ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 57 Mei 2026
Single Parent, Childfree, dan Makna Baru tentang Keluarga
Oleh:
Gloria Stephani Barus
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Keluarga selama berabad-abad dipahami dalam satu definisi yang baku; sepasang suami istri yang menikah secara sah dan dikaruniai anak-anak. Namun realitas sosial hari ini menggugat definisi tersebut secara fundamental. Di berbagai penjuru dunia, termasuk indonesia, kita menyaksikan kemunculan dua fenomena yang semakin menarik perhatian para psikolog; single parent (orangtua tunggal) dan childfree (Pilihan tidak memiliki anak). Keduanya bukan sekedar tren demografis biasa; keduanya mencerminkan pergeseran mendalam tentang bagaimana, manusia memaknai keluarga, identitas, dan kebahagiaan. Di Indonesia tercatat lebih dari 438.168 kasus perceraian pada tahun 2025 sebuah angka yang mengidentifikasikan betapa luasnya populasi orangtua tunggal yang tengah berjuang membesarkan anak-anaknya seorang diri (Badan Pusat Statistik, 2025). Di sisi lain, survei global menunjukkan bahwa sekitar 10-20% orang dewasa di dunia secara sukarela memilih untuk tidak memiliki anak, dan tren ini terus meningkat di negara-negara urban, termasuk Indonesia (Neal & Neal, 2025).
Menjadi orangtua tunggal adalah perjalanan yang sarat tantangan psikologis. Penelitian Gupta & Kashyap (2020) menegaskan bahwa tumbuh dalam keluarga single parent merupakan faktor penentu penting bagi kesejahteraan psikologis anak. Sementara itu, studi yang diterbitkan dalam journal of education and health Promotion (Kareem et al., 2024) mengungkapkan bahwa ketidiaan tunggal, termasuk tingginya risiko depresi dan kecemasan. Penelitian resiliensi keluarga Indonesia (Qonita et al., 2025) menemukan bahwa dalam keluarga pasca perceraian di perkotaan, terjadi reorganisasi hubungan orangtua dan anak yang dipengaruhi kuat oleh faktor budaya, termasuk tekanan sosial dan stigma berbasis gender yang secara tidak proporsional membebani para orangtua tunggal. Namun dibalik semua tantangan ini, terdapat ketangguhan yang luar biasa: banyak orang tua tunggal,dengan strategi coping spiritual yang kuat dan jaringan sosial yang adaptif, mampu membangun keluarga yang hangat, stabil, dan penuh kasih sayang.
Disisi lain, fenomena childfree, pilihan sadar untuk tidak memiliki anak yang masih kerap disalahpahami dan stigmatisasi oleh masyarakat.
Menurut Blackstone & Stewart (2012) dalam kajian komprehensif mereka menjelaskan bahwa keputusan untuk tetap childfree merupakan hasil dari pertimbangan yang kompleks, melibatkan nilai-nilai personal, kebebasan karier, dan kesadaran akan tanggung jawab pengasuhan. Studi (Rivera & Logan, 2024) yang dipublikasikan dalam The Journal of Public and Professional Sociology menemukan bahwa individu yang mengidentifikasi diri sebagai childfree menunjukkan tingkat agens yang tinggi dalam mengelola identitas mereka, meski seringkali berhadapan dengan ekspektasi kultural dan sanksi sosial yang kuat. Mereka tidak menolak keluarga tetapi mereka hanya mendefinisikan ulang apa artinya membangun sebuah kehidupan yang bermakna. Dalam konteks Indonesia, penelitian (Daulay, 2023) yang diterbitkan dalam International Journal of Innovative Research and Scientific Studies mengungkap bahwa pasangan muda Indonesia yang memilih childfree menghadapi tekanan luar biasa dari keluarga besar dan masyarakat, dan keputusan mereka seringkali bukan penolakan terhadap nilai-nilai keluarga, melainkan respons rasional terhadap tekanan ekonomi dan aspirasi gaya hidup.
Dari perspektif psikologi sosial, baik single parent maupun individu childfree sama-sama rentan terhadap bias negatif dan lingkungan sosial. (Denson et al., 2025) penelitian mereka yang dipublikasikan di The Journal of Social Psychology menunjukkan bahwa individu childfree cenderung dinilai lebih negatif oleh masyarakat dan dianggap egois, materialistis, bahkan tidak sepenuhnya manusiawi, karena mereka dipersepsikan melanggar norma pronatalis. Sementara orangtua tunggal, khususnya ibu tunggal, menghadapi stigma ganda: stigma atas status pernikahannya sekaligus beban ganda peran sebagai pencari nafkah dan pengasuh anak. (Sahib & Aldoori, 2023) dalam penelitian di International Journal of Body, Mind and Culture mengonfirmasi bahwa remaja dari keluarga orangtua tunggal menghadapi tantangan perkembangan yang signifikan di ranah psikologis, perilaku, emosional, dan akademis. Stigma sosial yang dialami oleh kedua kelompok ini bukanlah sekadar ketidaknyamanan; ia merupakan sumber stres yang nyata yang dapat mengganggu kesejahteraan psikologis dan harga diri.
