sesama manusia yang sedang menderita atau memerlukan dukungan (Minihan dkk., 2020) tidak terkecuali bagi tenaga medis yang langsung menangani pasien (Sulaiman dkk., 2020). Disini pentingnya pembelajaran dan pelatihan bagi relawan yang mempraktekkan PFA di lapangan (Reschke, Bikadamova & Sarbassova, 2019; Kim & Choi, 2022; Eweida dkk., 2023; Ulya, 2024), terlebih  pelatihan kepada petugas kepolisian atau tentara (sebagai salah satu garda terdepan) untuk memberikan PFA dalam situasi darurat (Kouvatsou dkk., 2022), namun utamanya bagi perawat medis (Sim & Wang, 2021).

 

Respons dan dukungan yang termasuk di dalam kajian PFA tekhnisnya berupa: (1) Memberikan perawatan dan dukungan yang praktis, namun tidak menginterupsi, (2) Mencanangkan kebutuhan dan hal-hal yang harus diperlihatkan, (3) Membantu para penyintas untuk mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, (4) Menjadi pendengar namun tidak memaksa penyintas untuk berbicara, (5) Menghibur penyintas dan membantu agar merasa tenang, (6) Membantu penyintas untuk dapat mengakses informasi terkait layanan sosial, dan (7) Melindungi penyintas dari potensi bahaya selanjutnya (Kim & Han, 2021; Subiyanto & Damayanti, 2022). Secara cermat, ada empat poin pada penyintas yang membutuhkan pertolongan segera, yakni (1) memiliki cedera serius dan mengancam jiwa, hingga membutuhkan pertolongan gawat darurat  medis, (2) merasa sangat terpukul, sehingga mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri atau anak-anaknya, (3) memiliki kemungkinan untuk menyakiti dirinya sendiri, dan (4) memiliki kemungkinan dapat menyakiti orang lain (Subiyanto & Damayanti, 2022).

 

Maka, peran relawan sarjana psikologi dan psikolog sangat penting untuk dapat terlibat secara penuh, sebagai mental health responders. Dibutuhkan serangkaian ketrampilan sederhana yang dilakukan secara sistematis untuk mencegah dan mengurangi dampak negatif dari suatu masalah sekaligus menunjang proses pemulihan psikologis. Sehingga sejumlah besar emosi yang tertahan, dapat diurai dan dipulihkan melalui kehadiran psikolog dan relawan sarjana psikologi yang diharapkan dapat memantik emosi yang tertahan dengan cara yang bermakna. PFA merupakan sejumlah strategi esensial yang diharapkan dan dibutuhkan oleh penyintas. Sangat penting untuk bertindak bijak (tidak gegabah), penuh welas asih, dalam prosedur PFA agar dapat memantik keterbukaan penyintas terlebih dahulu (Zarina dkk., 2022), kemudian dapat dilanjutkan dengan terapi yang sesuai kebutuhan penyintas (Eweida dkk., 2023). Memberikan makna di situasi bencana adalah capaian dukungan layanan psikososial, dimana perlu dipahami bahwa musibah dan bencana, sudah pasti terjadi di negara kita yang secara demografis rawan akan bencana. Maka kita semua perlu mempersiapkan diri.

 

Kesimpulan

Penting untuk diingat bahwa PFA wajib hadir, bahkan sejak awal, saat fase tanggap darurat bencana, hingga masa stabil. Di dalam tiap benak dari relawan penanggulangan bencana ada jiwa PFA, empati secara aktif dalam menyelamatkan jiwa. Oleh karenanya kesiapsiagaan relawan bencana perlu dilatih, agar tangguh, terampil sekaligus manusiawi.

 

Daftar Pustaka

Akbar, Z., Zakiah, E., Medellu, G. I. R. (2022). Psikologi Bencana. Jakarta : Kencana PrenadaMedia Group. ISBN 978-623-384-147-4 eISBN 978-623-384-148-1

Eweida, R. S., Rashwan, Z. I., Khonji, L. M., Shalhoub, A. A. B., & Ibrahim, N. (2023). Psychological first aid intervention: Rescue from psychological distress and improving the pre-licensure nursing students’ resilience amidst COVID-19 crisis and beyond. Scientific African, 19. https://doi.org/10.1016/j.sciaf.2022.e01472

Kim, E. Y., & Han, S. W. (2021). Development of psychological first aid guidelines for people who have experienced disasters. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(20). https://doi.org/10.3390/ijerph182010752

Kim, H., & Choi, Y. J. (2022). A simulation-based nursing education of psychological first aid for adolescents exposed to hazardous chemical disasters. BMC Medical Education, 22(1). https://doi.org/10.1186/s12909-022-03164-6

Kouvatsou, Z., Degermedgoglou, G., Karamagioli, E., & Pikoulis, E. (2022). Psychological First Aid Training of Police Officers. Journal of Police and Criminal Psychology, 37(4), 856–862. https://doi.org/10.1007/s11896-022-09523-9

Minihan, E., Gavin, B., Kelly, B. D., & McNicholas, F. (2020, December 1). COVID-19, mental health and psychological first aid. Irish Journal of Psychological Medicine. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/ipm.2020.41

Reschke, K., Bikadamova, A., & Sarbassova, G. (2019). Psychological first aid. In Traumatic Experiences and Dyslexia (pp. 19–23). Peter Lang AG. https://doi.org/10.17744/mehc.29.1.5racqxjueafabgwp

Sim, T., & Wang, A. (2021). Contextualization of Psychological First Aid: An Integrative Literature Review. Journal of Nursing Scholarship, 53(2), 189–197. https://doi.org/10.1111/jnu.12613

Subiyanto, A., & Damayanti, N. (2022). Pengantar Psikologi Bencana. Yogyakarta. Abhiseka Dipantara.

Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026a). Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Penyintas. Buletin KPIN Vol. 12 No. 55 April 2026 ISSN 2477-1686 diakses dari https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/2013-psikologi-bencana-membangun-ketangguhan-penyintas

Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026b). Membedakan Dampak Penyintas Berdasarkan Bentuk Bencana. Buletin KPIN Vol. 12 No. 57 Mei 2026 ISSN 2477-1686 diakses dari https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/2037-membedakan-dampak-penyintas-berdasar-bentuk-bencana

Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026c). Dampak Psikologis Krisis dan Bencana Pada Kelompok Rentan. Buletin KPIN Vol. 12 No. 59 Juni 2026 ISSN 2477-1686  https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/2052-dampak-psikologis-krisis-dan-bencana-pada-penyintas-kelompok-rentan

Sulaiman, A. H., Sabki, Z. A., Jaafa, M. J., Francis, B., Razali, K. A., Rizal, A. J., … Ng, C. G. (2020). Development of a remote psychological first aid protocol for healthcare workers following the covid-19 pandemic in a university teaching hospital, malaysia. Healthcare (Switzerland), 8(3). https://doi.org/10.3390/healthcare8030228

Ulya, S. R. (2024). Jembatan Harapan: Integrasi Psychological First Aid (PFA) dalam Penanganan Depresi. Buletin K-PIN, Vol. 10 No. 6 Maret 2024. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1493-jembatan-harapan-integrasi-psychological-first-aid-pfa-dalam-penanganan-depresi