ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 57 Mei 2026
Bukan Nyanyian Masa Kecil: Lagu Viral vs Tumbuh Kembang Anak
Oleh:
Fahzrie Hannifach Suvero Suyar
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
“Genggam tangganku sayanggg…kota ini tak sama tanpamu”, dan “Jatuh cinta memang manis, apa lagi ada kamu disini…”
Potongan lirik lagu viral tersebut kini sering dinyanyikan oleh keponakan saya, Fazila, yang masih duduk di kelas 4 SD. Setelah berbincang santai dengan Fazila, saya menyadari bahwa hampir semua teman sekelasnya pun hafal dan sering menyanyikan lagu tersebut bersama – sama. Hal yang cukup mengejutkan dan penting adalah peran guru di sekolah. Fazila bercerita bahwa gurunya dianggap sebagai ‘guru gaul’ karena sering mengizinkan, bahkan sengaja memutar lagu – lagu viral di dalam kelas.
Fenomena ini muncul akibat kemajuan teknologi dan akses media social tanpa Batasan usia, yang memudahkan anak – anak terpapar lagu dewasa sejak usia balita hingga Sekolah Dasar (SD). Lagu-lagu viral saat ini mudah didengarkan di berbagai platform digital maupun tempat umum, seperti supermarket dan radio. Hal tersebut memungkinkan anak dapat mendengarkannya kapan saja, saat sendirian maupun saat bersama teman-teman.
Kondisi ini memengaruhi perkembangan psikologis, perilaku, dan kognisi anak (Wadu, 2023). selain faktor teknologi, hilangnya lagu anak di Indonesia juga disebabkan oleh ekspansi seni komersial yang berorientasi pada pasar. Di sisi lain, lagu seharusnya tetap dipandang sebagai objek estetika untuk mengapresiasi kualitas dan keunikan karya (Ardipal, 2015).
Saat ini, banyak lagu bertema dewasa justru masuk ke dunia anak-anak dan dinyanyikan oleh mereka(Putri, Aisiyah, & Atika, 2024). Padahal, anak seharusnya mendengarkan lagu sesuai umurnya dan tidak terpengaruhi oleh konten mengenai patah hati, perselingkuhan, hingga hal-hal sensual. Anak-anak perlu dididik sesuai lingkungan bermainnya agar tidak terbebani oleh pikiran tentang percintaan yang dapat mengganggu perkembangan kognitif maupun seksual mereka (Patricia, T.H, Meilinda, & dkk, 2024).
Farel, penyanyi cilik yang viral karena menyanyikan lagu dewasa Ojo Dibandingke menjadi tanda anomali. Kritik terhadap fenomena ini muncul karena ketidakwajaran anak-anak menyanyikan lagu cinta, serta adanya kekhawatiran bahwa hal tersebut mendorong anak mengenal dunia yang belum sesuai usia mereka.
Oleh karena itu, kehadiran kembali lagu anak sangat dibutuhkan agar mereka dapat lebih mengenal dunianya sendiri sebelum memasuki remaja (Mehr, 2014). Jika terus-menerus terpapar lagu dewasa, anak akan menginternalisasi nilai-nilai dewasa sebagai perilaku yang wajar, termasuk memahami konflik hubungan yang belum saatnya mereka mengerti. Dampaknya bukan hanya soal pemahaman, tetapi juga keseimbangan emosional, anak dapat kehilangan ciri khas kekanakan dan kepolosannya.
Dari sudut pandang yang berbeda, pemutaran lagu viral di kelas mungkin didasari niat baik untuk membangun kedekatan antar-siswa serta menciptakan iklim belajar yang hangat, agar tidak membosankan(Greasley & Lamont, 2011). Musik memang berfungsi secara psikologis untuk mendukung belajar, manajemen suasana hati, dan mengatasi kebosanan (Kotsopoulou & Hallam, 2010). Namun, akan lebih baik jika niat tersebut diiringi dengan pemilihan lagu yang sesuai dengan usia. Dengan demikian, lagu yang diperdengarkan dapat menjadi sarana pendukung tumbuh kembang anak yang positif, sehingga anak–anak tetap dapat menikmati dunia mereka sebelum memasuki fase kehidupan yang lebih kompleks.
Dukungan aktif dari orang tua, guru, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mengembalikan fungsi musik sebagai stimulus yang sehat bagi anak. Hal ini diperkuat oleh pendapat Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, yang menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam memperdengarkan lagu anak serta menciptakan kegiatan menyanyi di rumah dan sekolah (Prodjo,2025). Menghadirkan kembali lagu anak yang mendidik dan berkualitas merupakan tantangan besar sekaligus tanggung jawab bersama demi masa depan mereka.
Daftar Referensi:
Ardipal. (2015). Kembalikan Lagu Anak - anak Indonesia : Sebuah Analisis Struktur Musik. Panggung Jurnal Seni Budaya, 343-355.
Greasley, A. E., & Lamont, A. (2011). Exploring engagement with music in everyday life using exprerience sampling methodology. Music Scientiae, 45 - 71.
Kompas.com. (2025, Februari 3). Mendikdasmen: Anak-anak Lebih Sering Nyanyi Lagu Dewasa Dibanding Lagu Anak. Retrieved from Kompas.com: https://www.kompas.com/edu/read/2025/02/03/084455971/mendikdasmen-anak-anak-lebih-sering-nyanyi-lagu-dewasa-dibanding-lagu-anak?lgn_method=google&google_btn=onetap
Kotsopoulou, A., & Hallam, S. (2010). The perceived impact of playing music while studying : age and cultural diffetences. Educational Studies, 431-440.
LaVoie, J. C., & Collins, B. r. (1975). Effect of Youth Culture Music on High School. Journal of Youth and Adolescence, 57 - 65.
Mehr, S. A. (2014). Music in the Home: New Evidence for an Intergenerational Link. Journal of Research in Music Education, 78 - 88.
Patricia, F. D., T.H, F., Meilinda, & dkk. (2024). Identitas dan Budaya dalam Masyarakat Berjejaring. Yogyakarta: PT KANISUS.
Putri, S. K., Aisiyah, L. N., & Atika, A. N. (2024). The Impact of Adult Songs On The Social-Emotional Development Of 5 -6 Years Old Childern At Kartika Kindergarten. Jurnal Pendidikan, Pengasuhan, Kesehatan, dan Gizi Anak Usia Dini, 329 - 338.
Setyaningsih, I. (2025, April 24). Lagu Bertema Dewasa Kian Dikenal Anak, Psikolog Ingatkan Dampaknya. Retrieved from Kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2025/04/24/044500265/lagu-bertema-dewasa-kian-dikenal-anak-psikolog-ingatkan-dampaknya
Wadu, R. P. (2023). PENGARUH MUSIK DEWASA PADA ANAK DI MASA PANDEMI. Jurnal Penelitian Seni Budaya, 53 - 57.
