ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 67 Oktober 2026 

 

AI Anxiety: Takut Tergantikan Mesin atau

Sedang Mengalami Krisis Eksistensial?

Oleh:

Chandra Yudistira Purnama

Fakultas Psikologi, Universitas Jenderal Achmad Yani

 

Pernahkah Anda merasa takjub sekaligus cemas saat melihat kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (AI) menyelesaikan tugas Anda hanya dalam hitungan detik?. Mungkin awalnya kita merasa sangat terbantu, tetapi perlahan muncul pertanyaan yang mengganjal di hati: jika mesin bisa bekerja secepat dan sebaik ini, lalu apa peran kita?. Perasaan ini dikenal dengan istilah AI anxiety atau kecemasan terhadap kecerdasan buatan (Audrey et al., 2025). Bagi banyak orang, ketakutan ini bukan sekadar urusan takut kehilangan pekerjaan. Lebih dalam lagi, ini adalah kegelisahan tentang nilai dan makna diri kita di tengah dunia yang serba otomatis.

 

Sejak kecil, kita sering kali diajarkan untuk menilai harga diri dari apa yang bisa kita hasilkan (Arroisi & Badi’, 2022). Kita terbiasa mengukur kesuksesan dari gelar, jabatan, atau seberapa cepat kita menyelesaikan rentetan pekerjaan. Ketika kemampuan kita seperti menyusun laporan, merancang materi presentasi, atau menganalisis tren bisa ditiru dan dikerjakan jauh lebih cepat oleh mesin, wajar jika rasa percaya diri kita runtuh (Mahira et al., 2025). Kita tidak hanya cemas menjadi pengangguran, tetapi juga takut menjadi tidak relevan atau tidak berguna. Ada ruang kosong di hati saat menyadari bahwa keterampilan teknis yang kita asah bertahun-tahun seolah bisa digantikan begitu saja oleh program komputer.

 

Keresahan ini ternyata bukan sekadar isapan jempol atau ketakutan yang mengada-ada. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecemasan terhadap kehadiran teknologi pintar membawa dampak yang sangat nyata bagi kesejahteraan mental dan perilaku pekerja (Widodo & Chusniyah, 2025). Sebuah studi menemukan bahwa pekerja yang merasa pekerjaannya terancam oleh teknologi cerdas dan algoritma cenderung mengalami peningkatan gejala depresi, tingkat stres yang jauh lebih tinggi, serta dorongan yang kuat untuk keluar dari pekerjaannya (Brougham & Haar, 2018). Penelitian lain yang sejalan, seperti yang diungkapkan oleh McClure, yang menunjukkan bahwa ketakutan terhadap otomatisasi secara langsung memicu rasa tidak aman dalam bekerja (job insecurity) yang menguras energi mental secara drastis (McClure, 2018) .

 

Dampak dari kondisi tersebut sangat terlihat dalam keseharian. Tubuh kita merespons kecemasan ini sebagai sebuah ancaman, membuat otak terus berada dalam mode waspada. Dampaknya, sebagian orang memaksakan diri bekerja melampaui batas kewajaran (overworking) hanya untuk membuktikan bahwa mereka lebih tangguh dari mesin, yang pada akhirnya justru memicu gangguan tidur, kelelahan emosional kronis (burnout), dan memperparah sindrom penipu (imposter syndrome) (Brougham & Haar, 2018; Widodo & Chusniyah, 2025). Di sisi ekstrem yang lain, kecemasan ini justru melumpuhkan. Banyak orang yang meresponsnya dengan sikap apatis, kehilangan motivasi kerja, dan terus-menerus menunda pekerjaan karena merasa semua usahanya toh akan sia-sia di hadapan kecerdasan buatan (Rodhiah et al., 2025; Yoel Edward Hasugian, 2026).

 

Untuk menghadapi situasi yang rentan ini, menyadari masalah secara psikologis saja tidaklah cukup, kita membutuhkan langkah-langkah yang praktis dan konkret untuk diterapkan. Langkah pertama yang paling nyata adalah mengambil kembali kendali dengan cara mengubah posisi AI dari "pesaing" menjadi "asisten pribadi" (Wibowo, 2026). Alih-alih menjauhi teknologi karena takut, cobalah luangkan waktu untuk mempelajari cara menggunakannya. Mempelajari dasar-dasar memberikan perintah pada AI (prompt engineering) terbukti secara psikologis dapat mengembalikan rasa kendali (sense of control) yang sempat hilang (Rodhiah et al., 2025; Widodo & Chusniyah, 2025; Yoel Edward Hasugian, 2026). Ketika Anda tahu cara mengarahkan AI untuk menyusun draf awal atau mencari ide, Anda akan menyadari bahwa kitalah yang memegang kendali atas hasil akhirnya, bukan sebaliknya.

