ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 57 Mei 2026
Menghadapi Tekanan, Membangun Ketangguhan: Peran Growth Mindset pada Siswa SMA
Oleh:
Bunga Karuni, Ellyana Dwi Farisandy, Putri Sahira Bastari, Hanny Savitri, Andi Rafli Fauzan
Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya
Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai oleh berbagai perubahan pada aspek biologis, kognitif, sosial, dan psikologis. Pada tahap ini, siswa SMA sering menghadapi berbagai tuntutan perkembangan dan akademik seperti ekspektasi dari orang tua, hubungan dengan teman sebaya, tekanan akademik serta proses pencarian identitas diri (Fadly et al., 2024). Berbagai tuntutan tersebut dapat memicu stres psikologis yang apabila tidak dikelola secara adaptif berpotensi menghambat perkembangan psikososial remaja (Tamimi et al., 2020). Tuntutan perkembangan dan akademik yang berjalan secara bersamaan juga dapat membuat siswa rentan mengalami stres, khususnya ketika menghadapi kegagalan (Fadia et al, 2023). Ketika siswa mengalami kegagalan akademik atau penolakan sosial, sebagian dari mereka dapat mengalami penurunan motivasi belajar dan kepercayaan diri. Oleh karena itu, kemampuan untuk bertahan dan bangkit kembali dari kesulitan menjadi kompetensi psikologis yang sangat penting bagi remaja, khususnya siswa SMA. Kemampuan tersebut dikenal sebagai resiliensi, yaitu kapasitas individu untuk beradaptasi secara positif ketika menghadapi tekanan, kesulitan, maupun pengalaman negatif dalam kehidupan (Hunter-Hernández et al., 2015).
Mengapa Resiliensi Penting bagi Siswa SMA?
Resiliensi merupakan faktor penting yang mendukung kemampuan siswa SMA dalam menghadapi berbagai tuntutan dan tekanan, antara lain:
1. Membantu siswa mengelola tekanan akademik
Resiliensi memungkinkan siswa untuk tetap mempertahankan motivasi belajar dan menghadapi tuntutan akademik tanpa mudah merasa putus asa ketika mengalami kesulitan atau kegagalan (Taufik et al., 2020).
2. Mendukung kemampuan regulasi emosi
Siswa yang memiliki resiliensi yang baik cenderung lebih mampu mengelola emosi negatif seperti stres, frustrasi, atau kecemasan ketika menghadapi tantangan di lingkungan sekolah (Tamimi et al., 2020).
3. Mendorong sikap pantang menyerah dalam proses belajar
Individu yang resilien mampu memandang kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan tetap berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Syam & Yusri, 2023).
4. Membantu siswa beradaptasi dengan berbagai tantangan perkembangan remaja
Penguatan resiliensi pada remaja penting untuk membantu mereka menghadapi perubahan dan tuntutan yang muncul selama masa pendidikan di sekolah (Supriyadi & Kartini, 2022).
Resiliensi tidak terbentuk secara otomatis, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis yang membantu individu memaknai pengalaman secara lebih adaptif (Reivich & Shatte, 2002). Salah satu faktor yang berperan penting dalam meningkatkan resiliensi adalah pola pikir atau cara individu memandang kemampuan dirinya sendiri dalam menghadapi tantangan (Dweck, 2006). Individu yang meyakini bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan pembelajaran cenderung lebih mampu menghadapi kegagalan serta melihat kesulitan sebagai peluang untuk berkembang (Dweck, 2006). Pola pikir ini dikenal sebagai growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, melainkan dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman belajar (Dweck, 2006).
Growth Mindset: Cara Baru Melihat Kegagalan?
