ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 61 Juli 2026
Aldi Taher sang Filsuf Absurd: Membedah Praktik Stoikisme dan Resiliensi Mentalnya
Oleh:
M Zulfikar Triadi Sucipto
Magister Psikologi Sains, Universitas Sumatera Utara
Mari sejenak menepikan standar kewarasan publik dan menatap etalase industri hiburan kita. Di sana, berdiri seorang anomali bernama Aldi Taher. Pada fase awal kemunculannya kembali, ia nyaris menjadi sasaran empuk perundungan massal berkat parade absurditas yang seolah tak ada habisnya. Mulai dari merilis lagu-lagu instan berbekal gitar dengan judul provokatif seperti "Nissa Sabyan I Love You So Much", hingga manuver politik yang melampaui batas nalar. Bayangkan saja, ia pernah mewacanakan diri maju di Pilkada Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, hingga melirik Cianjur pada tahun 2020. Puncaknya pada Pemilu 2024, ia terdaftar sebagai caleg DPR RI di dua partai berbeda secara bersamaan, bahkan dengan penuh keyakinan sempat mendeklarasikan niatnya maju sebagai Calon Presiden Amerika Serikat. Ketika seluruh rentetan langkah politik itu kandas, dengan wajah tanpa dosa ia mengakui bahwa dirinya sekadar "dipinang untuk menaikkan suara".
Awalnya, warganet dan sesama figur publik tanpa ampun melempar cacian. Ia dilabeli caper, urat malu putus, hingga dituduh kehilangan akal sehat. Namun, seiring berjalannya waktu, sebuah pergeseran persepsi yang menarik terjadi; hujatan itu perlahan mereda dan berevolusi menjadi simpati, senyum maklum, hingga pujian. Masyarakat mulai mengendus adanya kejujuran yang brutal di balik tingkah konyol tersebut. Jika kita membedah fenomena balik arahnya opini publik ini menggunakan pisau analisis psikologi, kita akan menemukan bahwa Aldi Taher sejatinya sedang mempertontonkan salah satu bentuk resiliensi mental dan praktik Stoikisme paling radikal di era digital. Fondasi utama dari filsafat Stoa (Stoikisme) adalah Dichotomy of Control (Dikotomi Kendali) dari Epictetus yang menegaskan bahwa penderitaan lahir ketika manusia mencoba mengendalikan hal-hal di luar kuasanya seperti opini publik dan validasi (Robertson, 2019).
Dalam ekosistem hiburan yang menuntut kesempurnaan persona, banyak artis rentan mengalami depresi akibat kelelahan menjaga citra. Aldi Taher justru membakar buku panduan tersebut. Ketika ia diolok-olok sebagai politisi "lintas benua" tanpa visi-misi, ia tidak membangun mekanisme pertahanan diri yang kaku. Ia memfokuskan seluruh kapasitas mentalnya murni pada ranah yang bisa ia kontrol: mencoba setiap peluang dan mencari nafkah. Dalam kacamata psikologi koping, ia mempraktikkan problem-focused coping tingkat tinggi dengan mengabaikan stresor ego yang tidak relevan dengan tujuan utamanya untuk bertahan hidup (Lazarus & Folkman, 1984). Titik balik eksistensial ini tidak bisa dilepaskan dari statusnya sebagai penyintas kanker kelenjar getah bening. Dalam ranah psikologi positif, individu yang selamat dari krisis mematikan sering kali mengalami Post-Traumatic Growth (PTG), di mana mereka berhenti memusingkan hal-hal superfisial dan menemukan orientasi makna yang baru (Tedeschi & Calhoun, 2004).
Selamat dari maut tampaknya membebaskan Aldi dari belenggu gengsi. Ia secara harfiah memeluk konsep Amor Fati, mencintai takdirnya yang bermanifestasi dalam jargon "Semua milik Allah" serta kampanye nyeleneh "Baca Al-Quran, rekam, posting". Pengulangan mantra spiritual ini merupakan bentuk positive religious coping (Pargament, 2001) yang berfungsi sebagai jangkar psikologis untuk menetralkan kecemasan. Lebih jauh, ia secara konsisten meruntuhkan ego maskulinnya sebagai figur publik dengan bangga memamerkan rutinitas "cium kaki ibu" serta menyandarkan nasibnya pada doa ibu, istri, hingga mantan istri. Secara psikologis, pengakuan terbuka ini adalah bentuk apresiasi ekstrem terhadap dukungan sosial (social support) yang menyokong kewarasannya (Taylor, 2011). Ia merangkul kerentanannya dan menyerahkan beban pembuktian diri kepada hal-hal di luar dirinya.
Sebuah ironi komersial terjadi ketika keabsurdan ini justru menciptakan gelombang pemasaran masif melalui rutinitasnya melakukan spam balasan di platform Threads dengan kalimat ikonik: "aldis burger rotinya lembut dagingnya juicy luicy mahalini rizky febian bisa beli online". Dalam kondisi normal, hal ini akan berujung pada pemblokiran, namun karena Aldi mempraktikkan radical acceptance (penerimaan radikal) bahwa ia memang sedang "BU" demi keluarga, senjata para pembencinya tumpul. Anda tidak bisa menjatuhkan seseorang yang sudah dengan sukarela menelanjangi kelemahannya sendiri. Sikap ini justru memicu bandwagon effect yang memutarbalikkan logika pemasaran, di mana jenama raksasa sekelas Burger King hingga Pizza Hut justru menunggangi ombak "aldis burger" demi mencuri engagement. Kekonyolan yang bermula dari self-defeating humor berubah menjadi kemenangan kapital yang tak terduga (Martin et al., 2003).
Mendiagnosis Aldi Taher sebagai "orang gila" adalah jalan pintas berpikir yang paling malas. Di tengah masyarakat modern yang kian neurotik akibat berlomba-lomba mengejar validasi online dan citra sempurna, Aldi Taher justru berdiri sebagai antitesis yang tangguh. Melalui komedi murahannya, ia memberikan kuliah gratis tentang kebebasan mental: bahwa kedamaian sejati baru bisa diraih ketika kita berani membunuh ego dan berhenti hidup dari remah-remah ekspektasi orang lain. Di balik panggung absurditas yang ia sutradarai sendiri, Aldi Taher sejatinya membuktikan diri sebagai figur publik dengan kesehatan mental yang luar biasa persisten. Mungkin selama ini, dialah yang paling waras di antara kita semua.
Referensi
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer Publishing Company.
Martin, R. A., Puhlik-Doris, P., Larsen, G., Gray, J., & Weir, K. (2003). Individual differences in uses of humor and their relation to psychological well-being: Development of the Humor Styles Questionnaire. Journal of Research in Personality, 37(1), 48-75.
Pargament, K. I. (2001). The Psychology of Religion and Coping: Theory, Research, Practice. Guilford Press.
Robertson, D. (2019). The Philosophy of Cognitive-Behavioural Therapy (CBT): Stoic Philosophy as Rational and Cognitive Psychotherapy (2nd ed.). Routledge.
Stanton, A. L., Bower, J. E., & Rowland, J. H. (2015). Survivorship after cancer. Cancer, 121(1), 3564-3576.
Taylor, S. E. (2011). Social support: A review. In M. S. Friedman (Ed.), The Handbook of Health Psychology (pp. 189-214). Oxford University Press.
Tedeschi, R. G., & Calhoun, L. D. (2004). Posttraumatic growth: Conceptual foundations and empirical evidence. Psychological Inquiry, 15(1), 1-18.
