ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 64 Agustus 2026
Belajar dari Jude Bellingham dan Erling Halland:
Bromance dalam Psikologi
Oleh:
Lenny Utama Afriyenti & Arfian
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Pendahuluan
Jude Bellingham dan Erling Halland menjadi figur yang paling banyak dicari videonya belakangan ini melalui berita, short video dan lini masa media sosial. Sejak pertemuan Inggris vs Norwegia di Perempat Final Piala Dunia 2026 lalu, dunia semakin mengetahui fakta tentang kedekatan mereka. Siapa yang menyangka bahwa mereka memiliki hubungan dekat selama membela klub yang sama di Borussia Dortmund.
Dalam psikologi, kedekatan antar lelaki seperti ini dikenal sebagai ‘Bromance’. Istilah ‘bromance’ merupakan perpaduan dua kata yakni, brother dan romance yang merupakan gambaran ikatan emosional yang akrab, bersifat dalam dan non seksual antara dua lelaki. Bromance ditandai dengan adanya keterbukaan emosional, kepercayaan tinggi, serta kedekatan fisik seperti pelukan tanpa disertai ketertarikan yang romantis (Pace, 2024).
Definisi dan Karakteristik
Penelitian Robinson et al., (2018) terhadap 30 mahasiswa lelaki di Inggris menjadi salah satu kajian akademik pertama yang secara sistematis mengeksplorasi bromance. Studi ini menemukan bahwa seluruh responden mendefinisikan bromance sebagai relasi atau hubungan yang secara emosional jauh lebih dalam dibandingkan dengan persahabatan biasa, ditandai oleh tingkat keintiman fisik yang cukup tinggi termasuk berpelukan bahkan berbagi tempat tidur tanpa adanya ketertarikan seksual diantara keduanya. Kuzner, (2019) dalam Psychology Today turut mencatat bahwa keintiman fisik merupakan penanda penting dari bromance, sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa 37 dari 40 pria olahragawan heteroseksual yang diteliti pernah berbagi tempat tidur dengan teman prianya sebagai bentuk kedekatan dan bukan hubungan seksual.
Manfaat Bromance dalam Psikologi
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa bromance memberikan kebaikan bagi kesehatan mental secara signifikan. Studi mengungkapkan bahwa bromance memberi lelaki ruang untuk mencapai stabilitas emosi yang lebih baik, pengungkapan diri yang lebih terbuka, pemenuhan kebutuhan sosial serta kemampuan resolusi konflik yang lebih baik, dibandingkan yang mereka rasakan dalam hubungan romantis dengan pasangan perempuan mereka. Artinya secara sosial dan psikologis, bromance dapat berfungsi sebagai sumber dukungan emosional yang melengkapi, bukan menggantikan hubungan romantis seseorang.
Selain itu, bromance berpotensi menjadi ruang penting bagi kesejahteraan psikologis lelaki. Relasi ini memberi tempat untuk mengungkapkan emosi dan pembahasan isu-isu sensitif atau bahkan traumatis yang selama ini sulit diungkapkan oleh para lelaki. Mengingat lelaki secara umum relatif lebih sedikit mencari dukungan emosional dibanding kaum perempuan, serta mereka lebih rentan mengalami kesepian emosional akibat norma maskulinitas yang membatasi ekspresi perasaan, sehingga kehadiran konsep bromance dianggap dapat berfungsi sebagai penyangga psikologis yang signifikan (Robinson et al., 2018).
Dukungan sosial ini juga memiliki dasar biologis manusia. Penelitian pada tikus jantan yang dilakukan oleh ilmuwan University of California, Berkeley menemukan bahwa interaksi sosial dapat meningkatkan kadar hormon oksitosin di otak. Seperti yang diketahui bahwa hormon oksitosin berperan dalam memperkuat ikatan sosial dengan orang lain serta dapat meningkatkan ketahanan terhadap stress. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa stress ringan justru dapat mendorong perilaku sosial dan kooperatif yang lebih tinggi pada individu jantan. Bagi peneliti, hal ini dianggap sebagai sebuah pola relevan untuk memahami bagaimana mekanisme koping terhadap tekanan hidup (Sanders, 2016).
Kesimpulan
Bromance merupakan fenomena psikologis dan sosial yang mencerminkan evolusi nilai maskulinitas kontemporer, dari relasi lelaki yang emosional terbatas menjadi relasi yang lebih terbuka, saling suportif dan intim secara emosional seperti halnya yang terlihat pada kedekatan Jude Bellingham dan Erling Halland. Berbagai kajian menunjukkan bahwa bromance memberi manfaat nyata bagi kesehatan mental laki-laki, mulai dari stabilitas emosi hingga ketahanan terhadap stress, sekaligus menjadi cerminan berkurangnya stigma sosial terhadap ekspresi afeksi antar sesama lelaki. Diharapkan penelitian psikologi dapat terus mengeksplorasi bagaimana bromance berinteraksi dengan aspek-aspek kesehatan mental serta bagaimana budaya diluar konteks barat seperti Indonesia yang merupakan budaya timur dapat memaknai fenomena ini dengan lebih objektif.
Referensi
Kuzner. (2019, February 4). When Is a Friendship a Bromance? Two Tests. Psychology Today.
Pace. (2024, January 9). What Is Bromance? Understanding Male Friendships and Bonds. Marriage.Com.
Robinson, S., Anderson, E., & White, A. (2018). The Bromance: Undergraduate Male Friendships and the Expansion of Contemporary Homosocial Boundaries. Sex Roles, 78(1–2), 94–106. https://doi.org/10.1007/s11199-017-0768-5
Sanders. (2016, March 3). Bromances may be good for men’s health. UC Berkeley News.