ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 61 Juli 2026

Pembelajaran Berbasis Budaya untuk Mendukung Adaptasi Akademik Siswa dari Latar Budaya Berbeda

Oleh:

Diana

Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya

 

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman budaya, terdiri dari lebih dari 1.300 suku bangsa, lebih dari 700 bahasa daerah, rumah adat, pakaian adat, dan seni budaya tradisional. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam pengembangan infrastruktur sehingga distribusi bantuan dana dan fasilitas pendidikan ke berbagai daerah dan pelosok menjadi tidak merata. Distribusi bantuan dan pengembangan berpusat di perkotaan, seperti pulau Jawa, yang terlihat dari infrastruktur yang baik dan tingkat perkembangan perekonomian yang lebih tinggi, dan adanya fasilitas pendidikan yang lebih berkualitas, serta tenaga pendidik yang lebih terlatih. Sebaliknya, pulau-pulai terpencil, terutama yang berada di Indonesia bagian Timur menderita dengan keterbatasan sumber daya, infrastruktur yang tidak memadai, dan kekurangan guru berkualitas (Sidauruk et al., 2025)Kondisi ini menjadi pulau Jawa menjadi daya tarik daerah tujuan dari berbagai daerah lainnya untuk melakukan migrasi (Harita & Nurcahyati, 2018). Adanya perpindahan ini tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga pendidikan. Banyak siswa dari luar Jawa menggunakan berbagai peluang dan kesempatan untuk menempuh pendidikan di daerah Jawa, yang memiliki latar budaya dan lingkungan belajar yang berbeda dari daerah asal.

Perpindahan siswa dari daerah asal ke daerah tujuan yang berbeda latar budaya menuntut siswa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Siswa berpeluang mengalami gegar budaya (culture shock) dalam aspek bahasa, komunikasi, kebiasaan belajar, dan lingkungan belajar. Misalnya, siswa yang berasal dari daerah pedalaman Papua terbiasa belajar dengan durasi dua hingga tiga jam sehari, sehingga mereka akan mengalami kejenuhan dan kelelahan ketika mengikuti program pembelajaran di sekolah swasta di Jakarta yang berlangsung pagi hingga sore hari. Kondisi ini mendorong siswa melakukan akulturasi, yaitu proses penyesuaian dan adaptasi budaya yang multidimensi dan dinamis yang muncul dari kontak berkelanjutan antara budaya yang berbeda dan melibatkan berbagai tingkat pembelajaran, pemeliharaan, dan sintesis budaya yang bergantung pada faktor individu, kelompok, dan lingkungan (Chun et al., 2016). Terdapat tiga dimensi dari akulturasi, yaitu (1) Adaptasi sosiokultural yang terkait kemampuan menyesuaikan atau beradaptasi dengan budaya baru; (2) Adaptasi psikologis yang menekankan pada rasa bahagia dan puas (Searle & Ward, dalam Lia et al., 2023); (3) Adaptasi akademik yang berkaitan dengan penyesuaian siswa terhadap sistem pendidikan baru (Church, dalam Lia et al., 2023).

Pembahasan ini akan lebih menekankan pada adaptasi akademik siswa dengan latar budaya yang berbeda. Permasalahan penyesuaian akademik yang biasanya dihadapi oleh siswa lintas budaya adalah perbedaan kebiasaan, standar pencapaian, metode pembelajaran, dan lingkungan belajar. Pendidik perlu mampu memahami profil belajar siswa untuk identifikasi kebutuhan siswa dalam menghadapi kendala pembelajaran. Adanya perbedaan latar belakang budaya, maka pendidik juga perlu memahami latar belakang budaya siswa yang memunculkan pola pikir, perilaku, dan kebiasaan siswa dalam merespon seting pembelajaran di tempat baru.

