ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 66 September 2026
KPIN dan Budaya Diskusi Ilmiah yang Terbuka
Oleh:
Eko A Meinarno & Dina Syakina
Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
Pengantar
Sebagai pengantar, pembaca perlu memahami bahwa artikel ini adalah kelanjutan dari artikel terdahulu yakni KPIN itu Setara Proyek Manhattan. Di dalam Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN), diskusi ilmiah tidak selalu muncul dalam bentuk yang formal. Kita tidak selalu harus menunggu seminar, konferensi, atau forum resmi untuk berbicara tentang ilmu. Justru yang sering terjadi adalah percakapan-percakapan ringan, berbagi artikel, memberi komentar singkat, atau menanggapi suatu fenomena yang sedang berlangsung. Sekilas, hal ini tampak biasa saja. Namun jika diperhatikan lebih dekat, percakapan tersebut sebenarnya memuat proses ilmiah yang hidup. Di sana terjadi pertukaran ide, penguatan argumen, bahkan koreksi atas pemikiran yang ada. Tanpa disadari, diskusi seperti ini menjadi bagian dari perkembangan pengetahuan itu sendiri.
Diskusi Ilmiah: Tidak Selalu Formal
Dalam dunia akademik, kita terbiasa dengan forum yang terstruktur. Ada agenda, ada waktu bicara, ada ekspektasi bahwa apa yang disampaikan sudah dalam bentuk matang. Hal ini tentu penting sebagai bagian dari pertanggungjawaban ilmiah.
Namun tidak semua ide lahir dalam kondisi yang sudah rapi. Banyak gagasan justru muncul dalam bentuk awal yang sederhana. Di KPIN, ruang seperti ini tersedia. Anggota tidak harus menunggu ide menjadi sempurna untuk berbagi. Kondisi ini mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang melalui publikasi formal, tetapi juga melalui interaksi sosial antarilmuwan. Dalam konteks ini, KPIN menyediakan ruang di mana ide yang masih mentah dapat diuji dan diperkaya bersama.
Kekuatan Diskusi Informal
Percakapan yang ringan justru memiliki kekuatan tersendiri. Dalam suasana yang tidak terlalu formal, orang cenderung lebih terbuka. Pertanyaan dapat diajukan tanpa beban, dan tanggapan dapat diberikan dengan cepat. Pencetus dan perespon tidak perlu khawatir tentang idenya atau pemicu perbincangannya ilmiah atau tidak. Suasana ini yang membedakan organisasi KPIN dan yang lain.
Tidak jarang, di dalam perbincangan lepas di KPIN bagaimana satu artikel yang dibagikan kemudian ditanggapi oleh anggota lain dengan referensi tambahan. Ada yang memperluas sudut pandang, ada pula yang memberikan catatan kritis. Dalam waktu singkat, sebuah topik dapat berkembang menjadi diskusi yang cukup dalam.
Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pengetahuan berkembang melalui interaksi dan kolaborasi, bukan hanya dari kerja individual (Sawyer, 2007; Paavola, Lipponen, & Hakkarainen, 2004). Secara lebih ekstrem kondisi ini didukung oleh Dunbar, antropolog (dengan acuan riset primata) yang menyatakan bahwa ukuran neokorteks primata berkembang seiring meningkatnya kompleksitas hubungan sosial (Dunbar, 2024).
Contoh Nyata di KPIN
Dalam keseharian KPIN, hal ini cukup mudah ditemukan. Misalnya, ada kiriman artikel dari salah satu anggota. Tidak lama kemudian, muncul tanggapan dari anggota lain yang menambahkan referensi atau mengaitkannya dengan konteks Indonesia. Kadang diskusi itu kemudian melebar, melibatkan beberapa rekan (dan mereka dari berbagai kampus yang berbeda) yang saling menimpali.
Pola seperti ini pernah juga terlihat dalam perbincangan yang melibatkan beberapa anggota, yang saling bertukar sumber akademis dan memperkaya diskusi secara terbuka (Meinarno, Putra, Hafiz, & Wardani, 2023). Percakapan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan proses pembentukan pengetahuan. Sebagai contoh, ide lepas dari seseorang tentang ide tulisan yang ditimpali rekan lain, tanpa adanya surat izin atau surat permintaan hibah. Hasilnya adalah muncul kelompok kajian atas sebuah tema dan bahkan menjadi karya tulis bersama.
