ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 54 Maret 2026

Memahami Akar Perilaku Mubazir di Bulan Ramadan 

Oleh:

Arina Shabrina1 & Eko A Meinarno2

1Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Bandung

2Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

Pengantar

Bulan Ramadan menyimpan paradoks tersendiri. Bulan yang seharusnya memungkinkan orang-orang untuk lebih berhemat karena menahan diri dari makan dan minum sepanjang hari, justru sering kali menjadi periode dengan pengeluaran yang lebih besar. Kebiasaan yang lazim terlihat menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan adalah orang-orang yang berpuasa sibuk mencari jajanan atau takjil untuk menemani saat berbuka.  Namun di balik kebiasaan tersebut terdapat dampak yang seringkali luput dari perhatian. Makanan dan minuman yang sudah dibeli itu kerap kali tidak habis dikonsumsi. Akibatnya, makanan yang telah dibeli terbuang percuma. Selain itu, penggunaan plastik dan wadah sekali pakai juga meningkatkan volume sampah di bulan Ramadan. Sisa makanan yang terbuang dan tidak dikompos menjadi busuk dan mengeluarkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memicu pemanasan global. Bayangkan jika yang melakukan bukan hanya satu orang pada saat bulan Ramadan tetapi banyak orang dalam waktu yang bersamaan.

Relevansi Kemubaziran dengan Menjaga Lingkungan Hidup

Permasalahan sampah makanan seringkali tidak terlalu dipikirkan oleh masyarakat, padahal dampaknya dapat memicu berbagai persoalan lingkungan dan sosial yang berkepanjangan. Masalah lingkungan hidup yang disebabkan oleh limbah makanan tidak hanya merusak estetika tempat tinggal, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Limbah makanan yang muncul sebagai akibat dari perilaku konsumsi yang berlebihan adalah bentuk penggunaan sumber daya yang tidak efisien (Varjani et al., 2024). Artinya, dalam skala besar membuang-buang makanan yang masih layak konsumsi sama saja seperti menghambur-hamburkan sumber daya lahan, air, energi dan bahan bakar. Perilaku manusia, seperti mubazir dan konsumsi makanan berlebihan yang berkontribusi pada berbagai persoalan lingkungan hidup (Mumpuni & Meinarno, 2025a).

Ramadan Sebagai Konteks Perilaku Mubazir

Bulan Ramadan identik dengan perayaan, tradisi kuliner, meningkatnya asupan makanan, serta kegiatan makan bersama yang seringkali mendorong pembelian dan konsumsi makanan berlebihan hingga berujung pada pemborosan makanan (Hassan & Low, 2024). Konsumsi berlebih juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan tradisi masyarakat. Pada bulan Ramadan, banyak kudapan musiman yang hanya muncul saat puasa, serta meningkatnya jumlah penjual makanan menjelang waktu berbuka. Selain itu, puasa seharian dapat membuat seseorang keliru memperkirakan jumlah makanan yang mampu dikonsumsi. Sensivitas seseorang terhadal imbalan (reward) khususnya pada makanan berperan dalam mengatur pola makan (Mann & Ward, 2025). Ketika merasa lapar, seseorang cenderung terdorong untuk mencari makanan yang lezat dan menarik. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk mencari berbagai jajanan dan mengonsumsi lebih banyak makanan saat berbuka, sehingga sebagian makanan berpotensi tidak termakan.

Ketidaksesuaian Antara Sikap Terhadap Limbah Makanan dan Perilaku Mubazir

Perilaku mubazir yang berkaitan dengan pembuangan makanan pada umumnya dipandang secara negatif. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki sikap negatif terhadap perilaku membuang-buang makanan dan merasakan penyesalan ketika melakukannya, sementara usaha untuk mengurangi limbah makanan dipandang secara positif (Stirnimann & Zizka, 2022; Teoh et al., 2022; Purwanto et al., 2023).  Sikap merupakan penilaian atau evaluasi terhadap suatu perilaku, apakah perilaku tersebut dinilai positif atau negatif, baik atau buruk dan dapat berperan sebagai prediktor dari perilaku (Ajzen, 1991; Glasman & Albarracín, 2006). Namun, hubungan antara sikap dan perilaku tersebut bergantung pada tingkat aksesibilitas sikap serta kestabilannya dari waktu ke waktu. Jika seseorang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup, khususnya terkait perilaku mubazir dan limbah makanan, maka individu tersebut lebih mungkin bertindak selaras dengan sikapnya (Ajzen, 1996). Individu yang memikirkan upaya mengurangi limbah makanan cenderung lebih mampu mencari informasi yang relevan untuk mencegah pemborosan makanan.

Selama bulan Ramadan, tradisi mencari takjil dan kudapan sebelum berbuka puasa bukan hanya tindakan individu, tetapi sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan bersama. Dalam kondisi ini, sikap tidak menjadi prediktor utama dari suatu perilaku.  Banyaknya orang yang membeli makanan untuk berbuka, bahkan saling mengajak dapat mendorong orang lain melakukan hal yang serupa. Persepsi mengenai adanya tekanan sosial dari orang lain ketika seseorang memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku dikenal sebagai norma subjektif (Ajzen, 1991). Oleh karena itu, keputusan untuk membeli takjil dan makanan secara berlebihan tidak terlepas dari pandangan dan ekspektasi sosial di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang memiliki sikap negatif terhadap pemborosan makanan, persepsi terhadap tekanan dan ekspektasi sosial tetap dapat mendorong perilaku mubazir. Persepsi ini juga mencakup apakah orang-orang di sekitarnya akan mendukung dan memberikan respon positif jika ia membeli jajanan secara berlebihan.

