ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 57 Mei 2026
Membedakan Dampak Penyintas Berdasar Bentuk Bencana
Oleh:
Arie Rihardini Sundari, Universitas Persada Indonesia YAI
Eko A Meinarno, Universitas Indonesia
Pengantar
Identifikasi secara menyeluruh terhadap penyintas bencana, baik secara fisik ataupun psikologis, akan menggambarkan kebutuhan masing-masing penyintas secara spesifik. Pada akhirnya dapat diberikan pelayanan medis ataupun pendampingan kesehatan mental yang tepat dan akurat, demi tercapainya resiliensi individu dan komunitas (lihat Sundari & Meinarno, 2026a). Oleh karenanya, dalam ruang lingkup psikologi bencana, perlu untuk menengok sejenak faktor penyebab terganggunya kondisi psikologis penyintas bencana, baik alam maupun non alam. Diantaranya adalah adanya pengaruh dari peristiwa bencana yang menakutkan dan mengancam keselamatan jiwa yang bahkan memberi trauma bagi penyintas (Vazquez dkk., 2021; Williams & Cartwright, 2021; Onyedire dkk., 2017 dalam Güzel, Tekin & Yamaç, 2024). Selain itu rasa kehilangan orang-orang yang disayangi dan harta benda yang dimiliki sebelum terjadinya bencana, berdampak pada luka batin yang tidak kunjung pulih pasca bencana (Chen & Tang, 2021). Penyebab lainnya adalah kehilangan mata pencaharian dan sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar di fase awal bencana (Schrauf & de Victoria Rodríguez, 2024). Pada fase-fase berikutnya, penyintas merasakan kesulitan beradaptasi dengan baik akibat adanya relokasi akibat bencana yang membuat penyintas mengalami peningkatan stres (DeWolfe, 2000).
Dampak Psikologis pada Penyintas Bencana Alam
Karakter penting dari bencana alam adalah terjadi kerusakan pada lingkungan fisik yang nyata. Misalnya banjir yang menggenangi sebuah wilayah pemukiman. Para korban harus meninggalkan rumah/tempat tinggal dengan keadaan kedinginan dan takut tenggelam. Belum lagi kondisi meninggalkan rumah artinya meninggalkan harta. Harta dapat rusak, hilang atau hancur, padahal harta itu tidak mudah untuk didapatkan.
Dampak psikologis yang dialami penyintas akibat bencana alam antara lain terganggu berbagai fungsi psikologis individu yang mencakup fungsi pikiran, perasaan, perilaku, dan spiritual. Selain itu gejala yang umumnya muncul seperti shock, sering teringat peristiwa yang dialami, mimpi buruk, sulit berkonsentrasi, cemas, waspada secara berlebihan, serta merasa tidak aman, kesedihan yang mendalam, merasa hampa, menutup diri, enggan membangun hubungan sosial, menghindari hal-hal yang terkait dengan peristiwa yang dialami, merasa tidak berdaya, selalu ingin dekat dengan orang yang dikasihi, dan menyalahkan diri sendiri, bahkan hingga memiliki keinginan untuk bunuh diri (Subiyanto & Damayanti, 2022; Al Boukhary dkk., 2024; Aji, 2024). Dampak psikologis tersebut tidak hanya dialami oleh para penyintas yang selamat, namun sangat memungkinkan pula dialami oleh para pekerja kemanusiaan yaitu tenaga kesehatan, relawan medis atau relawan psikologis (Sulaiman dkk., 2020; Corey dkk., 2021; Khrisnanda & Shanti, 2022; Sundari & Meinarno, 2026a). Di sisi lain, peluang untuk dapat kembali hidup normal terbuka. Bencana alam tidak berlangsung selamanya. Ada periodenya, ada rentang waktunya. Ada kalanya gangguan berbagai fungsi psikologis pada diri penyintas mereda dan berganti dengan keberfungsian diri yang semestinya dengan berbagai upaya, baik dari dalam diri sendiri maupun bantuan psikososial relawan (Irawan, 2013; Manggala, 2018; Sundari & Meinarno, 2026a; Sundari & Meinarno, 2026b).
