ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 61 Juli 2026

Kuliah Sambil Bekerja: Rutinitas yang Melelahkan atau Jalan Menuju Masa Depan?

Oleh:

Ajeng Anung Saputri, Farahdiba Maharani Putri, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Menjadi mahasiswa sambil bekerja sering kali berarti menjalani hari yang lebih panjang. Pagi hingga sore digunakan untuk bekerja, malamnya dilanjut dengan kelas perkuliahan, lalu sisa waktu yang tidak seberapa digunakan untuk mengerjakan tugas. Pola seperti ini bisa terasa berat jika berlangsung terus-menerus, apalagi ketika tubuh sudah lelah namun masih ada tugas yang tetap harus diselesaikan. Lalu, apakah itu berarti perjalanan harus berhenti di tengah jalan?

 

Ketika Lelah Tidak Menghentikan Langkah

Kelelahan seperti ini tidak seharusnya dianggap biasa saja. Beban akademik yang terus bertambah dapat ikut memengaruhi kondisi mental mahasiswa. Stres akademik yang tinggi berkaitan dengan penurunan kesejahteraan mental mahasiswa dalam aktivitas sehari-hari (Barbayannis et al., 2022). Namun menariknya, tidak sedikit juga mahasiswa yang berhasil melewati tekanan dengan bersikap tegar, fokus pada tujuan, dan memaknai kesibukan sebagai bagian dari perjalanan menuju masa depan.

Di tengah situasi yang berat, harapan dan optimisme memberi pegangan bagi mahasiswa untuk tetap dapat melihat ke arah yang ingin dituju. Keduanya bukan hanya sekadar pikiran positif, melainkan kekuatan psikologis yang membuat seseorang lebih mampu mencari cara, menyusun strategi dan yakin bahwa keadaan masih bisa diperbaiki. Dalam psikologi positif, harapan dan optimisme termasuk bagian dari psychological capital (PsyCap) yaitu modal psikologi positif yang berperan dalam menjaga daya juang seseorang saat menghadapi tuntutan hidup (Luthans & Youssef-Morgan, 2017). Artikel ini membahas peran harapan dan optimisme dalam membantu mahasiswa yang bekerja agar tetap bertahan, berkembang, dan menjaga pandangan positif terhadap masa depan.

 

Harapan

Harapan bukan sekadar keinginan agar keadaan dapat berjalan dengan baik. Dalam psikologi positif, harapan berkaitan dengan keyakinan bahwa tujuan masih dapat diperjuangkan, selama seseorang mau terus berusaha dan mencari jalan untuk mencapainya (Lopez et al., 2018; Snyder, 2002).

 

Snyder menjelaskan bahwa harapan dibangun dari tiga unsur utama, yaitu goals yang berarti tujuan yang ingin diraih, pathways yaitu jalan atau strategi yang dapat ditempuh, dan agency sebagai motivasi untuk tetap melangkah meskipun ada hambatan. Sehingga seseorang yang memiliki harapan tidak hanya membayangkan masa depan yang lebih baik, tetapi juga berusaha menemukan cara dan menjaga semangat untuk mencapainya (Snyder et al., 1991).

Pada mahasiswa yang bekerja, harapan sering muncul dalam bentuk yang sederhana, misalnya dengan tetap hadir di kelas meskipun lelah setelah bekerja, mencicil tugas hingga larut malam, dan tetap percaya bahwa proses yang dijalani hari ini akan membawa hasil di masa depan.

 

Optimisme

Optimisme membuat seseorang tetap percaya bahwa ada kemungkinan yang baik di masa depan meskipun kondisi yang dihadapi saat ini belum ideal. Dalam kondisi penuh tekanan, cara pandang ini dapat membantu individu lebih kuat menghadapi stres dan tidak mudah kehilangan semangat (Carver & Scheier, 2014). Menjadi optimis bukan berarti mengabaikan masalah yang ada, melainkan tetap menyadari adanya kesulitan tanpa larut dalam rasa takut atau putus asa. Dengan sikap optimis, seseorang mampu melihat tantangan sebagai sesuatu yang masih dapat dikelola, lalu mencoba mengambil langkah nyata untuk menghadapinya (Carver & Scheier, 2014).

