ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 54 Maret 2026
Dari Guru-Sentris ke Siswa Aktif : Pendekatan Konstruktivis dalam Pembelajaran dari Perspektif Psikologi Pendidikan
Oleh :
Ni Putu Putri Nadia Padmarini, Ni Ketut Anggie Primathini & I Kadek Novalino Ari Candramurti
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Pendidikan abad 21 menuntut adanya transformasi dalam cara belajar dan mengajar agar dapat menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan global. Pendidikan abad 21 menuntut adanya perubahan mendasar dalam pendekatan pembelajaran agar dapat menghasilkan pembelajar yang kreatif, kritis, kolaboratif, dan komunikatif (4C) (Magay et al., 2025). Namun, pada konteks pendidikan di Indonesia, metode mengajar di kelas masih sering berpusat pada guru atau biasa disebut Teacher Centered Learning, di mana guru menjadi sumber utama informasi dan siswa cenderung pasif dalam menerima materi (Asmawi, 2024). Hal ini juga berbanding terbalik dengan standar pendidikan global dan kondisi pembelajaran di tingkat internasional. Penelitian dari jurnal Saipul et al., 2024 membuktikan pendekatan pembelajaran di negara maju cenderung lebih interaktif dan Student Centered, sementara praktik di Indonesia masih sering berorientasi pada metode tradisional. Perbedaan ini menjadi isu penting yang perlu diteliti, terutama dari sudut pandang psikologi pendidikan yang memperhatikan proses belajar dan pertumbuhan mental siswa.
Pembelajaran Guru-Sentris (Teacher Centered Learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pusat utama proses belajar mengajar. Dalam pendekatan ini, guru berperan dominan sebagai penyampai materi dan pengendali aktivitas kelas, sementara siswa cenderung menjadi penerima informasi secara pasif. Penelitian dari Asmawi (2024) menunjukkan bahwa model pembelajaran ini masih banyak diterapkan di sekolah - sekolah Indonesia, terutama melalui metode ceramah, karena dianggap efisien dan mudah dikendalikan. Dari sudut pandang psikologi pendidikan, Teacher Centered Learning memiliki dampak pada proses kognitif dan motivasional siswa. Dominasi guru dalam pembelajaran membatasi keterlibatan aktif siswa, sehingga proses belajar lebih menekankan hafalan dibandingkan pemahaman mendalam. Dalam penelitian Asmawi (2024) juga ditemukan bahwa sistem Teacher Centered Learning menghasilkan siswa yang kurang mampu mengapresiasi ilmu pengetahuan, takut berpendapat, tidak berani untuk mencoba yang pada akhirnya cenderung menjadi siswa yang pasif dan kurang kreatif. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan reflektif siswa kurang berkembang, serta motivasi intrinsik siswa cenderung rendah karena minimnya kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif (George & Siranchuk, 2025). Selain itu, pendekatan Teacher Centered Learning kurang memperhatikan perbedaan individu siswa, seperti minat, kemampuan, dan gaya belajar. Dalam perspektif psikologi perkembangan, kondisi ini dapat menghambat perkembangan kemandirian dan otonomi belajar siswa.
Pendekatan konstruktivis menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui pengalaman belajar, interaksi sosial, dan refleksi terhadap materi. Prinsip ini sejalan dengan Student Centered Learning (SCL), yang menekankan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran melalui diskusi, kolaborasi, dan pemecahan masalah autentik. Penerapan SCL memungkinkan siswa tidak sekedar menerima informasi dari guru, tetapi secara aktif mengkonstruksi pemahaman berdasarkan pengalaman belajar yang bermakna (Salamah & Rifayanti, 2023).