Dalam psikologi, growth mindset merupakan keyakinan bahwa individu mampu mengembangkan kemampuannya (Dweck, 2006) yang memiliki dampak langsung terhadap resiliensi (Baldwin et al., 2020). Dengan adanya growth mindset, individu mampu meningkatkan ketahanan, kegigihan, keberanian dalam menghadapi tantangan, dan kemampuan dalam menghadapi kegagalan (Yost, 2016; Ricci, 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan resiliensi remaja dapat dilakukan melalui peningkatan growth mindset individu, khususnya pada siswa SMA. Resiliensi remaja sendiri dapat ditingkatkan melalui berbagai intervensi seperti pelatihan growth mindset (Karuni, 2024). Hal ini telah dibuktikan sebelumnya melalui penelitian yang menguji efektivitas pelatihan growth mindset dalam meningkatkan resiliensi siswa SMA korban cyberbullying (Calvete et al., 2022) dan juga pada mahasiswa (Rasyid et al., 2023). Oleh karena itu, memiliki growth mindset dapat membantu individu, khususnya siswa SMA untuk meningkatkan resiliensi. Bagi siswa SMA, pola pikir ini dapat mengubah cara pandang mereka terhadap kegagalan. Kegagalan tidak lagi dianggap sebagai tanda bahwa individu tidak mampu, melainkan sebagai bagian dari proses belajar. Pola pikir ini membantu seseorang memahami bahwa kemampuan bukanlah suatu yang statis. Jika seseorang memiliki growth mindset, maka ia cenderung lebih tahan dalam menghadapi tekanan akademik maupun tantangan lainnya di masa remaja.
Cara Meningkatkan Growth Mindset
Growth mindset terdiri dari lima aspek utama; gigih menghadapi rintangan, berani menerima tantangan, berusaha secara sungguh-sungguh, belajar melalui kritik, dan terinspirasi oleh keberhasilan orang lain (Dweck, 2007). Oleh karena itu, growth mindset dapat ditingkatkan melalui peningkatan aspek-aspek tersebut, antara lain:
1. Gigih menghadapi rintangan
Kegigihan diperlukan dalam mengembangkan growth mindset. Ketika menghadapi rintangan atau kegagalan, kegigihan mendorong individu untuk terus berusaha walau kerap mengalami kegagalan. Kegigihan juga diartikan sebagai keyakinan bahwa usahanya kelak akan membuahkan hasil yang optimal.
2. Berani menerima tantangan
Growth mindset dapat berkembang ketika individu berani menghadapi tantangan. Dengan menerima tantangan, individu dapat belajar untuk keluar dari zona nyaman dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan serta bersungguh-sungguh menjalankan tantangan hingga berhasil.
3. Berusaha secara sungguh-sungguh
Mengembangkan growth mindset juga melibatkan keyakinan individu bahwa usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik melalui usaha, latihan, dan keinginan untuk terus belajar dari pengalaman, serta terhindar dari pikiran negatif ketika menghadapi kegagalan.
4. Belajar melalui kritik
Belajar melalui kritik dapat meningkatkan growth mindset individu. Hal berikut meliputi kemampuan individu dalam melihat kritikan sebagai pembelajaran untuk dirinya dan sebagai sarana untuk memperbaiki diri agar terwujudnya keberhasilan.
5. Terinspirasi atas kesuksesan orang lain
Meningkatkan growth mindset juga dapat dilakukan dengan menjadikan keberhasilan orang lain sebagai sumber motivasi pribadi untuk berhasil. Belajar melalui perjalanan kesuksesan orang lain membantu individu mempelajari hal-hal positif yang dilakukan orang lain dalam menghadapi kegagalan, mencapai keberhasilan, dan memahami hal-hal yang sebaiknya dihindari agar tidak menghambat proses individu dalam mencapai kesuksesan.
