ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 61 Juli 2026
Krisis Akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan Kehilangan Jati Diri: Pentingnya Peran Komunitas dalam Mendukung Pemulihan Individu
Oleh:
Ardiningsih, Bintang Matita, Eni Widiarti, Inez Aqkinzsa W., Ni Putu Sista, Nindi Lallita Sukma, Shafira Yasmine
Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba bukan hanya sekadar masalah finansial. Bagi banyak orang, pemutusan hubungan kerja (PHK) membawa guncangan yang jauh lebih dalam karena menyentuh berbagai dimensi kehidupan sekaligus, mulai dari kestabilan ekonomi hingga ketenangan emosional. Dalam kerangka konseling krisis, kondisi seperti ini masuk dalam kategori krisis ketika tuntutan yang dihadapi individu melampaui kemampuan koping yang dimilikinya (James & Gilliland, 2017). Di Indonesia, PHK bukan fenomena yang jarang terjadi. Gelombang pemutusan hubungan kerja besar-besaran selama pandemi COVID-19 menjadi bukti nyata bahwa situasi ini bisa menimpa siapa saja secara mendadak, tanpa persiapan yang memadai (Putri et al., 2021). Fakta ini menegaskan bahwa PHK perlu dipahami bukan hanya sebagai persoalan lapangan kerja, melainkan juga sebagai peristiwa yang berpotensi memicu krisis psikologis serius.
Jauh sebelum seseorang kehilangan pekerjaannya, pekerjaan itu sendiri sudah menjadi bagian dari cara individu mendefinisikan dirinya. Lebih dari sekadar penghasilan, pekerjaan memberi individu rasa berharga, identitas, dan posisi di tengah masyarakat (Blustein et al.,2019). Karena itulah, saat pekerjaan itu hilang, yang lenyap bukan hanya sumber pendapatan. Individu turut kehilangan rutinitas harian, jaringan interaksi sosial, rasa memiliki tujuan, dan status yang melekat pada peran profesionalnya (Blustein et al., 2019). Bagi sebagian orang, kehilangan ini terasa seperti kehilangan diri sendiri.
Dampak psikologis dari PHK tidak berhenti pada perasaan cemas di hari pertama kehilangan pekerjaan. Kajian longitudinal terkini mengonfirmasi bahwa individu yang kehilangan pekerjaan menghadapi risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi, kecemasan berkepanjangan, stres kronis, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan (Sterud et al., 2025). Dengan kata lain, PHK meninggalkan jejak psikologis yang tidak mudah pulih hanya dengan mendapatkan pekerjaan baru.
Yang tidak kalah penting untuk dipahami adalah bagaimana PHK memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika pekerjaan menjadi pusat dari identitas seseorang, kehilangannya bisa memicu krisis yang lebih dari sekadar masalah praktis. Rasa percaya diri mulai terkikis, muncul keraguan terhadap kemampuan diri, dan arah hidup terasa kabur tiba-tiba (Krauss & Orth, 2022). Dengan demikian, PHK bukan hanya mengubah kondisi eksternal seseorang, tetapi juga mengguncang fondasi psikologisnya dari dalam.
Di hari-hari pertama setelah PHK, reaksi yang muncul seringkali terasa membingungkan bagi individu itu sendiri. Ada yang syok, ada yang marah, ada pula yang tiba-tiba merasa hampa dan tidak berdaya. Semua respons ini sejatinya wajar, sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap perubahan mendadak yang tidak pernah direncanakan (Saviera et al., 2022).
Di saat seperti inilah kehadiran orang-orang terdekat menjadi sangat berarti. Dukungan sosial terbukti membantu individu menstabilkan kondisi emosionalnya di tengah guncangan akibat PHK. Sumber dukungan ini pun tidak terbatas pada keluarga inti, tetapi mencakup teman sebaya, tetangga, komunitas hobi atau keagamaan, hingga kelompok dukungan sebaya yang sering kali menjadi tempat berbagi tanpa rasa malu (Putri et al., 2021).
Salah satu dampak yang paling sering diabaikan dari PHK adalah rasa kesepian. Studi sistematis menunjukkan bahwa kehilangan pekerjaan secara signifikan meningkatkan pengalaman kesepian pada individu, dan kehadiran dukungan sosial menjadi pelindung penting yang dapat meredam efek tersebut (Morrish & Medina-Lara, 2021). Tak hanya melalui kehadiran emosional, komunitas juga bisa memberikan bantuan yang sifatnya lebih konkret, misalnya berbagi informasi lowongan kerja, menghubungkan seseorang dengan peluang baru, atau menyediakan forum di mana pengalaman serupa bisa dibicarakan tanpa rasa malu (Putri et al., 2021). Bentuk dukungan sederhana seperti ini sering kali menjadi titik balik yang menggerakkan kembali semangat seseorang.