Hasil penelitian dari Salamah & Rifayanti (2023) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis SCL mampu meningkatkan prestasi akademik dan keterampilan sosial siswa sekolah dasar, karena siswa dilatih untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Temuan ini diperkuat oleh studi Nuhandini et al., (2025) yang menunjukkan bahwa SCL efektif meningkatkan aktivitas belajar, motivasi, serta pengetahuan dan keterampilan siswa melalui keterlibatan aktif dan kerja kelompok. Selain itu, optimalisasi SCL melalui penerapan Project Based Learning berbasis peta konsep terbukti mampu meningkatkan keterlibatan dan kemampuan berpikir kritis siswa secara signifikan, karena siswa terlibat langsung dalam proyek kontekstual yang menuntut analisis dan refleksi mendalam (Wati & Sugesti, 2025). Dengan demikian, pendekatan konstruktivis melalui SCL relevan untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa secara holistik.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan konstruktivis dan pembelajaran berpusat pada siswa menjadi relevan karena sistem pendidikan masih didominasi oleh pendekatan pembelajaran top-down yang menempatkan guru sebagai pusat, sementara siswa cenderung berperan pasif. Penelitian Yustiani et al., (2024) menunjukkan bahwa pembelajaran di Indonesia masih berorientasi pada hasil akademik dan persiapan ujian saja, sehingga keterlibatan kognitif, kreativitas, dan partisipasi aktif siswa belum berkembang secara optimal. Dari perspektif psikologi pendidikan, kondisi ini berpotensi menghambat perkembangan kemandirian belajar dan motivasi intrinsik siswa. Pendekatan konstruktivis menawarkan alternatif dengan menempatkan siswa sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui diskusi, proyek, dan interaksi sosial. Secara global, praktik pendidikan di Finlandia yang dikaji dari jurnal Yustiani et al., (2024) merepresentasikan penerapan prinsip konstruktivisme secara konsisten, ditandai dengan pembelajaran berbasis proyek, evaluasi formatif berkelanjutan, serta peran guru sebagai fasilitator. Pendekatan ini mendorong keterlibatan aktif siswa, pengembangan berpikir kritis, dan pembelajaran bermakna. Namun, Yustiani et al., (2024) menegaskan bahwa penerapan pembelajaran berpusat pada siswa perlu disesuaikan dengan konteks sosial, budaya, dan kesiapan sistem pendidikan masing-masing negara. Dengan demikian, konstruktivisme tidak sekadar menjadi tren global, tetapi kerangka psikologis yang menuntut adaptasi kontekstual dalam penerapannya di Indonesia.
Realita pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan Teacher Centered Learning yang menempatkan siswa sebagai penerima informasi pasif. Dari perspektif psikologi pendidikan, pendekatan ini cenderung menghambat motivasi, kemandirian belajar, serta kemampuan berpikir kritis karena pembelajaran lebih menekankan hafalan. Minimnya partisipasi aktif juga membatasi kreativitas dan keberanian siswa dalam berpendapat. Sebagai alternatif, Student Centered Learning( SCL) menawarkan pembelajaran yang lebih bermakna dengan melibatkan siswa secara aktif melalui diskusi, pengalaman, dan pemecahan masalah. Pendekatan ini terbukti meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, penerapan SCL di Indonesia perlu dilakukan secara bertahap dengan langkah praktis seperti penggunaan diskusi kelompok, tugas proyek sederhana, dan penilaian yang memperhatikan proses belajar, agar pembelajaran menjadi lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Referensi:
Asmawi. (2024). View of Penggunaan Model Pembelajaran Teacher Centered Learning Pada Mata Pelajaran PAIBP di SMAN 1 Krembung Sidoarjo. Uluwiyah.ac.id. https://ejournal.uluwiyah.ac.id/index.php/pena/article/view/276/262
Annur, S., Afriantoni, A., Azhari, I., & Haqqi, A. (2023). Sistem pendidikan di Indonesia, Inggris, dan Finlandia: Sebuah studi perbandingan. Edu Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Humaniora, 3(2), 210–220.
https://jurnal.permapendis-sumut.org/index.php/edusociety/article/download/532/440
George, A. S., & Siranchuk, N. (2025). View of From Teacher-Centered to Learner-Driven: A Review of the Progression Towards Student-Centric Education Models and Practices. Pumrj.com. https://www.pumrj.com/index.php/research/article/view/45/33
Magay, D., Relmasira, S. C., & Sanoto , H. (2025). View of Inovasi Pembelajaran Abad 21 di Indonesia: Analisis Praktik, Peluang, dan Tantangan. Ijoed.org. https://ijoed.org/index.php/ijoed/article/view/206/124
Nuhandini, R. S., Aini, N., Alfiah, Z., & Iskandar, S. (2025). Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Sekolah Dasar Melalui Model Pembelajaran Student Centered Learning (SCL). Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 4(1), 233–237. https://doi.org/10.31004/jpion.v4i1.361
Salamah, N. E. R., & Rifayanti, N. Z. E. T. (2024). Pengaruh Pembelajaran Student Centered Learning (SCL) Terhadap Prestasi Akademik dan Keterampilam Sosisal Siswa Kelas II Sekolah Dasar. Caruban Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Dasar, 6(3), 377–384. https://doi.org/10.33603/d4sxv178
Wati, S. I., & Sugesti, I. (2025). Optimalisasi Student Centered Learning melalui Penerapan Project Based Learning berbasis Peta Konsep untuk Meningkatkan Keterlibatan dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. JURNAL JENDELA PENDIDIKAN, 5(03), 479–485. https://doi.org/10.57008/jjp.v5i03.1411
Yustiani, B., Susanti, L. R., Safitri, E. R., & Gulo, F. (2024). STUDI KOMPARATIF SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN FINLANDIA. LEARNING Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan Dan Pembelajaran, 4(4), 1025–1035. https://doi.org/10.51878/learning.v4i4.348
