ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 67 Oktober 2026

Kemerdekaan dalam Perspektif Psikologis: Antara Rasa Bangga, Harapan, dan Kecemasan

Oleh:

Muhammad Hadras

Fakultas Psikologi Unjani, Asosiasi Psikologi Militer Indonesia

 

81 Tahun Kemerdekaan sejak tahun 1945 sampai kini 2026: Ketika Merah Putih Berkibar tertiup angin, setiap bulan Agustus, Indonesia seperti mempunyai cara sendiri untuk mengingat bahwa ia pernah menjadi sebuah bangsa yang sangat ingin Merdeka selanjutnya melalui jalan panjang akhirnya merdekan. Sekarang jalan-jalan dihiasi bendera merah putih. Gang-gang sempit dipasangi umbul-umbul. Anak-anak berlari membawa bendera kecil di tangan mereka, sementara orang-orang dewasa sibuk mempersiapkan lomba seperti panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, dan berbagai permainan yang entah sejak kapan menjadi bagian dari ritual tahunan atas nama kemerdekaan.

 

Delapan puluh satu tahun sesungguhnya adalah waktu yang cukup panjang. Cukup panjang untuk membuat seorang bayi menjadi kakek. Cukup panjang untuk membuat sebuah rumah sederhana berubah menjadi bangunan bertingkat. Cukup panjang pula untuk membuat sebuah bangsa bertanya kepada dirinya sendiri: sesungguhnya, apa yang telah kita capai dari kemerdekaan itu?

Demi Tuhan pertanyaan itu mungkin terdengar terlalu serius untuk sebuah bulan yang seharusnya penuh kegembiraan. Sebab Agustus adalah bulan pesta. Bulan ketika orang-orang tersenyum lebih banyak, ketika anak-anak berteriak lebih keras, dan ketika ibu-ibu rela kehilangan sendal demi berebut hadiah lomba. Namun, di balik suara tawa itu, ada suara lain yang barangkali tidak terdengar oleh pengeras suara panitia tujuhbelasan.

 

Suara perut yang lapar. Suara orang tua yang bingung membayar kebutuhan sekolah anaknya. Suara pekerja yang setiap pagi berangkat sebelum matahari muncul, tetapi masih harus menghitung uang belanja dengan cermat sebelum bersih bersih lalu tidur.

Dan disejumlah sudut kota, ada tangan-tangan yang terulur kepada orang lain, berharap belas kasihan menjadi penyambung hidup untuk hari berikutnya bahkan ada yang meminta sumbangan untuk merayakan kemerdekaan. Jujur pemandangan itu terasa ganjil. Di satu sisi, kita memasang bendera sebagai simbol kebebasan. Di sisi lain, sebagian saudara kita masih harus berdiri di persimpangan jalan, mengetuk kaca kendaraan, atau menengadahkan tangan kepada orang yang bahkan tidak mereka kenal. Kita merayakan kemerdekaan dengan perlombaan dan pesta rakyat, sementara sebagian masyarakat masih berjuang keras untuk memperoleh sesuatu yang jauh lebih sederhana: makan, minum dan kesempatan untuk hidup dengan layak.

 

Tentu meminta-minta tidak selalu lahir dari kemalasan. Kehidupan tidak sesederhana nasihat yang sering kita dengar: kalau mau bekerja, pasti ada jalan. Tidak semua orang memulai perjalanan dari garis yang sama. Ada yang dilahirkan dengan pendidikan yang baik, keluarga yang mampu, jaringan sosial yang luas, dan kesempatan yang terbuka. Ada pula yang sejak kecil sudah akrab dengan kemiskinan, pendidikan yang terputus, pekerjaan yang tidak pasti, serta kehidupan yang memaksa mereka memikirkan hari ini sebelum sempat membayangkan hari esok.

Karena itu, persoalan meminta-minta bukan sekadar persoalan perilaku seseorang. Di balik tangan yang menengadah, mungkin ada sejarah panjang tentang kemiskinan. Di balik seseorang yang duduk di pinggir jalan, mungkin ada pendidikan yang tidak pernah selesai. Di balik seorang ibu yang membawa anaknya meminta belas kasihan, mungkin ada pekerjaan yang tidak tersedia. Dalam pidato menjelang dan sekitar Proklamasi, Soekarno memandang kemerdekaan sebagai hasil dari perjuangan panjang bangsa Indonesia, bukan pemberian dari bangsa lain. Dalam pidatonya pada 17 Agustus 1945, Soekarno menegaskan bahwa perjuangan menuju kemerdekaan telah berlangsung berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun, dengan gelombang perjuangan yang naik dan turun, tetapi cita-cita kemerdekaan tetap menjadi arah perjuangan bangsa (Soekarno 1945). Artinya, kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai ketika Proklamasi dibacakan. Proklamasi adalah pintu masuk menuju pekerjaan besar berikutnya: membangun negara yang mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut.

 

Kemudian pemikiran Mohammad Hatta mengenai kemerdekaan juga tidak dapat dilepaskan dari gagasan kedaulatan rakyat, demokrasi, dan kesejahteraan sosial. Dalam kerangka pemikiran Hatta, kemerdekaan politik memiliki makna yang lebih luas ketika rakyat memiliki kesempatan untuk menentukan kehidupannya sendiri dan memperoleh kesejahteraan (Hatta 1953). Sebuah bangsa bisa saja telah berdaulat secara politik, tetapi persoalan kemerdekaan masih akan terus berlanjut ketika sebagian rakyat menghadapi kemiskinan, keterbatasan kesempatan kerja, ketimpangan, dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.