Lebih dari sekadar mengurangi stres, dukungan sosial ternyata berperan langsung dalam membentuk ketangguhan psikologis individu. Individu yang merasa didukung oleh lingkungannya terbukti memiliki kapasitas resiliensi yang lebih tinggi di mana mereka lebih siap menghadapi tekanan, lebih cepat bangkit, dan lebih mampu menjaga kesejahteraan psikologisnya (Cao et al., 2024; Putri et al., 2021). Akses terhadap informasi pelatihan, pendampingan pencarian kerja, maupun sekadar ruang untuk berbagi cerita dengan orang yang pernah mengalami hal serupa, semua itu secara perlahan membangun kembali kepercayaan diri yang sempat runtuh (Putri et al., 2021).
Di sinilah peran komunitas menjadi sangat nyata. Ketika seseorang merasa diterima dan diakui oleh kelompoknya, rasa memiliki (sense of belonging) itu tumbuh dan membantu individu melapangkan cara pandangnya terhadap situasi yang sedang dihadapi (Muqsith & Abidin, 2023). Komunitas yang suportif juga mampu mendorong tumbuhnya hal-hal positif dalam diri seseorang, seperti rasa syukur atas apa yang masih dimiliki dan harapan bahwa masa depan masih bisa diubah. Lingkungan yang seperti ini memungkinkan individu untuk memaknai ulang pengalamannya secara lebih adaptif, dan dari situ membangun optimisme yang perlahan-lahan menjadi bahan bakar untuk melangkah maju (Amadhea et al., 2024; Fredrickson, 2013).
Dari seluruh uraian di atas, satu hal menjadi jelas: dukungan sosial dan komunitas bukan sekadar pelengkap dalam proses pemulihan, melainkan bagian yang tidak bisa dipisahkan. Kelompok dukungan, pelatihan keterampilan, pendampingan pencarian kerja, hingga layanan konseling berbasis komunitas semuanya merupakan bentuk nyata dari peran yang bisa diambil oleh lingkungan sosial (Putri et al., 2021). Ini bukan pendekatan yang bersifat idealis, melainkan strategi konkret yang terbukti mampu mempercepat pemulihan individu.
PHK adalah peristiwa yang kompleks. Ia bukan hanya krisis ekonomi, melainkan juga krisis identitas, krisis emosional, dan krisis makna yang berlangsung secara bersamaan. Namun justru di sinilah komunitas membuktikan nilainya yang sesungguhnya. Keluarga hadir dengan kehangatan emosional, sahabat mengingatkan bahwa seseorang tidak perlu menanggung semuanya sendiri, dan komunitas yang lebih luas membuka jalan menuju peluang baru dan informasi yang dibutuhkan. Melalui seluruh lapisan dukungan itu, individu tidak hanya mampu melewati titik terberat dalam hidupnya, tetapi juga menemukan kembali siapa dirinya dan menghadapi masa depan dengan harapan yang jauh lebih kuat (Amadhea et al., 2024; Fredrickson, 2013).
Referensi
Amadhea, F. S., Romadhon, C. D., & Maulania, P. S. (2024). Hubungan antara kebersyukuran dengan resiliensi pada pekerja yang mengalami PHK akibat pandemi COVID-19. Jurnal Psikologi, 2(1), 1–13.
Blustein, D. L., Kenny, M. E., Di Fabio, A., & Guichard, J. (2019). Expanding the impact of the psychology of working: Engaging psychology in the struggle for decent work and human rights. Journal of Career Assessment, 27(1), 3–28. https://doi.org/10.1177/1069072718774002
Cao, X., Li, Y., Xin, T., & Cai, Y. (2024). Impact of social support on the resilience of youth: Mediating effects of coping styles. Frontiers in Public Health, 12, 1331813. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1331813
Fredrickson, B. L. (2013). Positive emotions broaden and build. In P. Devine & A. Plant (Eds.), Advances in experimental social psychology (Vol. 47, pp. 1–53). Academic Press. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-407236-7.00001-2
James, R. K., & Gilliland, B. E. (2017). Crisis intervention strategies (8th ed.). Brooks/Cole Cengage Learning.
Krauss, S., & Orth, U. (2022). Work experiences and self-esteem development: A meta-analysis of longitudinal studies. European Journal of Personality, 36(6), 849–869. https://doi.org/10.1177/08902070211027142
Morrish, N., & Medina-Lara, A. (2021). Does unemployment lead to greater levels of loneliness? A systematic review. Social Science & Medicine, 287, 114339. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2021.114339
Muqsith, H. R., & Abidin, Z. (2023). Bangkit dari keterpurukan: Studi kasus resiliensi pada kepala rumah tangga yang pernah mengalami PHK. Jurnal Psikologi, 18(5).
Putri, H. R., Pratiwi, M., & Anggraini, D. (2021). Dukungan sosial terhadap resiliensi karyawan yang mengalami PHK di masa pandemi COVID-19. Psychology Journal of Mental Health, 3(1), 38–53.
Saviera, B., Hindungan, Z. R., & Abidin, Z. (2022). Strategi koping karyawan yang mengalami PHK di masa pandemi. PSYCHE: Jurnal Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung, 4(1), 1–15.
Sterud, T., Lunde, L.-K., Berg, R., Proper, K. I., & Aanesen, F. (2025). Mental health effects of unemployment and re-employment: A systematic review and meta-analysis of longitudinal studies. Occupational and Environmental Medicine, 82(7), 343–353. https://doi.org/10.1136/oemed-2025-110194