Kesimpulan
Masa remaja dipenuhi oleh berbagai tekanan dan tantangan yang dapat memengaruhi perkembangan psikososialnya. Resiliensi menjadi kemampuan penting agar remaja mampu untuk bertahan dan bangkit dari segala tantangan yang sedang dihadapi. Salah satu faktor yang berperan dalam memperkuat resiliensi adalah growth mindset, sehingga resiliensi dapat ditingkatkan melalui peningkatan aspek-aspek growth mindset pada individu. Growth mindset sendiri merupakan keyakinan bahwa kemampuan dapat selalu berkembang melalui usaha dan proses belajar. Dengan demikian, individu tidak lagi memandang sebuah kegagalan sebagai hasil akhir, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar dan terus berkembang.
“Failure is not the opposite of success; it’s part of success.” — Arianna Huffington
Referensi:
Baldwin, A., Bunting, B., Daugherty, D., Harris, L., & Steenbergh, T. (2020). Promoting belonging, growth mindset, and resilience to foster student success. Stylus.
Calvete, E., Orue, I., Echezarraga, A., Cortazar, N., & Fernández-González, L. (2022). A growth mindset intervention to promote resilience against online peer victimization: A randomized controlled trial. Computers in Human Behavior, 135, 107373. https://doi.org/10.1016/j.chb.2022.107373
Dalimunthe, H. (2024). Rahasia mengembangkan growth mindset. K-Media.
Dweck, C. S. (2007). Change your mindset change your life. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House Publishing Group.
Fadia, S. A., Nadhirah, N. A., & Saripah, I. (2023). Academic Stress Tendencies in Adolescents. Jurnal Neo Konseling, 5(3), 124-132.
Fadly, D., & Islawati. (2024). Tantangan bagi perkembangan psikososial anak dan remaja di era pendidikan modern: Studi literatur. Venn: Journal of Sustainable Innovation on Education, Mathematics and Natural Sciences, 3(2). https://doi.org/10.53696/venn.v3i2.156
Hunter-Hernández, M., Costas-Muñíz, R., & Gany, F. (2015). Missed opportunity: Spirituality as a bridge to resilience in latinos with cancer. Journal of Religion and Health, 54(6), 2367–2375. https://doi.org/10.1007/s10943-015-0020-y
Karuni, B. (2024). Validasi modul pelatihan growth mindset untuk meningkatkan resiliensi siswa SMA. (Unpublished master’s thesis). Universitas Gadjah Mada.
Rasyid, M., Suhesty, A., Rahayu, D., Indayani, N. N., & Adhikarapandita, A. (2023). Growth Your Mindset to Increase Resilience in College Students. Indonesian Journal Of Educational Research and Review, 6(2). https://doi.org/10.23887/ijerr.v6i2.60194
Supriyadi, S., & Kartini, M. (2022). Intervensi untuk Meningkatkan resiliensi pada remaja. Jurnal Keperawatan Karya Bhakti, 8(1), 16–25. https://doi.org/10.56186/jkkb.99
Syam, F. M., & Yusri, F. (2023). Hubungan resiliensi diri dengan prestasi belajar siswa. Jurnal Bikotetik (Bimbingan dan Konseling: Teori dan Praktik), 7(1), 56–62. https://doi.org/10.26740/bikotetik.v7n1.p56-62
Tamimi, L. H., Herardi, R., & Wahyuningsih, S. (2020). Hubungan antara tingkat stres akademik dengan kejadian dispepsia pada siswa kelas xii ipa di sma negeri 81 kota jakarta timur tahun 2019. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 7(3), 143-148. https://doi.org/10.7454/jpdi.v7i3.399
Taufik, S. A. Y., Sinring, A., & Latif S. (2020). Analisis Perilaku Resiliensi Siswa Korban Bullying di SMK Negeri 1 Makassar. Indonesian. Indonesian Journal of School Counseling: Theory, Application and Development. https://eprints.unm.ac.id/36982/1/Artikel%20IJOSC%20Salmi%20Adhawi%20Yah%20Taufik.pdf
Yost, P. R. (2016). Resilience practices. Industrial and Organizational Psychology, 9(2), 475–479. https://doi.org/10.1017/iop.2016.42
