ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 57 Mei 2026

 

Lebih dari Sekadar Menjadi Kolektor Data

 

Oleh:

Idhamsyah Eka Putra

Falkultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia

 

Pada tahun 2017, untuk pertama kalinya saya berkolaborasi dengan peneliti dari University of Oxford, dalam tim yang dipimpin oleh Prof. Harvey Whitehouse, yang saat itu menjabat sebagai Director of the Institute of Cognitive and Evolutionary Anthropology. Awalnya, saya sempat bertanya-tanya mengapa beliau memilih berkolaborasi dengan saya, bukan dengan antropolog di Indonesia yang juga dapat saya rekomendasikan. Namun, kemudian saya memahami bahwa beliau memang sedang mencari kolaborasi dengan psikolog sosial.

 

Kolaborasi pertama kami dimulai pada tahun 2017, dengan fokus pada isu identitas, agama, dan tindakan ekstrem. Kerja sama ini berlanjut pada tahun 2019, ketika kami melakukan riset mengenai memori dan peristiwa traumatis, dengan kasus spesifik pada masyarakat Hindu Bali dalam mengingat peristiwa Bom Bali 2002. 

 

Dalam kolaborasi tersebut, saya memiliki satu tujuan: ingin menunjukkan bahwa peneliti Indonesia tidak hanya berperan sebagai kolektor data—yang kontribusinya sering kali terbatas dalam penulisan—melainkan juga mampu memberikan kontribusi intelektual yang signifikan dalam riset. Untungnya, hal ini dapat kami wujudkan, tentunya melalui kerja sama yang solid dengan tim peneliti Indonesia lainnya. 

 

Dari empat publikasi hasil kolaborasi tersebut—dua dari gelombang pertama dan dua dari gelombang kedua—publikasi awal pada masing-masing gelombang justru dipimpin oleh peneliti Indonesia sebagai kontributor utama. Keempat publikasi tersebut adalah:

  • The Tragedies that Bind Us: Shared Memories, Identity Fusion, and Moral Concern among Balinese Hindus following the 2002 Bali Bombings  (Revach et al., 2026)
  • Bali Bombing’s Collective Memories and Past Traumatic Events among Balinese (Lestari et al., 2026)
  • Exploring the Pathways between Transformative Group Experiences and Identity Fusion (Kavanagh et al., 2020)
  • The Role of Religious Fundamentalism and Tightness–Looseness in Promoting Collective Narcissism and Extreme Group Behavior (Yustisia et al., 2019)

Pengalaman ini menunjukkan bahwa secara kapasitas akademik, peneliti Indonesia tidak kalah dengan peneliti dari negara dengan ekosistem riset yang lebih mapan. Bahkan, dalam praktiknya, lewat pengalaman saya mengamati bahwa para peneliti internasional pun menghadapi tantangan yang sama dalam proses publikasi. Akan tetapi, ketika kita, walaupun berasal dari tempat yang ekosistem risetnya belum mapan, namun memiliki ide yang kuat dan analisis yang tajam serta mampu memberikan kontribusi teoretis yang jelas, kita justru dapat berada di garis depan dalam menghasilkan publikasi ilmiah.

 

Namun demikian, sayangnya dalam praktiknya di Indonesia, masih ditemukan kasus dimana peneliti asing cenderung memanfaatkan peneliti lokal sebatas untuk pengumpulan data. Akibatnya, ketika hasil penelitian dipublikasikan, kontribusi peneliti Indonesia sering kali minim, bahkan tidak jarang tidak diakui secara layak. Salah satu contoh adalah penemuan spesies bunga Rafflesia di Sijunjung, Sumatera Barat, hasil kolaborasi antara Oxford Botanic Garden dan tim peneliti Indonesia. Dalam kasus ini, kontribusi peneliti Indonesia sempat tidak dicantumkan oleh ketua tim dari Oxford, Chris Thorogood (lihat Dhanya, 2025). Pola ini berpotensi akan terus berulang jika peneliti Indonesia tidak berusaha keluar dari pola pikir sebagai “pembantu riset” dan mulai menempatkan diri sebagai mitra intelektual yang setara. 

 

Apa yang kami lakukan mungkin belum menjadi praktik umum, yaitu menjadi kolaboratif aktif dan kreatif. Namun, justru karena itu, pada tahun 2019 saya diundang untuk bergabung sebagai research affiliate di University of Oxford. Undangan tersebut diberikan bukan semata karena kontribusi saya dalam pengumpulan data, tetapi karena keterlibatan dalam pengembangan ide dan analisis yang signifikan. 

