ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 57 Mei 2026

 

From Woman to Mother: Dinamika Psikologis dalam Proses Matresensi

Oleh:
Suci Asysyura

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

 

“Saya sekarang ialah seorang ibu, apakah hidup saya masih bisa seperti dulu?”

“Saya merasa bahagia dan bersyukur, tetapi mengapa di saat yang sama juga merasakan kekosongan yang sulit dijelaskan?”

 

Pertanyaan-pertanyaan ini kerap muncul dari ibu baru yang sedang menjalani hari-hari awal bersama bayinya.  Di satu sisi, kehadiran bayi menumbuhkan cinta yang mendalam dan rasa syukur. Namun, di sisi lain muncul kelelahan, kebingungan, bahkan perasaan kehilangan sebagian diri. Sayangnya, pengalaman emosional ini sering disalahpahami sebagai tanda kelemahan atau ketidaksiapan.

 

Matresensi sebagai Proses Perkembangan

Dalam literatur kesehatan mental perinatal, pembahasan seringkali berfokus pada depresi postpartum atau kecemasan perinatal (Athan, 2024). Padahal, tidak semua gejolak emosi setelah melahirkan adalah gangguan, ada proses psikologis yang lebih mendasar dan normatif yang sedang terjadi. Menjadi ibu bukan sekedar peristiwa biologis setelah melahirkan, melainkan sebuah transformasi besar yang menyentuh identitas, emosi, relasi, dan cara memaknai diri. Di fase ini, seorang ibu perlahan belajar memahami dirinya kembali saat ia bergulat dengan peran dan tanggungjawab baru yang mengubah cara ia merasakan, memaknai, dan menyadari hidupnya (Sidesinger, 2024). Proses transformasi ini dikenal sebagai matresensi. Matresensi merujuk pada proses transisi ketika seorang perempuan menjadi ibu, sebuah perubahan yang tidak hanya soal melahirkan secara biologis, tetapi juga berkaitan dengan perubahan identitas, emosi, peran sosial serta perkembangan psikososial yang kompleks (Raphael, 1975, dikutip dalam Ghadimi & Mccormack, 2025).

Jika ditinjau melalui perspektif perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik

 

Erikson (1968, dikutip dalam Schultz & Schultz, 2017) kehidupan manusia dipahami sebagai rangkaian tahapan yang ditandai oleh krisis normatif, yaitu masa penyesuaian yang mendorong pertumbuhan. Seperti halnya masa remaja yang ditandai oleh pencarian identitas, matresensi dapat dipahami sebagai fase reorganisasi identitas dewasa. Perempuan tidak hanya belajar merawat bayi, tetapi juga menegosiasikan ulang makna dirinya yaitu sebagai individu, pasangan, profesional dan kini sebagai ibu.  Pada tahap intimacy vs isolation, kedekatan emosional menjadi kebutuhan utama. Dalam konteks matresensi, kedekatan ini tidak hanya terjalin dengan bayi, tetapi juga diuji dalam relasi dengan pasangan dan keluarga. Seringkali perubahan ritme hidup dan pembagian tanggungjawab memunculkan ketegangan baru. Penelitian yang dilakukan oleh Saeieh dkk., (2017) menunjukkan bahwa dukungan pasangan dan lingkungan sosial berperan sebagai faktor protektif terhadap kesejahteraan psikologis ibu dalam masa transisi ini. Sebaliknya, ketika pengalaman emosional ibu diabaikan dengan memberi respons seperti “kamu terlalu sensitif” atau “ ah,  semua ibu juga begitu” maka proses integrasi identitas dapat terasa lebih berat dan memunculkan perasaan terasing.

 

Dinamika Psikologis: Antara Kehilangan dan Integrasi

Salah satu dinamika yang terjadi dalam proses matresensi ialah pengalaman ambivalensi. Seorang ibu dapat merasakan cinta yang intens sekaligus kelelahan yang mendalam. Ia bisa merasa sangat terhubung dengan bayinya, namun pada waktu tertentu merindukan ruang personal yang dulu dimilikinya. Pengalaman ini bukan kontradiksi, melainkan bagian dari identitas yang sedang berlangsung. Perasan seperti “kehilangan diri”  bukan berarti identitas lama benar-benar hilang, namun yang terjadi ialah proses restrukturisasi prioritas, nilai, dan perempuan. Seorang perempuan yang sebelumnya fokus dalam karir, akan mulai mempertanyakan ulang orientasi hidupnya ketika waktu dan energinya terpusat pada kebutuhan bayi. Proses ini dapat memunculkan kebingungan, tetapi juga memberikan ruang untuk pertumbuhan menuju versi diri yang lebih matang (Athan, 2024).

 

Kesadaran akan matresensi membantu kita untuk menggeser cara pandang bahwa seorang ibu sedang berada dalam fase pertumbuhan psikologis. Bagi ibu, menyadari perasaan yang ambivalen ini ialah bagian dari perkembangan yang dapat membantu membangun penerimaan diri. Memberi ruang untuk beristirahat, meminta bantuan, serta berbicara jujur tentang perasaan merupakan bentuk adaptasi yang sehat. Lalu, bagi pasangan dan keluarga dukungan bukan hanya soal membantu mengurus bayi, tetapi juga menghadirkan validasi emosional, dengan mendengarkan tanpa menghakimi dan berbagi tanggungjawab dapat membantu ibu merasa tidak sendirian dalam proses transformasinya.

 

Dengan demikian, menjadi ibu bukanlah kehilangan diri yang lama, melainkan suatu proses bertumbuh menuju versi diri yang lebih matang. Ketika seorang perempuan memahami keibuannya sebagai fase perkembangan, ia tidak lagi bertanya, “Apa yang salah dengan diriku?” Melainkan, “Apa yang sedang bertumbuh dalam diriku, dan bagaimana aku dapat menjalaninya dengan penuh kesadaran?”

 

Referensi :

Athan, A. M. (2024). A critical need for the concept of matrescence in perinatal psychiatry. Frontiers in psychiatry. June, 1–7. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2024.1364845

Ghadimi, T. R., & Mccormack, C. (2025). Executive functioning in matrescence and implications for perinatal depression. Frontiers in psychiatry. September, 1–10. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2025.1663017

Saeieh, S. E., Rahimzadeh, M., & Yazdkhasti, M. (2017). Perceived social support and maternal competence in primipara women during pregnancy and after childbirth. International journal of community based nursing and midwifery 5(4), 408–416.

Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2017). Theories of personality (11th ed.). Cengage Learning.

Sidesinger, T. (2024). Maternal Excess: Pathways Through Overwhelm to Transformation in the Perinatal Period. Studies in Gender and Sexuality25(2), 93-103.