ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 57 Mei 2026

Pentingnya Melibatkan Tuhan Bagi Pemimpin dalam Bekerja


Oleh:

Endro Puspo Wiroko
Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila, Jakarta.
 

Sekitar dua windu lebih saya bergelut di bidang pengelolaan sumber daya manusia (human resource management), dan selama itu pula saya berinteraksi dengan berbagai organisasi dengan dinamika yang beragam. Ada organisasi yang mampu berkembang secara progresif meskipun menghadapi banyak tantangan, namun ada pula yang cenderung stagnan walaupun telah mendapatkan intervensi dari konsultan. Pada organisasi yang progresif, umumnya terlihat kejelasan arah tujuan jangka pendek dan panjang, target yang realistis, keterbukaan terhadap masukan eksternal, sistem kerja yang rapi, serta kepemimpinan yang menghargai karyawan. Menariknya, dari hasil observasi dan wawancara sederhana terhadap pihak-pihak signifikan di organisasi tersebut, saya menemukan bahwa selain kompetensi manajerial yang kuat, para pemimpinnya juga menunjukkan keterlibatan Tuhan dalam proses kerjanya.

 

Sebaliknya, pada organisasi yang stagnan, saya menemukan berbagai permasalahan seperti arahan pimpinan yang impulsif, pengambilan keputusan yang lambat dan kurang berkualitas, sikap egois, serta proses kerja yang tidak terstruktur. Dalam beberapa kasus, pemimpin tampak religius secara simbolik, tetapi tidak benar-benar menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai landasan dalam memimpin. Walaupun temuan ini masih memerlukan verifikasi melalui penelitian ilmiah, fenomena tersebut mengindikasikan bahwa kecerdasan dan kompetensi saja tidak cukup; diperlukan pula dimensi religiusitas atau pelibatan Tuhan dalam kepemimpinan. Tulisan ini dimaksudkan sebagai refleksi sekaligus pengingat bagi diri saya dan pembaca akan pentingnya aspek tersebut.

 

Dalam konteks kepemimpinan yang kompleks dan penuh tekanan, melibatkan Tuhan sering kali dianggap sebagai ranah personal yang terpisah dari profesionalitas. Namun, kepemimpinan yang berkelanjutan justru berakar pada kesadaran akan keterbatasan diri dan pengakuan terhadap sesuatu yang lebih besar. Melibatkan Tuhan bukan sekadar ritual, melainkan upaya mencari hikmah dan arah dari sumber kebijaksanaan tertinggi. Hal ini mendorong pemimpin untuk memandang dirinya bukan sekadar pengelola, tetapi juga pelayan yang bertanggung jawab kepada Tuhan dan sesama. Fry (2003) menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual berkontribusi pada motivasi intrinsik dan kesejahteraan organisasi, sementara Keller (2012) menekankan bahwa kerja merupakan panggilan ilahi yang memberikan makna mendalam bagi setiap aktivitas, termasuk kepemimpinan.

 

Dalam konteks Indonesia, tantangan kepemimpinan masih cukup serius. Tingginya tingkat korupsi, lemahnya akuntabilitas, serta keputusan yang kerap dipengaruhi kepentingan pribadi menunjukkan adanya krisis moral dalam kepemimpinan. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Transparency International (2024) menempatkan Indonesia pada posisi yang belum menggembirakan, sementara laporan Setara Institute (2023) mengungkap tingginya intoleransi dan politisasi isu SARA. Kondisi ini memperlihatkan adanya erosi etika dan rendahnya kepercayaan publik terhadap pemimpin, sehingga diperlukan pendekatan kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai yang lebih mendalam dan transenden.

 

Dari perspektif agama, rasa takut kepada Tuhan—dalam arti hormat dan kesadaran akan kebesaran-Nya—menjadi fondasi utama kepemimpinan yang bertanggung jawab. Dalam Islam, konsep taqwa mendorong pemimpin untuk selalu merasa diawasi oleh Tuhan (muraqabah), sehingga bertindak adil dan amanah. Dalam tradisi Kristen, “takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” menekankan bahwa kebijaksanaan sejati berakar dari kesadaran spiritual. Pemimpin yang memiliki rasa takut kepada Tuhan akan melihat dirinya sebagai pelayan, bukan penguasa, sehingga memimpin dengan kerendahan hati, keadilan, dan kasih, sebagaimana konsep servant leadership (Greenleaf, 1977).

