ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 67 Oktober 2026
BREAKING NEWS: Setelah Persidangan Panjang, Tersangka FM Akhirnya Divonis Tidak Bersalah!!!
Oleh:
Elon Losman; Vivi G. R. Pohan; Siti Zahreni
Magister Psikologi Sains, Universitas Sumatera Utara
EL, VP, dan SZ, tim pengacara dari tersangka FM (asli: FOMO) akhirnya berhasil memberikan bukti argumen yang berhasil membebaskannya dari jerat hukum. Sebelumnya, tersangka FOMO telah dituntut bersalah atas beberapa tindak “kejahatan” seperti: godaan berinvestasi crypto (Gerrans et al., 2023), antrian mengular pembelian “BTS Meal” di McD (Arief dan Putri, 2025), dan menjamurnya lapangan padel (Adaira dan Panggabean, 2026).
Tindak-Tanduk FOMO pertama kali tercium oleh Herman (2000) yang melihat kecenderungan konsumen untuk mengeksplorasi sebanyak mungkin kemungkinan sekaligus takut melewatkan sesuatu. Herman menuduh FOMO sebagai penyebab konsumen untuk mencoba merek baru, mencari variasi, dan semakin sulit bertahan pada satu merek. Selain di ranah marketing, laporan kejahatan FOMO juga masuk ke ranah sosial. Kejahatan FOMO di ranah sosial pertama kali dilaporkan oleh Przybylski et al. (2013) yang mengatakan bahwa FOMO bertanggung jawab atas perasaan cemas yang timbul akibat individu mengetahui bahwa orang lain mungkin sedang memperoleh pengalaman yang memuaskan sedangkan dia tidak ikut mengalaminya.
Semakin hari, laporan kejahatan yang dilakukan oleh FOMO semakin semakin meluas. Tidak hanya di dunia nyata, Alutaybi et al. (2020) mengaku “melihat” FOMO juga melancarkan aksinya di dunia maya (media sosial). Mereka bersaksi bahwa untuk kejahatan di media sosial, FOMO bekerja sama dengan “tersangka” lainnya, yaitu Social Comparison. Blackwell et al. (2017) juga ikut memberikan kesaksian bahwa kerjasama FOMO dan Social Comparison menimbulkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri akibat perbandingan dengan kehidupan orang lain, terutama yang terlihat lebih sukses atau lebih bahagia.
Melihat begitu tipis harapan FOMO untuk dapat lolos dari hukuman, tim pengacara FOMO mengeluarkan senjata pamungkas mereka. Mereka memanggil beberapa saksi ahli, yang kesaksiannya diharapkan dapat meringankan dakwaan terhadap FOMO. Saksi ahli pertama yang dihadirkan adalah Paul Ekman yang mengenal silsilah keluarga FOMO. Dia “mengenali” FOMO, yang merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, sebagai “anak” dari Fear alias Takut. Ekman (1992) yang mengenal baik Fear, ayah FOMO, mengatakan bahwa Fear sebenarnya adalah respon alami yang melindungi manusia dari ancaman atau bahaya. Ekman menekankan bahwa Fear muncul dengan sangat cepat, bahkan tanpa keterlibatan sadar penuh. Tetapi ternyata, “kecepatan” itulah yang dapat menyelamatkan hidup manusia ketika dalam keadaan darurat, walaupun juga dapat merusak hidup manusia ketika mereka bereaksi berlebihan.
Lalu, saksi ahli kedua, Abraham Maslow, bersaksi bahwa “otak” dibalik semua tindak kriminal yang dilakukan oleh FOMO, adalah Psychological Needs. Maslow (1987) membela FOMO dengan mengatakan bahwa ancaman atau bahaya yang dimaksud oleh Paul Ekman sebelumnya, dapat dibaca sebagai tantangan atau kesulitan dalam pemenuhan needs, baik Physical Needs maupun Psychological Needs. Jika pada zaman dahulu manusia cenderung kesulitan memenuhi Physical Needs, maka di era media yang berkembang luas seperti sekarang, manusia semakin kesulitan memenuhi “keinginan” dari Psychological Needs. Kesulitan tersebut yang pada akhirnya dianggap sebagai ancaman atau bahaya oleh bawah sadar manusia. Dan sebagai “malaikat” yang memang ditugaskan oleh Sang Pencipta untuk melindungi ciptaan-Nya, Fear of Missing Out (FOMO) akhirnya muncul. FOMO muncul sebagai bentuk perlindungan alami manusia ketika individu tersebut belum memenuhi “keinginan” Psychology Needs miliknya.