 

Lewat pencapaian akademis juga lah, saya diundang untuk membuat tulisan komentar dari buku monographnya Harvey mengenai manusia sebagai ritual animal (Whitehouse, 2022). Ini adalah undangan selektif, dan saya diundang karena dianggap bisa memberikan penilaian hasil kajian secara kritis yang dipaparkan Harvey dalam bukunya. Tulisan komentar tersebut telah dipublikasikan di Journal for the Cognitive Science of Religion. Di dalam tulisan tersebut saya membahas bahwa suatu ritual sudah menjadi kebiasaan dan bahkan bahkan dari habits, maka itu tidak lagi urusan religiusitas tetapi sesuatu kebiasaan yang sudah embedded dengan tubuh dan identitas.

 

Di sisi lain, pengalaman saya dalam melakukan riset dan mempublikasikannya juga menunjukkan bahwa proses publikasi ilmiah di jurnal bereputasi internasional tidaklah mudah. Meskipun saya telah memiliki lebih dari 50 publikasi yang terindeks Scopus, saya tetap merasakan bahwa proses publikasi semakin ketat dan selektif. Namun demikian, saya memandang proses ini sebagai bagian penting dalam memastikan kualitas riset—terutama karena banyak isu yang saya teliti bersifat sensitif. Oleh karena itu, saya merasa perlu memastikan bahwa kerangka teoretis dan metodologi yang digunakan benar-benar tepat sebelum temuan tersebut disampaikan kepada publik akademik.

 

Dorongan untuk mempublikasikan riset ini bagi saya bukan sekadar tuntutan, melainkan kebutuhan intelektual. Sayangnya, dalam konteks Indonesia, publikasi ilmiah masih sering dipandang sebagai beban atau tekanan. Jika pola pikir ini terus dipertahankan—bahwa riset adalah beban dan bahwa peneliti Indonesia lebih inferior dibandingkan peneliti asing—maka kita akan terus terjebak dalam peran sebagai kolektor data.

 

Saya melihat, selama peneliti Indonesia tidak berani menempatkan diri sebagai produsen pengetahuan, bukan sekadar penyedia data, maka posisi kita dalam lanskap akademik global akan tetap marginal.

 

Referensi:

Dhanya, D. (2025, 29 November). Oxford Akhirnya Cantumkan Nama Peneliti RI yang Ikut Cari Rafflesia Hasseltii. Tempo. https://www.tempo.co/sains/oxford-akhirnya-cantumkan-nama-peneliti-ri-yang-ikut-cari-rafflesia-hasseltii-2094180

Kavanagh, C., Kapitany, R., Putra, I. E., & Whitehouse, H. (2020). Exploring the pathways between transformative group experiences and identity fusion. Frontiers in Psychology. http://dx.doi.org/10.3389/fpsyg.2020.01172

Lestari, M. D., Putra, I. E., Kavanagh, C., Muzzulini, B., Swandi, N., Harumi, B., & Whitehouse, H. (2026, accepted). Bali bombing’s collective memories and past traumatic events among Balinese. Peace & Conflict: Journal of Peace Psychology. https://doi.org/10.1037/pac0000811

Putra, I. E. (2022). Representing group rituals: Their embeddedness and the vulnerability of fanatic members to extreme behaviors. Journal for the Cognitive Science of Religion, 8(2), 122–128. https://doi.org/10.1558/jcsr.22038

Revach, D., Kavanagh, C., Muzzulini, B., Putra, I. E., Erikha, F., Swandi, N., Kapitany, R., Whitehouse, H. (2026). The Tragedies that Bind Us: Shared memories, identity fusion, and moral concern among Balinese Hindus following the 2002 Bali Bombings. Group Process & Intergroup Relations. https://doi.org/10.1177/13684302261419396

Whitehouse, H. (2022). The ritual animal: Imitation and cohesion in the evolution of social complexity. Oxford University Press

Yustisia, W., Putra, I. E., Rufaedah, A., Whitehouse, A., & Kavanagh, C. (2019). The Role of religious fundamentalism and tightness-looseness in promoting collective narcissism and extreme group behavior. Journal of Psychology of Religion and Spirituality. http://dx.doi.org/10.1037/rel0000269