Maka menjadi menarik ketika kita bertanya tentang makna kemerdekaan dari sudut pandang mereka. Apa arti kemerdekaan bagi seseorang yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar? Apa arti kebebasan bagi seseorang yang setiap hari harus memikirkan apakah besok masih mempunyai uang untuk makan? Dan apa arti sebuah perayaan kemerdekaan bagi mereka yang hidupnya masih dibatasi oleh keadaan serta keterbatasan ekonomi?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk mengurangi rasa syukur terhadap kemerdekaan. Justru sebaliknya. Kemerdekaan semestinya tidak berhenti sebagai sebuah tanggal dalam kalender, sebuah upacara, atau sebuah lagu yang dinyanyikan setiap bulan agustus. Kemerdekaan seharusnya menjadi perjalanan panjang untuk memastikan bahwa semakin banyak manusia Indonesia merasa dan memiliki kesempatan untuk hidup bermartabat. Sebab sangat mungkin sebuah bangsa telah bebas dari penjajahan, tetapi sebagian besar rakyatnya masih belum sepenuhnya bebas dari rasa takut terhadap hari esok. Mereka bebas mengibarkan bendera, tetapi belum tentu bebas dari kecemasan yang terus menghantui semisal membayar kontrakan, besok makan apa atau mau sekolah pakai apa. Mereka bebas menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi belum tentu bebas memilih pekerjaan yang mereka inginkan. Mereka bebas mengatakan bahwa Indonesia telah merdeka selama 81 tahun, tetapi sebagian dari mereka mungkin masih bertanya-tanya kapan kehidupan mereka benar-benar akan terasa merdeka dan berubah menjadi lebih sejahtera.

Merdeka bukan sekadar tidak dikendalikan oleh orang lain, tetapi memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan secara autentik dan bertanggung jawab sebagai individu (Fromm 1941). Dalam perspektif psikologi kemerdekaan sebagai autonomy dan self-determination karena manusia mempunyai tiga kebutuhan psikologi dasar yakni Autonomy yaitu merasa bahwa dirinya memiliki pilihan dan kehendak dalam menentukan perilakunya, kedua Competence yaitu merasa mampu dan memiliki kapasitas untuk menghadapi kehidupan, ketiga Relatedness yaitu merasa terhubung dan memiliki hubungan bermakna dengan orang lain artinya tindakan yang dilakukan berasal dari pilihan dan kemauan dirinya sendiri, bukan semata-mata karena dikontrol oleh pihak luar (Ryan 2017)

 

Kemerdekaan semestinya tidak hanya dirayakan, tetapi juga direnungkan.

Ketika kemerdekaan dirayakan, faktanya masih ada rakyat yang berjuang mengemis dijalanan hanya untuk makan. Merdeka diatas kertas tapi sulit dalam kehidupan adalah potret bangsa ini yang setiap tahun ada diantara perayaan kemerdekaan Indonesia khususnya di perkotaan.

Merah putih bukan hanya kain yang berkibar di depan rumah. Merah adalah keberanian untuk melihat kenyataan. Putih adalah ketulusan untuk mengakui bahwa masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai. Dan mungkin, setelah 81 tahun, bentuk perjuangan kita memang telah berubah. Dahulu para pahlawan berjuang mengusir penjajah dari tanah air. Hari ini, perjuangan itu logis berbentuk usaha menyediakan pendidikan yang lebih baik, membuka lapangan pekerjaan, mengurangi ketimpangan, melindungi kelompok rentan, dan menciptakan masyarakat yang memungkinkan setiap orang memperoleh penghidupan yang layak.

Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan bambu runcing, hari ini ia mungkin dan harus diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan, kebijakan yang adil, kesempatan ekonomi, kepedulian sosial, dan keberanian untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Maka ketika nanti bendera merah putih berkibar lagi di bulan Agustus, barangkali kita tidak hanya perlu bertanya, “Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?” Tetapi juga perlu bertanya dengan lebih pelan: “Sudah berapa banyak rakyat yang benar-benar merasakan kemerdekaan itu dalam kehidupan sehari-hari?” Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya mungkin bukan hanya ketika kita mampu merayakannya dengan meriah.

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika seorang anak tidak perlu meminta-minta untuk membantu keluarganya makan, ketika seorang ibu tidak harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya sekolah, dan ketika setiap orang memiliki kesempatan untuk berdiri dengan kakinya sendiri tanpa harus kehilangan martabatnya.

 

Delapan puluh satu tahun Indonesia Merdeka, bendera akan terus berkibar, lagu kebangsaan akan terus dinyanyikan, lomba-lomba akan terus berlangsung. Namun, di antara riuh tepuk tangan dan tawa anak-anak itu, semoga kita tidak lupa mendengar satu pertanyaan kecil yang mungkin datang dari sudut jalan “Apakah kemerdekaan juga sudah sampai kepadaku?” Wallahu a’lam

 

Referensi

Fromm, E. 1941. Escape from Freedom. New York: Farrar & Rinehart.

Hatta, Mohammad. 1953. Kumpulan Pidato, digunakan untuk menelusuri pemikiran Hatta mengenai demokrasi, kedaulatan rakyat, dan pembangunan kehidupan sosial-ekonomi. Jakarta: Idayu Press.

Ryan, R. M., & Deci, E. L. 2017. Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. New York: Guilford Press.

Soekarno. 1945. Pidato Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Untuk konteks sejarah dan pemikiran Soekarno mengenai perjuangan kemerdekaan, Jakarta: youtube.