Diskusi informal yang dilakukan di grup WA KPIN yang seakan percakapan biasa, perlahan menjadi awal dari proses berpikir ilmiah. Gejala ini yang sehari-hari dapat kita lihat di kelas/kuliah saat menjalankan metode belajar ala collaborative learning.
Kekuatan grup WA KPIN adalah ketiadaan struktur formal, tetapi ada isi. Tidak ada moderator, tetapi tetap ada arah. Di dalam grup WA, terdapat ketua pelaksana, dosen biasa, dosen pejabat, sampai guru besar tidak dalam posisi formal. Semua dikondisikan dan diposisikan setara. Ini yang membuat diskusi di KPIN menjadi unik.
Ada hal lain yang menarik untuk diperhatikan dari situasi tersebut, yaitu rasa aman untuk menyampaikan pikiran. Dalam Psikologi Industri dan Organisasi, kondisi ini dikenal sebagai psychological safety atau keamanan psikologis (Edmonsson & Li, 2014) . Secara sederhana, keamanan psikologis merujuk pada keyakinan bahwa seseorang dapat bertanya, menyampaikan pendapat, mengemukakan ketidaksetujuan, atau mengakui bahwa dirinya belum memahami sesuatu tanpa khawatir dipermalukan atau dianggap tidak kompeten.
Dalam kehidupan akademik, kondisi semacam ini tidak selalu mudah ditemukan. Struktur jabatan, senioritas, reputasi akademik, dan perbedaan institusi dapat secara tidak langsung memengaruhi siapa yang merasa nyaman untuk berbicara. Seorang dosen muda mungkin memiliki pertanyaan atau gagasan, tetapi memilih menyimpannya karena khawatir pertanyaannya dianggap terlalu sederhana. Demikian pula, seorang anggota mungkin memiliki pandangan yang berbeda dari anggota yang lebih senior, tetapi merasa sungkan untuk menyampaikannya secara terbuka.
Situasi di KPIN menunjukkan kemungkinan adanya ruang interaksi yang berbeda. Ketika seorang anggota dapat membagikan artikel tanpa harus memastikan terlebih dahulu bahwa bacaan tersebut adalah yang paling mutakhir, atau ketika sebuah pertanyaan sederhana dapat ditanggapi oleh anggota lain dengan referensi dan pengalaman yang relevan, maka terbentuk suasana yang mendukung keterbukaan intelektual. Perbedaan pendapat tidak selalu dipandang sebagai ancaman terhadap hubungan sosial, melainkan sebagai bagian dari proses berpikir bersama.
Rasa aman ini bukan berarti semua orang harus selalu setuju. Justru diskusi ilmiah membutuhkan perbedaan pendapat agar pengetahuan dapat berkembang. Yang diperlukan adalah keyakinan bahwa menyampaikan pendapat tidak akan mengancam hubungan sosial maupun posisi seseorang dalam kelompok. Dalam konteks KPIN, kesetaraan yang dibangun bukan berarti menghilangkan perbedaan jabatan, pengalaman, atau reputasi akademik, melainkan memastikan bahwa perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi pertukaran gagasan.
Dengan demikian, keterbukaan diskusi di KPIN tidak hanya dapat dipahami sebagai akibat dari tidak adanya struktur formal. Ia juga dapat dipahami sebagai hasil dari suasana psikologis yang memungkinkan orang merasa aman untuk berbicara. Ketika rasa aman tersebut hadir, ide yang masih mentah tidak harus disembunyikan, pertanyaan tidak harus ditunda, dan pengetahuan dapat berkembang melalui percakapan bersama.
Pengetahuan yang Tercipta (Tanpa Disadari)
Percakapan-percakapan itu tidak berhenti begitu saja. Ia tercatat, dapat dibaca kembali, dan sewaktu-waktu dapat dikembangkan. Dalam beberapa kasus, ide yang muncul dari diskusi ringan bisa menjadi bahan tulisan atau bahkan program yang lebih besar.