 

Dari sudut pandang psikologi, “takut kepada Tuhan” dapat dipahami sebagai internalisasi nilai moral transendental yang berfungsi sebagai kompas perilaku. Pemimpin dengan landasan spiritual yang kuat cenderung memiliki self-transcendence yang tinggi (Piedmont, 1999), sehingga mampu melampaui kepentingan pribadi. Hal ini membantu mengurangi kecenderungan narsisme dan keserakahan yang sering menjadi akar penyimpangan kepemimpinan. Penelitian menunjukkan bahwa religiusitas intrinsik berkorelasi dengan perilaku prososial, etika kerja, serta ketahanan terhadap stres (Allport & Ross, 1967; Koenig, 2012). Selain itu, kesadaran akan keterbatasan diri di hadapan Tuhan juga melahirkan humility yang diakui sebagai faktor penting dalam kepemimpinan efektif (Owens et al., 2013). Dengan demikian, rasa takut kepada Tuhan berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri dan peningkat akuntabilitas pribadi.

 

Ketika nilai-nilai ini benar-benar diinternalisasi oleh pemimpin, dampaknya terhadap organisasi menjadi signifikan. Pertama, terciptanya budaya integritas dan kepercayaan, karena pemimpin menjadi teladan dalam menjunjung nilai etika. Kedua, pengambilan keputusan menjadi lebih bijaksana dan berorientasi jangka panjang, dengan mempertimbangkan dampak moral dan keberlanjutan. Ketiga, terbentuk lingkungan kerja yang lebih manusiawi dan penuh penghargaan, karena pemimpin melihat karyawan sebagai individu yang bernilai. Hal ini meningkatkan keterikatan dan kesejahteraan karyawan (Fry, 2003). Keempat, organisasi menjadi lebih tangguh dalam menghadapi krisis karena memiliki sumber makna dan ketahanan psikologis yang kuat (Koenig, 2012). Kelima, reputasi organisasi meningkat melalui praktik etis dan tanggung jawab sosial yang autentik (Fernando, 2007), sehingga memperkuat kepercayaan publik sebagai modal sosial penting (Edelman, 2023).

 

Kesimpulannya, melibatkan Tuhan dalam kepemimpinan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan sumber kekuatan dan kebijaksanaan. Di tengah krisis kepemimpinan yang ditandai dengan erosi etika dan rendahnya kepercayaan publik, pendekatan berbasis spiritualitas menjadi semakin relevan. Baik dari perspektif agama maupun psikologi, rasa takut kepada Tuhan berfungsi sebagai penjaga moral sekaligus pendorong perilaku etis dan berorientasi pada kebaikan bersama. Integrasi nilai ini menghasilkan pemimpin yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berkarakter kuat, rendah hati, dan berintegritas. Dampaknya adalah terciptanya organisasi yang beretika, tangguh, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, melibatkan Tuhan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan fondasi penting bagi kepemimpinan transformatif yang mampu memulihkan kepercayaan dan membawa manfaat bagi masyarakat luas, sebagaimana ditegaskan oleh Keller (2012).

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Allport, G. W., & Ross, J. M. (1967). Personal religious orientation and prejudice. Journal of Personality and Social Psychology, 5(4), 432–443. https://doi.org/10.1037/h0021212

Edelman. (2023). Edelman Trust Barometer 2023 - Global Report. Edelman. https://www.edelman.com/trust/2023/trust-barometer

Fernando, M. (2007). Spiritual leadership in the entrepreneurial business: A multifaith study. Journal of Management, Spirituality & Religion, 4(2), 217–242. https://doi.org/10.1080/14766080709518661

Fry, L. W. (2003). Toward a theory of spiritual leadership. The Leadership Quarterly, 14(6), 693–727. https://doi.org/10.1016/j.leaqua.2003.09.001

Greenleaf, R. K. (1977). Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness. Paulist Press.

Keller, T. (2012). Every Good Endeavor: Connecting Your Work to God's Work. Penguin Books.

Koenig, H. G. (2012). Religion, spirituality, and health: The research and clinical implications. ISRN Psychiatry. https://doi.org/10.5402/2012/278730

Owens, B. P., Johnson, M. D., & Mitchell, T. R. (2013). Expressed humility in organizations: Implications for performance, teams, and leadership. Organization Science, 24(5), 1517–1538. https://doi.org/10.1287/orsc.1120.0795

Piedmont, R. L. (1999). Does spirituality represent the sixth factor of personality? Spiritual transcendence and the five-factor model. Journal of Personality, 67(6), 985–1013. https://doi.org/10.1111/1467-6494.00080

Reave, L. (2005). Spiritual values and practices related to leadership effectiveness. The Leadership Quarterly, 16(5), 655–687. https://doi.org/10.1016/j.leaqua.2005.07.003

Setara Institute. (2023). Laporan Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) di Indonesia Tahun 2023. Setara Institute. https://setara-institute.org/laporan-kondisi-kebebasan-beragama-berkeyakinan-kbb-di-indonesia-tahun-2023/

Transparency International. (2024). Corruption Perceptions Index 2023. Transparency International. https://www.transparency.org/en/cpi/2023