 

Langkah praktis kedua adalah secara sadar membatasi asupan informasi yang memicu kepanikan (Atmadja, 2026). Terlalu sering membaca berita sensasional di media sosial tentang "AI akan merebut semua pekerjaan manusia" hanya akan memperparah rasa takut dan memicu kecemasan tanpa henti. Lakukanlah pembatasan informasi dengan mengatur waktu jeda dari layar (digital detox) dan pilihlah untuk membaca artikel yang membahas kolaborasi sehat antara manusia dan teknologi (Cherry, 2026).

 

Sebagai langkah terakhir yang tidak kalah penting, mulailah menginvestasikan waktu untuk mengasah kemampuan yang mustahil direplikasi oleh mesin (Rahmalia, 2022). Fokuslah pada keterampilan antarpribadi dan kecerdasan emosional. Secanggih apa pun kecerdasan buatan memproses jutaan data untuk menyusun kalimat yang terdengar empatik, ia tidak akan pernah bisa benar-benar "merasakan" empati tersebut (Rahmalia, 2022). Oleh karena itu, asahlah kemampuan memecahkan konflik secara kekeluargaan, perbaiki cara mendengarkan cerita rekan kerja, dan bangunlah koneksi yang tulus. Di era di mana kepintaran teknologi menjadi sesuatu yang sangat murah dan instan, kehangatan, selera humor, kebijaksanaan, dan kemampuan kita untuk saling memahami justru akan menjadi kemewahan yang paling dicari oleh dunia.

 

Daftar Referensi:

Arroisi, J., & Badi’, S. (2022). Konsep Harga Diri: Studi Komparasi Perspektif Psikologi Modern dan Islam. Psikologika: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi, 27(1), 89–106. https://doi.org/10.20885/psikologika.vol27.iss1.art7

Atmadja, W. S. (2026, June 9). Doom Scrolling: Kebiasaan Mengonsumsi Konten Negatif yang Mengganggu Kesehatan Mental. https://www.emc.id/id/care-plus/doom-scrolling-kebiasaan-mengonsumsi-konten-negatif-yang-mengganggu-kesehatan-mental

Audrey, A., Puspa, L., & Suryawidjaja, V. (2025). Analisis Korelasional AI Anxiety dan Keyakinan Pengambilan Keputusan Karier di Kalangan Mahasiswa Jakarta. Jurnal Penelitian, Pendidikan Dan Kesehatan (J-P3K), 6(4), 1402–1409. https://doi.org/10.51849/j-p3k.v6i4.874

Brougham, D., & Haar, J. (2018). Smart Technology, Artificial Intelligence, Robotics, and Algorithms (STARA): Employees’ perceptions of our future workplace. In Journal of Management and Organization (Vol. 24, Number 2, pp. 239–257). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/jmo.2016.55

Cherry, K. (2026, March 12). Reasons to Do a Digital Detox. Https://Www.Verywellmind.Com. https://www.verywellmind.com/why-and-how-to-do-a-digital-detox-4771321

Mahira, A. P., Kemala Oktaviani, S., Novita, D., Lusiria, D., Psikologi, D., Psikologi, F., & Kesehatan, D. (2025). ADAPTASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE ANXIETY SCALE VERSI BAHASA INDONESIA MELALUI ANALISIS EKSPLORATORI FAKTOR. Jurnal Psikologi Dan Bimbingan Konseling, 12(1), 1–6. https://doi.org/10.6734/LIBEROSIS.V2I2.3027

McClure, Paul K. (2018). “You’re Fired,” Says the Robot: The Rise of Automation in the Workplace, Technophobes, and Fears of Unemployment. Social Science Computer Review, 36(2), 139–156. https://doi.org/10.1177/0894439317698637

Rahmalia, N. (2022, January 12). 6 Skill yang Tidak Tergantikan Teknologi, Wajib Dikuasai di Era Digital. Glints.Com. https://glints.com/id/lowongan/skill-tidak-tergantikan-teknologi/

Rodhiah, S. D. F., Parinduri, M. F. A., Nabila, S., Aprilia, A. I., & Endang, L. Y. (2025). Dampak Penggunaan Artificial Intelligence terhadap Transformasi Lapangan Pekerjaan di Masa Depan: Sebuah Tinjauan Sistematis Literatur. Journal of Information System, Informatics and Computing, 9(2), 380. https://doi.org/10.52362/jisicom.v9i2.2187

Wibowo, A. (2026). Aturan Penggunaan Kecerdasan Buatan di Sektor Swasta dan Publik (J. T. Santoso, Ed.; 1st ed.). Yayasan Prima Agus Teknik.

Widodo, N. A. P., & Chusniyah, T. (2025). Teknologi Digital dan Kesejahteraan Psikologis Karyawan Generasi Z: Tinjauan Sistematis di Dunia Kerja Modern. Jurnal Flourishing, 5(8), 462–471. https://doi.org/10.17977/10.17977/um070v5i82025p462-471

Yoel Edward Hasugian. (2026). Analisis dampak Artificial Intelligence (AI) terhadap Sektor Tenaga Kerja di Indonesia. Majelis: Jurnal Hukum Indonesia, 3(1), 84–101. https://doi.org/10.62383/majelis.v3i1.1501