Di sinilah KPIN berperan bukan hanya sebagai tempat berbagi, tetapi sebagai ruang pembentukan pengetahuan bersama. Pengetahuan tidak lagi hanya milik individu, tetapi menjadi hasil interaksi kolektif (Nonaka & Takeuchi, 1995). Konsep ini masih dalam satu golongan besar dari gotong-royong, yakni hubungan timbal-balik yang mendorong individu untuk saling menolong untuk menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan orang lain pada satu waktu, baik untuk tujuan perorangan atau kelompok (Meinarno, Putri, dan Fairuziana, 2019). Hubungan timbal balik ini, ketika diberi tambahan rujukan atau pendapat ilmiah tidak lagi menghasilkan “obrolan biasa”. Dalam ruang akademik, inilah proses ilmiah. Pendapat ditimpali argumentasi, sehingga terjadi pematangan pendapat hingga pengkristalan ide. Ini berarti muncul pengetahuan baru. Proses ini tidak lagi sekedar gotong-royong, ia perlahan bergeser dan menjadi apa yang disebut sebagai Social Brain hypothesis (SBH). Hipotesis Otak Sosial (SBH) mengemukakan bahwa kecerdasan dibentuk oleh interaksi sosial (Dunbar, 2024).
Dalam grup WA, khususnya di KPIN kita ada dalam situasi “terpaksa” untuk dapat mengenali banyak individu, mengingat hubungan antarindividu, memahami kerja sama dan konflik, membangun kepercayaan, sampai memprediksi perilaku orang lain. Hal ini berujung pada banyaknya jaringan. Semakin kompleks jaringan sosial yang harus dikelola, semakin besar pula tuntutan terhadap kemampuan kognitif. Inilah yang kemudian menjadikan diri mengelola hubungan sosial. Dunbar menyebut semakin individu mengelola banyak hubungan sosial, semakin besar kemampuan kognitifnya (Dunbar, 2024). Ini yang disebut sebagai Hipotesis Akal Sosial (SBH).
Tantangan Kecil
Meski demikian, ada hal yang perlu diperhatikan. Diskusi yang terjadi secara informal sering kali tidak terdokumentasi secara sistematis. Banyak ide yang muncul, tetapi tidak semuanya ditindaklanjuti. Akibatnya, potensi yang sebenarnya besar menjadi tidak berkembang optimal. Ini bukan kelemahan, melainkan peluang. Jika sebagian dari percakapan tersebut dapat diolah menjadi tulisan atau program bersama, maka dampaknya bisa jauh lebih luas.
Penutup
Budaya diskusi terbuka merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki KPIN. Dalam suasana yang tidak terlalu kaku, anggota dapat berbagi, bertanya, dan saling menguatkan pemikiran. Tantangannya adalah bagaimana menjaga budaya ini tetap hidup, sekaligus mendorong agar percakapan yang terjadi tidak berhenti sebagai percakapan semata. Di WAG KPIN, ilmu pengetahuan tidak hanya hadir dalam bentuk tulisan formal. Contohnya tulisan ini, hadir dari lanjutan diskusi, obrolan chat, sedikit berpikir dan voilà, jadilah artikel.
Referensi
Dunbar, R. I. M. (2024). The social brain hypothesis—Thirty years on. Annals of Human Biology, 51(1), Article 2359920. https://doi.org/10.1080/03014460.2024.2359920
Edmondson, A. C., & Lei, Z. (2014). Psychological safety: The history, renaissance, and future of an interpersonal construct. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior, 1, 23–43. https://doi.org/10.1146/annurev-orgpsych-031413-091305
Meinarno, E. A. (2026). KPIN itu setara proyek Manhattan.
Meinarno, E. A., Putri, M. A., & Fairuziana. (2019). Isu-isu kebangsaan dalam ranah psikologi Indonesia. In S. E. Hafiz & E. A. Meinarno (Eds.), Psikologi Indonesia. Rajawali Pers.
Meinarno, E. A., Putra, I. E., Hafiz, S. E., & Wardani, L. M. I. (2023). KPIN berembug karir dosen di perguruan tinggi. Buletin KPIN, 9(4). https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1231-kpin-berdiskusi-karir-dosen-di-perguruan-tinggi
Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company. Oxford University Press.
Paavola, S., Lipponen, L., & Hakkarainen, K. (2004). Models of innovative knowledge communities. Review of Educational Research, 74(4), 557–576. https://doi.org/10.3102/00346543074004557
Sawyer, R. K. (2007). Group genius: The creative power of collaboration. Basic Books.