Dampak Psikologis pada Penyintas Bencana Non-alam
Bagaimana dengan bencana non-alam? Bencana non-alam umumnya terjadi justru karena ulah manusia itu sendiri. Contohnya kebakaran pemukiman karena arus pendek listrik atau ledakan reaktor nuklir (Mumpuni & Meinarno, 2024), atau peperangan (seperti di Ukraina dan Palestina saat tulisan ini dibuat). Para korban jelas sama sekali tidak dapat menduga bahwa dirinya menjadi korban (terkena serpihan bom saat sudah berlindung).
Sementara itu, gambaran penyebab stres yang dialami penyintas bencana non-alam adalah para penyintas bergulat dengan kekerasan manusia yang disengaja dan kesalahan manusia sebagai agen penyebab (DeWolfe, 2000). Persepsi bahwa peristiwa tersebut dapat dicegah, rasa pengkhianatan oleh sesama manusia (di bawah kendali manusia dan niat buruk), menyalahkan dan marah yang berfokus pada pihak luar, serta litigasi yang berkepanjangan selama bertahun-tahun dikaitkan dengan periode pemulihan yang panjang dan seringkali tidak stabil. Hal lain, misalnya peristiwa teknologi seperti kecelakaan nuklir atau tumpahan racun merupakan bencana "diam" dan tidak menunjukkan kerusakan visual atau memiliki "titik terendah" yang dapat diamati.
Akibat tidak terlihat dan senyap, ada konsekuensi yang datang belakangan misal dalam hal kesehatan. Munculnya peningkatan risiko kanker dan cacat lahir, yang berlanjut selama beberapa dekade (Green & Solomon, 1995; Berren dkk., 1989 dalam DeWolfe, 2000). Periode dampak yang berkepanjangan tanpa akhir yang jelas ini, menghambat proses pemulihan (Kim & Choi, 2022). Para penyintas menderita dampak stres dan kecemasan kronis akibat periode antisipasi, ketakutan, dan ancaman yang berkepanjangan (Davidson & Baum, 1994). Dengan demikian, korban memiliki kecemasan dengan rentang waktu yang lebih lama, ketidakpastian, atau malah muncul ide-ide melukai diri yang besar di waktu-waktu mendatang.
Penutup
Setidaknya terdapat dua bentuk bencana, bencana alam dan non-alam. Artikel ini secara garis besar menjelaskan adanya dampak yang berbeda dari penyintas bencana berdasar bentuk bencananya. Hal yang dihadapi penyintas bukan semata bencana sesaat, tapi ada unsur waktu dan dampak yang ternyata berbeda dari kedua bentuk bencana. Sangat diperlukan kajian dan penelitian yang serius atas hal ini karena perkembangan manusia dan tingkah lakunya sering “sering mengundang” datangnya bencana. Oleh karena itu psikologi perlu bersiap menerima keadaan yang menantang ini.
Daftar Pustaka:
Aji, K. L. (2024). Analisis Upaya Mitigasi Desa Pasca Kejadian Bencana di Indonesia. Tesis Jenjang Magister Program Studi Manajemen Bencana Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.
Al Boukhary, R., Hallit, R., Postigo, A., Malaeb, D., Dabbous, M., Sakr, F., … Obeid, S. (2024). The effect of gratitude on death anxiety is fully mediated by optimism in Lebanese adults following the 2023 earthquake. BMC Psychology, 12(1). https://doi.org/10.1186/s40359-023-01509-4
Chen, C., & Tang, S. (2021). Profiles of grief, post-traumatic stress, and post-traumatic growth among people bereaved due to COVID-19. European Journal of Psychotraumatology, 12(1). https://doi.org/10.1080/20008198.2021.1947563
Corey, J., Vallières, F., Frawley, T., Brún, A. D., Davidson, S., & Gilmore, B. (2021, February 2). A rapid realist review of group psychological first aid for humanitarian workers and volunteers. International Journal of Environmental Research and Public Health. MDPI AG. https://doi.org/10.3390/ijerph18041452
Davidson, L. M. & Baum, A. (1994). Psychophysiological Aspects of Chronic Stress Following Trauma. In: Ursano, R. J., McCaughey, B. G., & Fullerton, C. S. (Eds.) Individual and Community Responses to Trauma and Disaster: The Structure of Human Chaos. Great Britain: Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511570162
DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual For Mental Health and Human Service Workers in Major Disasters, 2nd Ed. Washington : Department of Health and Human Services Substance Abuse and Mental Health Services Administration Center for Mental Health Services.
