ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 57 Mei 2026

Solastalgia dan Psychoterratic Syndromes: Menelaah Luka Batin di Tengah Krisis Bumi

Oleh:

Zakki Ali Hakim

Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

 

Dalam diskursus kesehatan mental kontemporer, narasi tentang healing atau pemulihan diri sering kali dikaitkan dengan aktivitas kembali ke alam. Masyarakat urban berbondong-bondong menuju ruang terbuka hijau, pegunungan, atau pantai dengan harapan dapat mereduksi stres dan memulihkan atensi. Premis ini didukung oleh teori Biophilia dari (Kellert dkk., 2008) yang menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk berafiliasi dengan bentuk kehidupan lain. Namun, terdapat sebuah ironi tragis yang luput dari perhatian. Kita seabagai manusia seringkali mencari kesembuhan pada alam, sementara alam itu sendiri sedang mengalami degradasi yang parah, yang juga sebab dari ulah perilaku manusia.

Situasi ini melahirkan paradoks psikologis, dimana tempat yang seharusnya menjadi sumber ketenangan (sanctuary) justru berubah menjadi sumber penderitaan baru. Ketika individu menyaksikan kerusakan lingkungan seperti banjir yang merendam rumah, hutan yang gundul, atau polusi yang menyesakkan. Reaksi yang dapat muncul bukan sekadar kekecewaan, melainkan juga dapat muncul sebuah distres mendalam yang dalam literatur psikologi lingkungan disebut sebagai Solastalgia dan Eco-anxiety.

 

Istilah Solastalgia dikonseptualisasikan oleh filsuf lingkungan Albrecht (2005) untuk mengisi kekosongan leksikon dalam menggambarkan penderitaan akibat kerusakan lingkungan. Secara teoritis, Albrecht membedakan solastalgia dengan nostalgia. Jika nostalgia adalah melankolia akibat keterpisahan ruang dan waktu dari rumah, solastalgia adalah "rasa rindu akan rumah yang dialami seseorang ketika ia masih berada di rumahnya sendiri" yang dalam konteks ini dipahami sebagai alam yang kita tempati.

 

Kondisi ini terjadi ketika lingkungan fisik tempat seseorang menggantungkan identitas dan rasa amannya mengalami transformasi negatif, baik akibat industri ekstraktif, bencana iklim, atau urbanisasi yang tidak terkendali. Individu merasa terasing, kehilangan rasa kepemilikan (sense of belonging), dan mengalami ketidakberdayaan (powerlessness) karena tidak mampu menghentikan perubahan tersebut. Albrecht mengkategorikan fenomena ini sebagai bagian dari psychoterratic syndromes, yaitu gangguan kesehatan mental yang bersumber langsung dari hubungan manusia dengan bumi atau alam.

 

Berbeda dengan solastalgia yang berakar pada pengalaman masa kini, Eco-anxiety (kecemasan ekologis) lebih berorientasi pada antisipasi masa depan. Coffey (2021) mendefinisikannya sebagai ketakutan kronis akan kehancuran lingkungan yang disertai kekhawatiran mendalam tentang kelangsungan hidup generasi mendatang.

Secara teoritis, kecemasan ini unik karena ancamannya bersifat eksistensial namun tidak pasti. Larionow dkk, (2022) menjelaskan bahwa eco-anxiety melibatkan komponen kognitif yang kuat, seperti ruminasi (berpikir berulang-ulang) tentang bencana iklim, yang pada akhirnya dapat mengganggu konsentrasi dan keberfungsian sosial individu. Hal ini membuktikan bahwa krisis iklim bukan hanya masalah ekologis, tetapi juga krisis kognitif dan emosional.

 

Pertanyaan psikologis yang paling mendesak adalah: Jika ancaman ini begitu nyata, mengapa respons sosial mayoritas justru terasa tampak apatis?

Menelaah hal ini menggunakan perspektif psikodinamika, apatisme dalam konteks ini dapat dipahami sebagai mekanisme pertahanan ego diri (Defense Mechanism). Lifton (1988) memperkenalkan konsep Psychic Numbing yaiu matinya perasaan psikis seseorang untuk dapat merasakan, dalam menjelaskan fenomena ini. Ketika dihadapkan pada ancaman yang skalanya terlalu besar dan melampaui kapasitas koping individu (overwhelming), otak manusia cenderung melakukan "pemutusan" respons emosional untuk melindungi diri dari kepanikan ekstrem.

 

Selain itu, teori Learned Helplessnes oleh (Seligman, 1972) juga menjadi pendukung bagi fenomena ini. Paparan terus-menerus terhadap berita kerusakan lingkungan tanpa adanya solusi sistemik membuat individu merasa bahwa tindakan mereka tidak berarti. Apatisme, dalam hal ini, bukan tanda ketidakpedulian moral, melainkan manifestasi dari keputusasaan yang terinternalisasi ke dalam diri mereka.

Dampak klinis dari fenomena ini tidak dapat diabaikan. Tinjauan yang dilakukan oleh (Sandquist dkk., 2025) menegaskan adanya korelasi teoritis yang kuat antara solastalgia dengan gejala depresi dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Kehilangan lingkungan bukan sekadar kehilangan properti, melainkan juga kehilangan ekstensi diri (loss of extended self).

 

Secara keseluruhan, fenomena Solastalgia dan Eco-anxiety memberikan perspektif penyeimbang yang penting dalam diskursus psikologi lingkungan. Jika aktivitas di alam bebas terbukti memiliki dampak terapeutik dan restoratif bagi kesehatan mental, maka sebaliknya, degradasi lingkungan juga terbukti memiliki dampak destruktif yang memicu penderitaan batin. Dinamika ini menegaskan bahwa kesehatan mental manusia dan kesehatan bumi adalah dua entitas yang terintegral dan tidak terpisahkan.

 

Pemahaman mengenai luka batin akibat kerusakan ekologis ini hadir bukan sekadar untuk menambah daftar diagnosis baru, melainkan untuk memperkaya wawasan kita tentang betapa fundamentalnya keterhubungan manusia dengan alam. Pengakuan terhadap respons emosional ini menjadi validasi bahwa kepedulian terhadap lingkungan sejatinya adalah bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan psikologis diri kita sendiri.

 

Referensi:

Albrecht, G. (2005). ‘Solastalgia’ A New Concept in Health and Identity.

Coffey, Y. (2021). Understanding Eco-anxiety: A Systematic Scoping Review of Current Literature and Identified Knowledge Gaps.

Kellert, S. R., Heerwagen, J. H., & Mador, M. L. (2008). Biophilic Design.

Larionow, P., Sołtys, M., Izdebski, P., Mudło-Głagolska, K., Golonka, J., Demski, M., & Rosińska, M. (2022). Climate Change Anxiety Assessment: The Psychometric Properties of the Polish Version of the Climate Anxiety Scale. Frontiers in Psychology, 13, 870392. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.870392

Lifton, R. J. (1988). Understanding the Traumatized Self. Dalam J. P. Wilson, Z. Harel, & B. Kahana (Ed.), Human Adaptation to Extreme Stress (hlm. 7–31). Springer US. https://doi.org/10.1007/978-1-4899-0786-8_1

Sandquist, A. V., Biele, L., Ehlert, U., & Fischer, S. (2025). Is solastalgia associated with mental health problems? A scoping review. Open Access.

Seligman, M. E. P. (1972). Learned Helplessness.