ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 63 Agustus 2026

Reskilling Untuk Beradaptasi Dengan Kehadiran GenAI: Tanggung Jawab Pekerja atau Perusahaan? 

Oleh:

Rocky

Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Pusat Studi Masyarakat Berkelanjutan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

 

Di pertengahan tahun 2026 Mantan CEO Google Eric Schmidt berpidato di wisuda Universitas Arizona (BBC, 2026). Sebagai mantan CEO perusahaan teknologi yang terkenal di dunia, ia membawa pesan optimisme mengenai masa depan kecerdasan buatan yang akan membangun masa depan dunia. Alih-alih sambutan positif, sorakan penolakan diteriakkan oleh peserta wisuda kepadanya. Wisudawan yang sebentar lagi akan memasuki dunia kerja menunjukkan sikap negatif terhadap topik kecerdasan buatan.

Sikap negatif dari lulusan terhadap kecerdasan buatan sebetulnya cukup wajar. Para lulusan yang akan memasuki dunia kerja ini menghadapi tantangan yang berbeda daripada generasi-generasi sebelumnya. Fenomena seperti “hilangnya anak tangga pertama” (the missing first rung) menjadi suatu hal yang signifikan di kehidupan kerja mereka. Fenomena “hilangnya anak tangga pertama” adalah kecerdasan buatan memungkinkan pekerja berpengalaman untuk meningkatkan produktivitas mereka, tanpa melibatkan bantuan pekerja junior (Camacho, 2026). Dampak dari fenomena ini adalah berkurangnya rekrutmen di entry level, yang dianggap tidak diperlukan lagi dan dapat digantikan lewat kehadiran kecerdasan buatan. Oleh karena itu tidak mengherankan bila pekerja junior menganggap bahwa pekerjaan mereka telah tergantikan oleh kecerdasan buatan.

Menghadapi isu kecerdasan buatan dan pekerja junior, reskilling atau perubahan kemampuan di dunia kerja menjadi salah satu solusi yang marak diberitakan di berbagai media (Jaiswal et al., 2022). Fokusnya adalah peningkatkan kemampuan pekerja agar mampu beradaptasi dengan kecerdasan buatan. Artinya pekerja baik dari junior hingga senior dianggap perlu terus meningkatkan kemampuannya, dengan mengadaptasi kecerdasan buatan di pekerjaannya. Lewat usaha perubahan kemampuan ini, para pekerja dianggap dapat tetap relevan dengan kebutuhan organisasi. Pekerja yang relevan dengan kebutuhan organisasi dianggap tetap dibutuhkan dan akan dipekerjakan oleh pemberi kerja.

Walau narasi reskilling kerap dibingkai sebagai peluang, dampak negatifnya paling dirasakan oleh pekerja entry level. Laporan World Economic Forum menyebutkan bahwa secara global, 28% pekerja entry level percaya bahwa kurang dari 50% keterampilan mereka masih akan relevan sampai 3 tahun kedepan (World Economic Forum, 2026). Kelompok ini pun menjadi kelompok yang paling dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi agar relevan di tengah perubahan yang bergerak lebih cepat dari kemampuan mereka untuk menyerap. Tekanan adaptasi yang terus-menerus dan tanpa kejelasan arah inilah yang menjadi salah satu pemicu utama technostress (Högemann et al., 2025).

Penulis penyarankan beberapa masukan terkait isu ini yang antara lain adalah: di ranah individu, Reskilling tetap perlu dilakukan, hanya saja di tingkat sistem, beban pembelajaran sebaiknya tetap dinilai organisasi sebagai jam kerja. Hal ini tentunya secara signifikan dapat mengurai potensi terjadinya technostress. Secara struktur, organisasi juga tetap bisa mempertahankan jabatan di entry level yang diikuti dengan job design, yang berfokus pada kolaborasi tugas dan penggunaan kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan haruslah difokuskan untuk pengembangan area potensi yang belum terjamah, alih-alih efisiensi kerja yang akan berujung pada pengurangan jabatan, apa lagi jumlah karyawan. Saran-saran ini berfokus pada hasil jangka panjang, di mana mempertahankan jabatan entry level diharapkan dapat mempertahankan regenerasi kepemimpinan di masa depan.    

Daftar Pustaka:

BBC. (2026, May 18). Former Google CEO Eric Schmidt booed by graduates at mention of AI. https://www.bbc.com/news/articles/ce8pqd54qneo

Camacho, L. (2026). The Missing First Rung: Public Evidence on Young Workers Falling Behind in AI-Exposed Occupations.

Högemann, M., Hein, L., Britsche, J.-O., & Thomas, O. (2025). Technostress and generative AI in the workplace: A qualitative analysis of young professionals. Frontiers in Artificial Intelligence, 8, 1728881. https://doi.org/10.3389/frai.2025.1728881

Jaiswal, A., Arun, C. J., & Varma, A. (2022). Rebooting employees: Upskilling for artificial intelligence in multinational corporations. The International Journal of Human Resource Management, 33(6), 1179–1208. https://doi.org/10.1080/09585192.2021.1891114

World Economic Forum. (2026). Artificial Intelligence and the Future of Entry-Level Work: A Framework for Safeguarding and Reinventing Early Career Pathways. https://www.weforum.org/publications/artificial-intelligence-and-the-future-of-entry-level-work-a-framework-for-safeguarding-and-reinventing-early-career-pathways/