Ekman (2003) yang diberikan kesempatan untuk melengkapi kesaksian sebelumnya, berkata bahwa pada zaman dahulu dimana manusia masih berupaya memenuhi Physical Needs mereka, maka kemunculan Fear saat itu berfungsi membantu manusia untuk memilih respons antara freeze, flight, atau fight. Menyambung hal tersebut, tim pengacara FOMO lalu menambahkan bahwa di era media sosial yang semakin maju ini, manusia semakin mudah terpapar oleh informasi-informasi berupa: apa yang sedang hangat dipergunjingkan oleh kebanyakan orang, prestasi atau pencapaian orang lain, dan juga kebahagiaan atau kondisi positif yang sedang dialami orang lain. Begitu masifnya informasi-informasi tersebut, membuat manusia tersebut merasa tertinggal semakin jauh, dan seolah-olah tak kuasa untuk mengejar itu semua. Hal ini yang dimaksud oleh Maslow (1987) sebagai peningkatan kesulitan dalam pemenuhan Psychological Needs. Dan disanalah FOMO “terpaksa” muncul untuk menjalankan tugasnya dalam membantu manusia menentukan pilihan dan mengambil tindakan seperti: ikut berinvestasi di crypto walaupun tidak terlalu mengerti tentang crypto, ikut membeli BTS Meal walaupun harus mengantri lama, dan ikut bermain padel walaupun sebelumnya jarang berolahraga.
Di akhir persidangan, hakim akhirnya menyatakan:
“Menimbang penjelasan dari kedua saksi ahli serta memperhatikan pledoi tim pengacara dari FOMO, maka saya sebagai Hakim persidangan ini menyatakan bahwa: FOMO terbukti tidak bersalah, dan melimpahkan semua tuduhan kepada otak dari kejahatan ini yaitu Psychological Needs!!! Sidang selesai dan ditutup!!!”
Daftar Referensi:
Adaira, M. A., & Panggabean, M. L. W. (2026). The communication strategy of utilizing fear of missing out (FoMO) to popularize padel at Padel Pro Kemang. Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS), 5(1), 1107–1114. https://doi.org/10.59066/ijoms.v5i1.2562
Alutaybi, A., Al-Thani, D., McAlaney, J., & Ali, R. (2020). Combating fear of missing out (FoMO) on social media: The FoMO-R method. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(17), 6128. https://doi.org/10.3390/ijerph17176128
Arief, S. V., & Putri, L. R. W. (2025). The influence of K-pop brand ambassador BTS and brand image on McDonald’s purchasing decisions: Fear of missing out (FOMO) as a mediating role. Journal of Management, Accounting, General Finance and International Economic Issues, 5(1), 67–80. https://doi.org/10.55047/marginal.v5i1.1926
Blackwell, D., Leaman, C., Tramposch, R., Osborne, C., & Liss, M. (2017). Extraversion, neuroticism, attachment style and fear of missing out as predictors of social media use and addiction. Personality and Individual Differences, 116, 69–72. https://doi.org/10.1016/j.paid.2017.04.039
Ekman, P. (1992). Are there basic emotions? Psychological Review, 99(3), 550–553. https://doi.org/10.1037/0033-295X.99.3.550
Ekman, P. (2003). Emotions revealed: Recognizing faces and feelings to improve communication and emotional life. Times Books/Henry Holt and Company.
Gerrans, P., Abisekaraj, S. B., & Liu, Z. (2023). The fear of missing out on cryptocurrency and stock investments: Direct and indirect effects of financial literacy and risk tolerance. Journal of Financial Literacy and Wellbeing, 1(1), 103–137. https://doi.org/10.1017/flw.2023.6
Herman, D. (2000). Introducing short-term brands: A new branding tool for a new consumer reality. Journal of Brand Management, 7(5), 330–340. https://doi.org/10.1057/bm.2000.23
Maslow, A. H. (1987). Motivation and personality (3rd ed.). Harper & Row.
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