Güzel, A., Tekin, Ç. S., & Yamaç, S. U. (2024). Exploring the impacts of perceived locus of control on post-traumatic stress disorder among disaster survivors: A systematic review. J Psychiatr Ment Health Nurs,31:776–787DOI: 10.1111/jpm.13030
Irawan, MA. (2013). Resiliensi pada remaja suku Jawa yang menjadi penyintas bencana erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Skripsi Sarjana. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tidak dipublikasikan.
Kim, H., & Choi, Y. J. (2022). A simulation-based nursing education of psychological first aid for adolescents exposed to hazardous chemical disasters. BMC Medical Education, 22(1). https://doi.org/10.1186/s12909-022-03164-6
Khrisnanda, F., & Shanti, T. I. (2022). Psychological Distress and Dyadic Coping in the Context of Marital Satisfaction of Indonesian Search and Rescue (SAR) Rescuers: A Mixed-Method Study. ANIMA Indonesian Psychological Journal, Vol. 37, No. 2, 305-353. https://doi.org/10.24123/aipj.v37i2.4887
Manggala, AR. (2018). Penggunaan Empowerment community setting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat (community disaster risk awareness) dan ketangguhan (resilience) terhadap risiko bencana kebakaran. Tesis. Fakultas Psikologi Program Studi Magister Psikologi Terapan Peminatan Intervensi Sosial Universitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.
Mumpuni, I. D., & Meinarno, E. A. (2024). Bencana dalam Kacamata Psikologi. Buletin KPIN. Vol. 10 No. 18 September 2024. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1612-bencana-dalam-kacamata-psikologi.
Schrauf, R.W., de Victoria Rodríguez, P. C. L. (2024). Disaster solidarity and survivor ethics: a case study of Hurricane María in Puerto Rico. Disasters. 2024 Jan;48(1):e12593. doi: 10.1111/disa.12593. Epub 2023 Aug 21. PMID: 37227427.
Subiyanto, A., & Damayanti, N. (2022). Pengantar Psikologi Bencana. Yogyakarta. Abhiseka Dipantara.
Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026a). Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Penyintas. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 56 April 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/2030-apakah-struktur-berpikir-bangsa-indonesia-perlu-direkonstruksi
Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026b). Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Mental Sejak Bangku Studi Sarjana Psikologi. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 50 Januari 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1959-psikologi-bencana-membangun-ketangguhan-mental-sejak-bangku-studi-sarjana-psikologi
Sulaiman, A. H., Sabki, Z. A., Jaafa, M. J., Francis, B., Razali, K. A., Rizal, A. J., … Ng, C. G. (2020). Development of a remote psychological first aid protocol for healthcare workers following the covid-19 pandemic in a university teaching hospital, malaysia. Healthcare (Switzerland), 8(3). https://doi.org/10.3390/healthcare8030228
Vazquez, C., Valiente, C., García, F. E., Contreras, A., Peinado, V., Trucharte, A., & Bentall, R. P. (2021). Post-Traumatic Growth and Stress-Related Responses During the COVID-19 Pandemic in a National Representative Sample: The Role of Positive Core Beliefs About the World and Others. Journal of Happiness Studies, 22(7), 2915-2935. https://doi.org/10.1007/s10902-020-00352-3
Williams, S., & Cartwright, T. (2021). Post-traumatic stress, personal risk and post-traumatic growth among UK journalists. European Journal of Psychotraumatology, 12(1). https://doi.org/10.1080/20008198.2021.1881727