Dalam rutinitas mahasiswa yang bekerja, optimisme tampak ketika mahasiswa percaya bahwa tugas yang menumpuk masih mungkin diselesaikan secara bertahap, nilai yang kurang memuaskan masih bisa diperbaiki, dan semangat yang menurun dapat dibangun kembali.

 

Mengapa Harapan dan Optimisme Penting?

Harapan dan optimisme berperan dalam cara mahasiswa merespons tekanan akademik maupun pekerjaan. Kegagalan dalam satu ujian atau nilai yang kurang memuaskan tidak langsung dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari proses belajar yang masih dapat diperbaiki. Dengan cara pandang seperti ini, mahasiswa akan menjaga usaha untuk tetap konsisten dan tidak cepat menyerah ketika menghadapi tekanan.

Perbedaan cara memaknai tekanan dapat memengaruhi keputusan yang diambil mahasiswa. Ketika tekanan hanya dilihat sebagai hambatan, mahasiswa lebih mudah merasa buntu. Sebaliknya, ketika masih ada harapan dan optimisme, mahasiswa cenderung lebih mampu melihat peluang, mencari bantuan, dan mencoba strategi baru.

Selain berdampak pada proses belajar saat ini, harapan dan optimisme juga dapat memberikan dampak yang lebih luas di masa depan. Dalam jangka panjang, harapan dan optimisme dapat membantu mahasiswa menjaga konsistensi dalam upaya menyelesaikan studi, meningkatkan keterampilan profesional, dan membuka peluang karier yang lebih baik setelah lulus. Pada mahasiswa, harapan dan optimisme juga berkaitan dengan performa akademik serta kesejahteraan subjektif, sehingga keduanya dapat membantu mahasiswa bertahan secara emosional sekaligus tetap menjaga arah dalam mencapai tujuan akademiknya (Rand et al., 2020).

 

Harapan dan Optimisme dalam Perjalanan Diri

Kuliah sambil bekerja juga menjadi proses belajar untuk mengenal batas diri, mengatur energi dan tetap menjaga arah ketika tekanan datang secara bersamaan. Pada titik inilah harapan dan optimisme memiliki makna yang lebih dalam. Harapan membuat mahasiswa mengingat kembali alasan mengapa ia memulai proses kuliah sambil bekerja. Sedangkan optimisme membuat mahasiswa melihat bahwa masa sulit tidak harus menghentikan langkah yang sudah dijalani. Keduanya memang tidak menghapus rasa lelah, tetapi memberikan kekuatan batin untuk menjalani proses dengan lebih sadar dan bermakna.

Harapan dan optimisme juga dapat dipahami sebagai bagian dari psychological capital atau PsyCap, yaitu kekuatan psikologis positif yang membantu seseorang tetap bertahan dan berkembang ketika menghadapi tekanan. Dalam konteks mahasiswa, PsyCap berkaitan dengan cara mahasiswa menjaga motivasi belajar, menyesuaikan diri dengan tuntutan akademik, serta menghadapi stress dan burnout (Li et al., 2023; Luthans & Youssef-Morgan, 2017). Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa PsyCap dapat membantu menurunkan burnout mahasiswa melalui keterlibatan akademik dan rasa mampu dalam menjalani proses belajar (Gebregergis & Csukonyi, 2024). Dalam praktik kesehariannya, harapan dan optimisme bukanlah cara untuk menghilangkan tekanan, tetapi sebagai bekal psikologis yang membuat mahasiswa tetap memiliki arah dan bisa menemukan makna di dalam setiap prosesnya. Dengan mempertahankan keduanya, mahasiswa tidak hanya sedang mengejar gelar atau menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi juga sedang membangun ketahanan diri, kedewasaan, dan keberanian untuk terus memperjuangkan masa depan.

 

Merawat Harapan dan Optimisme dalam Keseharian

Harapan dan optimisme dapat dirawat melalui kebiasaan kecil yang dilakukan sehari-hari. Langkah awal yang bisa dilakukan misalnya dengan menetapkan tujuan yang realistis dan menyesuaikannya dengan kondisi diri. Dengan peran sebagai mahasiswa dan karyawan, bahkan peran dalam keluarga, memiliki target bukan berarti harus memaksakan diri tanpa batas.

