ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 61 Juli 2026

SKS vs. Nyicil: Memahami Prokrastinasi Akademik melalui Lensa Temporal Discounting

Oleh:

Feodora Davine Notodihardjo

Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Fenomena Sistem Kebut Semalam atau yang lazim dikenal dengan akronim SKS telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya akademik mahasiswa Indonesia. Hampir setiap mahasiswa pernah merasakan bagaimana sebuah tugas yang telah diberikan berminggu-minggu sebelumnya baru dikerjakan pada malam menjelang tenggat waktu (Sauqillah, 2023). Di sisi lain, terdapat pula pendekatan yang berlawanan, biasanya kita dengar atau sadari dengan istilah “nyicil”. Nyicil adalah istilah untuk mengerjakan tugas secara bertahap dan konsisten jauh sebelum deadline tiba. Perdebatan antara keduanya seringkali bermuara pada penilaian moral: Manakah yang lebih baik, manakah yang mencerminkan kedisiplinan sejati? Namun pertanyaan tersebut, meskipun tampak sederhana, sesungguhnya menyentuh mekanisme psikologis yang jauh lebih kompleks dari sekadar soal rajin atau malas.

Untuk memahami mengapa seseorang cenderung menunda pekerjaan meski menyadari konsekuensinya, psikologi menawarkan sebuah konsep yang disebut temporal discounting. Temporal discounting merujuk pada kecenderungan kognitif manusia untuk memberikan penilaian yang lebih rendah terhadap reward atau konsekuensi yang baru akan dirasakan di masa mendatang, dibandingkan dengan hal-hal yang memberikan dampak secara langsung dan segera (Ainslie, 1975). Dalam konteks akademik, ini berarti otak manusia secara inheren (bawaan) memperlakukan deadline yang masih dua minggu lagi sebagai sesuatu yang kurang mendesak, bahkan kurang nyata, jika dibandingkan stimulus yang hadir saat ini, seperti hiburan, interaksi sosial, atau sekadar istirahat.

Steel (2006) dalam kajiannya yang komprehensif mengenai prokrastinasi menemukan bahwa temporal discounting merupakan salah satu prediktor terkuat dari perilaku menunda. Individu yang memiliki tingkat temporal discounting tinggi cenderung lebih mengutamakan kenikmatan jangka pendek (instant gratification) dan lebih sulit membayangkan dirinya di masa depan sebagai entitas yang nyata dan relevan (Hershfield, 2011). Secara gampangnya, kita di masa depan itu direpresentasikan oleh otak sebagai orang asing, seseorang yang kebutuhannya tidak terasa untuk menjadi tanggung jawab secara langsung di sini dan saat ini.

Berdasarkan pemahaman ini, perilaku SKS dapat dijelaskan bukan sebagai manifestasi kemalasan, melainkan sebagai respons adaptif otak terhadap absennya urgensi yang dirasakan (Steel, 2006). Ketika tenggat waktu masih terasa jauh, temporal discounting membuat tugas tersebut secara psikologis terasa tidak mendesak. Namun ketika deadline semakin dekat, nilai subjektif dari penyelesaian tugas tersebut meningkat drastis, dan otak akhirnya mengaktifkan respons stres berupa pelepasan kortisol dan adrenalin yang mendorong fokus dan produktivitas tinggi dalam waktu singkat (Lupien et al., 2007). Ini menjadi salah satu hal yang menjelaskan mengapa banyak mahasiswa justru merasa paling produktif dan paling fokus saat melakukan SKS, bukan karena metode tersebut efektif secara kognitif, melainkan karena ancaman yang sudah dekat berhasil menonaktifkan efek temporal discounting untuk sementara waktu.

Persoalan yang lebih krusial muncul ketika pola SKS ini terbawa ke dalam lingkungan kerja pasca kehidupan kampus. Sistem akademik, secara struktural, sangat kompatibel dengan pola SKS karena menyediakan tenggat waktu yang keras, eksplisit, dan konsekuen. Namun dunia profesional, terutama dalam bidang seperti penelitian, pengembangan organisasi, atau konsultasi, kerap beroperasi dalam kondisi ambiguitas tenggat yang tinggi. Target bersifat jangka panjang, progres tidak selalu terlihat secara langsung, dan tidak ada "ujian akhir" yang secara otomatis memicu respons darurat pada otak. Dalam kondisi seperti ini, individu yang bergantung pada tekanan eksternal sebagai satu-satunya pemicu produktivitas akan menemukan bahwa mekanisme SKS mereka tidak lagi memiliki sinyal untuk diaktifkan (Steel & Klingsieck, 2016).