Proses pembelajaran berbasis budaya menjadi penting untuk diterapkan, yaitu pendekatan pengajaran yang memanfaatkan pengetahuan mengenai latar belakang budaya sebagai penghubung antara pengalaman hidup siswa dengan konten pembelajaran di kelas. Pendekatan pembelajaran ini biasanya dikenal dengan istilah Culturally Responsive Teaching (CRT), yang mendorong pendidik untuk memahami komunitas, melakukan penyesuaian kurikulum berbasis budaya, keterlibatan diskusi reflektif, kolaborasi praktik pengajaran, dan pembelajaran dengan pendampingan orang-orang yang memahami budaya tersebut (Bostwick et al., 2025). Pembelajaran berbasis budaya dapat diterapkan dengan menjelaskan konsep berhitung dasar (jumlah, kurang, kali, dan bagi) dengan memanfaatkan budaya yang familiar dengan kehidupan siswa. Misalnya, siswa berasal dari pegunungan Papua akan lebih familiar belajar mengenai berhitung dasar melalui cerita (Story Telling) mengenai kehidupan pemburu ayam dan babi di kandang milik peternak. Penerapan tersebut mempertimbangkan budaya Papua yang senang saling bercerita dan tokoh cerita merupakan seting yang relevan dengan kehidupan siswa di pengunungan.

Pendidik perlu memiliki sensitivitas budaya (cultural sensitivity) sehingga mampu berempati dan terbuka untuk memahami pola pikir, kebiasaan siswa tanpa adanya labeling stereotipe budaya tertentu. Lingkungan belajar perlu dibangun menjadi lingkungan yang menghargai keberagaman budaya. Pendidik dapat mempertimbangkan profil belajar dan budaya siswa dalam manajemen kelas saat pembelajaran. Misalnya, pendidik perlu mempertimbangkan sikap tegas dan konsekuensi yang sesuai pada siswa yang memiliki budaya dengan didikan keluarga yang menggunakan hukuman fisik (seperti memukul). Siswa butuh diberikan pengalaman bahwa ketegasan pada aturan tidak selalu disertai dengan pukulan, tetapi fokus pada konsekuensi untuk bertanggung jawab atas kesalahan/kelalaiannya.

Pemahaman mengenai latar belakang budaya siswa juga bisa membantu pendidik memberikan pendampingan psikologis selama proses adaptasi akademik berlangsung. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tantangan psikologis yang sering dihadapi siswa yang menempuh pendidikan jauh dari daerah asalnya rentan mengalami rindu kampung halaman (homesickness) yang juga berdampak mereka mengalami kesulitan pertemanan pada awal pindah (Billedo et al., 2020; Hendrickson et al., 2011) Maka dari itu, program pendampingan psikologis dari pendidik perlu dilakukan terkait pembekalan cara beradaptasi, pengenalan budaya setempat kepada siswa dan melibatkan siswa pada aktivitas yang memberikan mereka kesempatan bersosialisasi dengan budaya setempat.

Referensi:

 

 

Billedo, C. J., Kerkhof, P., & Finkenauer, C. (2020). More facebook, less homesick? Investigating the short-term and long-term reciprocal relations of interactions, homesickness, and adjustment among international students. International Journal of Intercultural Relations, 75, 118–131. https://doi.org/10.1016/j.ijintrel.2020.01.004

Bostwick, K. C. P., Martin, A. J., Lowe, K., Vass, G., Woods, A., & Durksen, T. L. (2025). A framework for teachers’ culturally responsive teaching beliefs: Links to motivation to teach Aboriginal curriculum and relationships with Aboriginal students. Teaching and Teacher Education, 161, 105020. https://doi.org/10.1016/j.tate.2025.105020

Chun, K. M., Kwan, C. M. L., Strycker, L. A., & Chesla, C. A. (2016). Acculturation and Bicultural Efficacy Effects on Chinese American Immigrants’ Diabetes and Health Management. Journal of Behavioral Medicine, 39(5), 896–907. https://doi.org/10.1007/s10865-016-9766-2

Harita, A. N. W. & Nurcahyati (2018). INTERAKSI STRUKTUR DAN AGENCY: STUDI KASUS MIGRASI PENDIDIKAN MAHASISWA PEREMPUAN LUAR JAWA KE SURABAYA. . . Character, 00.

Hendrickson, B., Rosen, D., & Aune, R. K. (2011). An analysis of friendship networks, social connectedness, homesickness, and satisfaction levels of international students. International Journal of Intercultural Relations, 35(3), 281–295. https://doi.org/10.1016/j.ijintrel.2010.08.00.

Lai H, Wang D and Ou X (2023) Crosscultural adaptation of Chinese students in the United States: Acculturation strategies, sociocultural, psychological, and academic adaptation.  Front. Psychol. 13:924561.  doi: 10.3389/fpsyg.2022.924561

Sidauruk, J. M., Susilowati, M., & Akbar, K. K. (n.d.). Indonesia’s Struggle with Education Inequality: Is Reform the Answer? Indonesia Discourse.