Optimisme tetap perlu dibarengi dengan kesadaran terhadap batas kemampuan diri. Ekspektasi yang terlalu tinggi justru dapat membuat mahasiswa semakin tertekan. Keseimbangan antara usaha dan pemulihan tetap perlu dijaga agar mahasiswa tidak memaksakan diri terlalu jauh. Menyusun jadwal belajar, menentukan prioritas, memberi ruang untuk beristirahat, serta mencari dukungan dari keluarga, teman, atau lingkungan belajar dapat membantu tekanan terasa lebih mungkin untuk dikelola. Penelitian menunjukkan bahwa harapan berperan penting dalam kepuasan hidup mahasiswa, sehingga dukungan dari lingkungan sekitar dapat membuat mahasiswa merasa lebih mampu menjalani prosesnya (Wider et al., 2022).

Setiap upaya, sekecil apa pun, tetap memiliki makna meskipun hasilnya tidak selalu terlihat pada saat ini. Harapan dan optimisme bukan sekadar sikap positif, tetapi bagian dari modal psikologis yang dapat dikembangkan. Dengan menjaga harapan dan optimisme, mahasiswa tidak hanya sedang berusaha menyelesaikan kewajiban akademik tapi juga sedang membangun pribadi yang lebih tangguh, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan jangka panjang.

 

“Langkah kecil yang terus dilakukan tetap membawa seseorang lebih dekat pada tujuannya.” (Anonymous, 2026)

 

Referensi:

Barbayannis, G., Bandari, M., Zheng, X., Baquerizo, H., Pecor, K. W., & Ming, X. (2022). Academic Stress and Mental Well-Being in College Students: Correlations, Affected Groups, and COVID-19. Frontiers in Psychology, 13. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.886344

Carver, C. S., & Scheier, M. F. (2014). Dispositional optimism. Trends in Cognitive Sciences, 18(6), 293–299. https://doi.org/10.1016/J.TICS.2014.02.003

Gebregergis, W. T., & Csukonyi, C. (2024). The Mediated Impacts of Psychological Capital on Student Burnout through Academic Engagement and Learner Empowerment: A Serial Mediation Model. European Journal of Educational Research, 13(4), 1933–1949. https://doi.org/10.12973/eu-jer.13.4.1933

Li, R., Che Hassan, N., & Saharuddin, N. (2023). Psychological Capital Related to Academic Outcomes Among University Students: A Systematic Literature Review. Psychology Research and Behavior Management, Volume 16, 3739–3763. https://doi.org/10.2147/PRBM.S421549

Lopez, S. J. ., Pedrotti, J. Teramoto., & Snyder, C. R. . (2018). Positive psychology : the scientific and practical explorations of human strengths (4th ed.). SAGE Publications, Inc.

Luthans, F., & Youssef-Morgan, C. M. (2017). Psychological Capital: An Evidence-Based Positive Approach. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior, 4(1), 339–366. https://doi.org/10.1146/annurev-orgpsych-032516-113324

Rand, K. L., Shanahan, M. L., Fischer, I. C., & Fortney, S. K. (2020). Hope and optimism as predictors of academic performance and subjective well-being in college students. Learning and Individual Differences, 81, 101906. https://doi.org/10.1016/j.lindif.2020.101906

Snyder, C. R. (2002). Hope theory: Rainbows in the mind. Psychological Inquiry, 13(4), 249–275. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1304_01

Snyder, C. R., Harris, C., Anderson, J. R., Holleran, S. A., Irving, L. M., Sigmon, S. T., Yoshinobu, L., Gibb, J., Langelle, C., & Harney, P. (1991). The Will and the Ways: Development and Validation of an Individual-Differences Measure of Hope. Journal of Personality and Social Psychology, 60(4), 570–585. https://doi.org/10.1037/0022-3514.60.4.570

Wider, W., Taib, N., Khadri, M., Yip, F., Lajuma, S., & Punniamoorthy, P. (2022). The Unique Role of Hope and Optimism in the Relationship between Environmental Quality and Life Satisfaction during COVID-19 Pandemic. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(13), 7661. https://doi.org/10.3390/ijerph19137661