ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 66 September 2026

Usaha Istri, Urusan Siapa?

Oleh:
Puti Archianti Widiasih, Alvin Eryandra, Isra Mega Oktavia
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

 

Menjalankan usaha dari rumah sering dipandang sebagai pilihan ideal bagi perempuan yang telah berkeluarga. Waktu kerja dianggap lebih fleksibel sehingga perempuan dapat menjalankan usaha sekaligus mengurus keluarga. Namun, fleksibilitas tidak selalu membuat kedua peran tersebut mudah dijalankan.

Permintaan mendadak dari pelanggan dapat masuk ketika keluarga sedang makan bersama. Masalah karyawan perlu diselesaikan saat anak membutuhkan perhatian. Sebaliknya, pesanan mungkin harus dibatalkan ketika anak sakit. Kondisi ini menunjukkan bahwa usaha dan keluarga tidak berada dalam dua ruang yang sepenuhnya terpisah.

 

Ketika Tekanan Menjadi Pengalaman Bersama

Kami mempelajari pengalaman enam wirausaha perempuan dan suaminya melalui wawancara yang dilakukan secara terpisah dan dikonfirmasi bersama. Para perempuan tersebut menjalankan beragam usaha, antara lain makanan dan minuman, konsultan manajemen, bakery, produk perawatan kulit, dan laundry. Hasilnya menunjukkan bahwa konflik usaha dan keluarga tidak berhenti sebagai beban istri. Ketika istri kelelahan, suami dapat ikut merasa khawatir, menghadapi perubahan suasana rumah, mengambil alih pengasuhan, atau terlibat dalam penyelesaian masalah usaha.

Dalam psikologi kerja dan keluarga, proses berpindahnya pengalaman dari seseorang kepada pasangannya disebut crossover (Bakker & Demerouti, 2013). Proses ini tidak hanya terjadi melalui penularan emosi. Tekanan istri juga dapat mengubah waktu, perilaku, dan tanggung jawab suami.

 

Dukungan Tidak Selalu Dimaknai Sama

Suami memberikan dukungan dalam berbagai bentuk, seperti mendengarkan keluhan, memberikan modal, membantu pekerjaan rumah, mengasuh anak, mengemas pesanan, dan menangani pelanggan. Dukungan tersebut dapat mengurangi beban dan membantu usaha tetap berjalan.

Namun, tindakan yang dianggap sebagai dukungan oleh suami belum tentu dimaknai sama oleh istri. Salah seorang suami memberikan tambahan modal, tetapi meminta istrinya tidak bekerja pada akhir pekan. Bagi suami, aturan tersebut merupakan cara menjaga waktu keluarga. Bagi istri, batas tersebut membuatnya kehilangan kesempatan bertemu klien dan mengembangkan usaha.

Temuan ini memperlihatkan bahwa dukungan dapat menjadi sumber daya sekaligus batas. Dukungan keluarga memang berperan dalam keberhasilan wirausaha perempuan (Powell & Eddleston, 2013). Akan tetapi, manfaatnya bergantung pada kesesuaian bantuan dengan kebutuhan dan aspirasi perempuan. Bantuan yang disertai pengambilalihan keputusan dapat mengurangi ruang perempuan untuk berkembang (Ning et al., 2025).

 

Menjadi Tim dalam Usaha dan Keluarga

Komunikasi pasangan bukan sekadar menanyakan bantuan apa yang dibutuhkan. Wirausaha perempuan perlu menyampaikan kondisi usaha dan kebutuhannya secara jelas. Sebaliknya, pasangan juga perlu peka dan mengambil tindakan ketika kebutuhan telah terlihat.

 

Pasangan dapat membicarakan pembagian tugas, batas pelayanan pelanggan, perjalanan bisnis, pengasuhan ketika usaha sedang ramai, dan pekerjaan yang dapat didelegasikan. Kesepakatan juga perlu dievaluasi: siapa yang paling sering menyesuaikan diri dan siapa yang kehilangan kesempatan?

 

Usaha dan keluarga tidak harus saling mengalahkan. Keduanya dapat bertumbuh ketika pasangan bersedia membagi tanggung jawab dan menghormati aspirasi masing-masing. Dukungan yang memberdayakan bukan hanya meringankan beban, tetapi juga memberikan ruang bagi perempuan untuk menentukan arah perkembangan usahanya.

 

Referensi:

 

Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2013). The spillover–crossover model. In J. G. Grzywacz & E. Demerouti (Eds.), New frontiers in work and family research (pp. 54–70). Psychology Press. https://doi.org/10.4324/9780203586563

Ning, E. N., Rosa, P., & Cooper, S. (2025). The nature, role and importance of family support for micro-female entrepreneurs from Cameroon. Entrepreneurship & Regional Development, 37(3–4), 549–566. https://doi.org/10.1080/08985626.2024.2394661

Powell, G. N., & Eddleston, K. A. (2013). Linking family-to-business enrichment and support to entrepreneurial success: Do female and male entrepreneurs experience different outcomes? Journal of Business Venturing, 28(2), 261–280. https://doi.org/10.1016/j.jbusvent.2012.02.007