Di sinilah metode nyicil menunjukkan keunggulan fungsionalnya. Berbeda dengan SKS yang bergantung pada lonjakan kortisol sebagai bahan bakar, metode nyicil membangun ritme kerja yang tidak bergantung pada tekanan eksternal. Individu yang terbiasa membagi tugas besar ke dalam langkah-langkah kecil yang terencana secara efektif menciptakan tenggat waktu internalnya sendiri, sebuah mekanisme yang justru mengimbangi efek temporal discounting alih-alih menunggu efek tersebut menghilang dengan sendirinya (Ariely & Wertenbroch, 2002). Dengan kata lain, metode nyicil bukan sekadar kebiasaan yang lebih sehat secara moral, melainkan strategi kognitif yang lebih adaptif untuk lingkungan kerja modern yang kompleks.

Pemahaman ini membawa kita pada sebuah reframing yang penting: persoalan SKS versus nyicil bukanlah soal karakter atau kedisiplinan semata, melainkan soal kompatibilitas antara strategi kognitif seseorang dengan tuntutan lingkungannya. Bagi mahasiswa yang menyadari bahwa dirinya memiliki kecenderungan temporal discounting yang tinggi, langkah yang paling efektif bukan sekadar bertekad untuk "lebih rajin", melainkan secara aktif mendesain ulang lingkungan tugasnya: memecah proyek besar menjadi milestone yang lebih kecil dengan tenggat yang terasa nyata, membuat progres tampak secara visual, atau bahkan menciptakan konsekuensi kecil secara mandiri ketika target tidak terpenuhi (Thaler & Sunstein, 2008). Pendekatan ini memanfaatkan cara kerja otak manusia, bukan melawannya.

Pada akhirnya, SKS dan nyicil bukanlah dua kutub moral ataupun metode yang saling berlawanan. Keduanya adalah produk dari cara otak manusia memproses waktu dan urgensi. Yang membedakan keberhasilan jangka panjang seseorang bukan kemampuannya bertahan dalam satu malam penuh tekanan, melainkan kemampuannya untuk membangun sistem kerja yang tidak membutuhkan krisis sebagai syarat untuk mulai bergerak.

Daftar Pustaka

Ainslie, G. (1975). Specious reward: A behavioral theory of impulsiveness and impulse control. Psychological Bulletin, 82(4), 463–496. https://doi.org/10.1037/h0076730

Ariely, D., & Wertenbroch, K. (2002). Procrastination, deadlines, and performance: Self-control by precommitment. Psychological Science, 13(3), 219–224. https://doi.org/10.1111/1467-9280.00441

Hershfield, H. E. (2011). Future self-continuity: How conceptions of the future self transform intertemporal choice. Annals of the New York Academy of Sciences, 1235(1), 30–43. https://doi.org/10.1111/j.1749-6632.2011.06201.x

Lupien, S. J., Maheu, F., Tu, M., Fiocco, A., & Schramek, T. E. (2007). The effects of stress and stress hormones on human cognition. Brain and Cognition, 65(3), 209–237. https://doi.org/10.1016/j.bandc.2007.02.006

Sauqillah, A. (2023, January 5). Mengenal istilah kebut semalam. https://kegiatan.pkimuin-suka.ac.id/single/mengenal-istilah-kebut-semalam2023-01-0501-20-51

Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quintessential self-regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65–94. https://doi.org/10.1037/0033-2909.133.1.65

Steel, P., & Klingsieck, K. B. (2016). Academic procrastination: Psychological antecedents revisited. Australian Psychologist, 51(1), 36–46. https://doi.org/10.1111/ap.12173

Thaler, R. H., & Sunstein, C. R. (2008). Nudge: Improving decisions about health, wealth, and happiness. Yale University Press.