 

Kesenjangan antara sikap dan perilaku terjadi karena adanya “biaya” atau pengorbanan yang perlu dilakukan untuk menampilkan suatu perilaku (Kaiser et al., 2021). “Biaya” ini dapat berupa penggunaan sumber daya personal, seperti waktu, uang dan usaha yang harus dikerahkan. Sebagian orang juga menganggap bahwa penyebab perilaku membuang makanan berada di luar kendali dirinya sehingga sulit untuk menghabiskan makanan yang telah dibeli (Nabi et al., 2021). Dalam konteks Ramadan, perilaku mubazir dapat muncul karena seseorang merasa tidak mampu menghabiskan makanan setelah kenyang atau ragu apakah makanan masih dapat dikonsumsi keesokan harinya karena waktu makan yang terbatas pada sahur dan berbuka. Akibatnya, membuang makanan sering dianggap lebih mudah daripada menyimpan atau menghabiskannya. Ketika perilaku ramah lingkungan dipersepsikan membutuhkan usaha atau pengorbanan lebih, pengaruh sikap terhadap perilaku menjadi lebih lemah (Farjam et al., 2019). Hal ini menjelaskan bahwa meskipun seseorang memiliki sikap negatif terhadap pemborosan makanan, perilaku tersebut belum tentu dapat dihindari jika dianggap membutuhkan usaha yang besar.

Penutup

Pada dasarnya, puasa di bulan Ramadan mengajarkan pengendalian diri, kesederhanaan, dan menghindari pemborosan. Namun, pada kenyataannya perilaku mubazir, seperti pembelian makanan berlebihan yang akhirnya tidak termakan, masih sering terjadi. Dampak lingkungan hidup dari penumpukan limbah makanan dan meningkatnya volume sampah tidak langsung terasa. Selain itu, sikap negatif terhadap perilaku membuang makanan tidak selalu mendorong seseorang untuk mengurangi pemborosan. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan hidup penting agar individu dapat mengambil tindakan untuk mengurangi dampak negatif dari kerusakan lingkungan (Mumpuni & Meinarno, 2025b).

 

Daftar Pustaka:

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational behavior and human decision processes50(2), 179-211.

Ajzen, I. (1996). The directive influence of attitudes on behavior. The psychology of action: Linking cognition and motivation to behavior385.

Farjam, M., Nikolaychuk, O., & Bravo, G. (2019). Experimental evidence of an environmental attitude-behavior gap in high-cost situations. Ecological Economics166, 106434.

Glasman, L. R., & Albarracín, D. (2006). Forming attitudes that predict future behavior: a meta-analysis of the attitude-behavior relation. Psychological bulletin132(5), 778.

Hassan, S. H., & Low, E. C. (2024). Spur of the moment: the unintended consequences of excessive food purchases and food waste during Ramadan. British Food Journal126(7), 2732-2745.

Kaiser, F. G., Kibbe, A., & Hentschke, L. (2021). Offsetting behavioral costs with personal attitudes: A slightly more complex view of the attitude-behavior relation. Personality and Individual Differences183, 111158.

Mann, T., & Ward, A. (2025). The self-control of eating. Annual review of psychology76(1), 87-114.

 

Mumpuni, I.D., & Meinarno, E.A. (2025a). Peranan Psikologi dalam Isu Lingkungan. Buletin KPIN. Vol.11 No.40 Agustus 2025. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1859-peranan-psikologi-dalam-isu-lingkungan

Mumpuni, I.D., & Meinarno, E.A. (2025b). Mengapa Lingkungan Menjadi Bagian dari Isu Psikologi. Buletin KPIN. Vol.11 No.29 Maret 2025. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1732-mengapa-lingkungan-menjadi-bagian-dari-isu-psikologi

Nabi, N., Karunasena, G. G., & Pearson, D. (2021). Food waste in Australian households: Role of shopping habits and personal motivations. Journal of Consumer Behaviour20(6), 1523-1533.

Purwanto, E., Biasini, N., Yulianto, A., Gunawan, T., & Wati, V. O. (2023, April). Attitude, intention, and behavior to reduce food waste among generation X. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1168, No. 1, p. 012056). IOP Publishing.

Stirnimann, A., & Zizka, L. (2022). Waste not, want not: Managerial attitudes towards mitigating food waste in the Swiss-German restaurant industry. Journal of Foodservice Business Research25(3), 302-328.

Teoh, C. W., Koay, K. Y., & Chai, P. S. (2022). The role of social media in food waste prevention behaviour. British Food Journal124(5), 1680-1696.

Varjani, S., Vyas, S., Su, J., Siddiqui, M. A., Qin, Z. H., Miao, Y., ... & Lin, C. S. K. (2024). Nexus of food waste and climate change framework: Unravelling the links between impacts, projections, and emissions. Environmental Pollution344, 123387.