Lantas, apakah keluarga masih memiliki makna yang relevan di tengah perubahan ini? Jawabannya adalah ya, namun maknanya kini lebih kaya dan lebih inklusif dari sebelumnya. Menurut Jensen et al., (2025) fungsi keluarga yang menonjol serta faktor konseptual yang mempengaruhinya dari perspektif anggota keluarga sangat penting untuk mendukung keterlibatan dan kesejahteraan anggota keluarga sepanjang siklus kehidupan. Definisi ini dengan tegas melepaskan keluarga dari keterbatasan biologis dan legal semata. Menurut Wagner et al.,(2025) menegaskan bahwa yang benar-benar menentukan kesejahteraan anak bukanlah struktur keluarganya, melainkan kualitas proses keluarga, kehangatan, komunikasi, dan konsistensi pengasuhan. Penelitian yang dilakukan oleh Watling et al., (2023) menemukan bahwa individu childfree umumnya memutuskan pilihan ini sejak dini dalam kehidupannya dan menjalani kehidupan yang bermakna dan memuaskan, menafikan anggapan bahwa tidak memiliki anak berarti hidup yang tidak lengkap.
Bagi psikolog dan praktisi kesehatan mental Indonesia, fenomena ini menghadirkan tugas yang penting. Pertama, kita perlu melepaskan diri dari normal keluarga tunggal yang kaku dan membangun kompetensi untuk bekerja dengan bergam konfigurasi keluarga secara inklusif dan kompeten (Ellis et al., 2023). Kedua, orang tua tunggal membutuhkan intervensi psikologis yang berfokus penguatan resiliensi,jaringan dukungan sosial, dan pengelolaan stres ganda peran. Sia & Aneesh (2024) dalam International Journal of Psychology menemukan bahwa kompetensi sosial dan regulasi emosi berperan signifikan dalam memoderasi dampak negatif struktur keluarga orangtua tunggal terhadap kesejahteraan remaja. Ketiga, individu yang memilih childfree berhak mendapatkan ruang konseling yang non-judgmental, yang menghormati otonomi reproduktif mereka. Psikolog perlu memahami bahwa pilihan ini bukan patologi, melainkan ekspresi dari identitas dan nilai-nilai hidup seseorang. Akhirnya, makna baru tentang keluarga bukanlah ancaman bagi nilai-nilai sosial kita; ia adalah undangan untuk menjadi lebih manusiawi, lebih empatik, dan lebih bijaksana dalam memahami keberagaman cara manusia mencintai dan saling merawat satu sama lain.
Referensi :
Badan Pusat Statistik. (2025). Nikah dan Cerai Menurut Provinsi (kejadian), 2025 (p. 1).
Blackstone, A., & Stewart, M. D. (2012). DigitalCommons @ UMaine Choosing to be Childfree : Research on the Decision Not to Parent.
Daulay, H. (2023). Psychology of newly married couples in Indonesia : Is it possible to choose childfree by choice or face the gossip of society and family ? 6(11674), 1023–1031. https://doi.org/10.53894/ijirss.v6i4.2260
Denson, N., Ferreira, D., & Denson, T. F. (2025). Evidence of a negative bias toward people who are childfree by choice. 4545. https://doi.org/10.1080/00224545.2025.2573719
Ellis, K. R., Nguyen, A. W., Miller, E. K., Zhou, Y., & Chatters, L. M. (2023). Advancing Family-Focused Health Equity: Reconceptualizing Family in Social Work Research and Practice. Journal of the Society for Social Work and Research, 14(3), 579–589. https://doi.org/10.1086/726133
Gupta, A., & Kashyap, S. (2020). Growing up in a Single Parent Family ; A Determining factor of Adolescent ’ s Well-being. 7(1), 138–144.
Jensen, T. M., Duh-leong, C., Tamkin, V. L., & Verbiest, S. B. (2025). Prioritized Functions of Family Systems Over Time : A Qualitative Analysis. 46(3), 535–559. https://doi.org/10.1177/0192513X241273111
Kareem, O. M., Oduoye, M. O., Bhattacharjee, P., Irfan, H., Kumar, D., Zuhair, V., Dave, T., Taraphdar, S., & Ali, S. (2024). Single parenthood and depression : A thorough review of current understanding. September 2023, 1–9. https://doi.org/10.1002/hsr2.2235
Neal, Z. P., & Neal, J. W. (2025). Prevalence and predictors of childfree people in developing countries. 1–13. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0333906
Qonita, H. N., Aryani, M., Rangkuti, A. A., & Akbar, Z. (2025). Psychological Dimensions of Family Resilience in Indonesian Single- Parent Families : A Literature Review. Icpe, 1–9.
Rivera, E., & Logan, E. S. (2024). The “ Childfree ” Movement : How Individuals Negotiate Identities on Reddit The “ Childfree ” Movement : How Individuals Negotiate Identities on Reddit. 16(1).
Sahib, F. A., & Aldoori, N. M. (2023). Adolescents ’ Developmental Challenges in Single-Parent Families. 12(5), 173–179. https://doi.org/10.61838/ijbmc.v12i5.1012
Sia, S. K., & Aneesh, A. (2024). Single-parent Adolescents ’ Resilience and Psychological Well-being : The Role of Social Competence and Emotion Regulation. Journal of Indian Association for Child and Adolescent Mental Health, 3(20), 205–211. https://doi.org/10.1177/09731342241239441
Wagner, L., Molina, S., Perez, E. A., & Kreyenfeld, M. (2025). What difference does it make ? Parental relationship quality and child wellbeing in step ‑ and nuclear families.
Watling, J., Id, N., & Id, Z. P. N. (2023). warmth judgements of childfree adults : Replication and extensions. 14–18. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0283301
