ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 61 Juli 2026
Komunikasi Efektif dan Empatik untuk Menjembatani Perbedaan Generasi antara Guru dan Siswa
Oleh:
Felisia Julia dan Christina Lumbantoruan
Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
Belajar adalah perjalanan seumur hidup yang tidak mengenal batas usia. Namun, dalam konteks pendidikan formal, anak-anak usia 6 hingga 18 tahun akan menempuh proses tersebut secara terstruktur, dari bangku sekolah dasar hingga jenjang sekolah menengah atas. Di balik proses belajar tersebut, terdapat tantangan yang muncul di ruang kelas, yaitu perbedaan generasi antara guru dan siswa. Saat ini, siswa Indonesia didominasi oleh Generasi Z dan Alpha, sedangkan para guru mayoritas berasal dari Generasi X dan Y (Jayani, 2022; Rakhmah, 2020). Perbedaan ini bukan sekadar soal usia, tetapi juga mencakup cara berpikir, berperilaku, dan berkomunikasi.
Menurut sosiolog Karl Mannheim, setiap generasi memiliki gaya komunikasi yang berbeda karena dipengaruhi oleh peristiwa sejarah dan pengalaman sosial yang dialami selama masa tumbuh kembang mereka. Pengalaman tersebut kemudian membentuk pola pikir, nilai, dan sudut pandang dalam melihat dunia (Nurbaity, 2026).
Generasi X (1965–1980) tumbuh pada masa transisi perkembangan teknologi. Generasi ini dikenal mandiri, disiplin, pragmatis, dan cenderung individualistis. Sementara itu, Generasi Y atau Milenial (1981–1996) berkembang seiring pesatnya teknologi informasi. Kreativitas, ekspresi diri, keberagaman, dan keadilan sosial menjadi nilai yang memengaruhi cara mereka bekerja dan berinteraksi, termasuk dalam dunia pendidikan.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Z (1997–2012) tumbuh ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui media sosial, mengikuti pembelajaran daring, dan cenderung menyukai kolaborasi dibandingkan hierarki yang kaku. Adapun Generasi Alpha (2013 dan seterusnya) merupakan generasi pertama yang sejak lahir telah dikelilingi oleh kecerdasan buatan dan realitas virtual. Proses belajar generasi ini sangat bergantung pada alat interaktif dan aplikasi digital. Karena terbiasa hidup dalam lingkungan yang berubah cepat, mereka diperkirakan menjadi generasi yang sangat adaptif terhadap perkembangan dunia.
Keberagaman generasi di lingkungan sekolah tidak selalu berjalan mulus. Social Identity Theory yang dikembangkan oleh Henri Tajfel dan John Turner menjelaskan bahwa manusia cenderung mengelompokkan diri sendiri dan orang lain ke dalam kategori tertentu, seperti ras, pekerjaan, maupun kelompok sosial lainnya, untuk mempermudah pemahaman terhadap lingkungan sosial. Dalam proses tersebut, individu akan mengadopsi nilai, norma, dan perilaku kelompoknya sehingga terbentuk ikatan emosional dengan kelompok tersebut. Untuk mempertahankan dan meningkatkan harga diri, seseorang kemudian membandingkan kelompoknya (in-group) dengan kelompok lain (out-group), serta cenderung menganggap kelompoknya lebih unggul demi memperkuat konsep diri (Myers & Twenge, 2022).
Dalam konteks sekolah, dinamika ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, guru merasa otoritasnya tidak dihargai oleh siswa, sedangkan siswa merasa tidak dipahami atau diperlakukan dengan pendekatan yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Jika tidak dikelola dengan baik, kesenjangan persepsi tersebut dapat berkembang menjadi konflik. Oleh karena itu, pemahaman dan penyesuaian terhadap perbedaan antargenerasi menjadi penting untuk meminimalkan risiko tersebut (Rahmatiah & Asiyah, 2019).
Di sinilah komunikasi yang efektif dan empatik berperan sebagai kunci pencegahan konflik. Psikolog humanis Carl Rogers menyatakan bahwa komunikasi efektif terjadi ketika terdapat kejujuran (congruence), penerimaan tulus tanpa syarat (unconditional positive regard), serta kemampuan mendengarkan secara empatik dari pihak yang menerima pesan (Feist et al., 2021). Melalui empati, seseorang mampu keluar dari sudut pandang pribadinya dan mencoba memahami apa yang dirasakan orang lain dalam situasi yang sedang dihadapi.
Salah satu teknik komunikasi empatik yang dapat diterapkan adalah model tiga langkah berikut:
Pause (berhenti sejenak)
Sebelum bereaksi, kendalikan respons emosional terlebih dahulu. Tarik napas, sadari situasi, dan hindari mengambil keputusan secara tergesa-gesa.
Understand (memahami)
Tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang mungkin dirasakan oleh siswa ini?” Pertanyaan tersebut membantu menggeser fokus dari penilaian menuju pemahaman.
Respond (merespons)
Gunakan bahasa yang tenang, jelas, dan penuh hormat. Hindari kata-kata yang menghakimi atau mempermalukan.
Pada akhirnya, perbedaan generasi di lingkungan sekolah adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari, tetapi bukan berarti tidak dapat dijembatani. Dengan membangun budaya komunikasi yang efektif dan empatik, sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang aman untuk pengembangan karakter, baik bagi guru maupun siswa.
Referensi
Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T.-A. (2021). Theories of personality (10th ed.). McGraw Hill.
Jayani, D. H. (2022, November 1). Mayoritas guru di Indonesia generasi milenial. Databoks Katadata. https://databoks.katadata.co.id/pendidikan/statistik/d2cc084660f1cfa/mayoritas-guru-di-indonesia-generasi-milenial
Myers, D. G., & Twenge, J. M. (2022). Social psychology (14th ed.). McGraw Hill.
Nurbaity, S. (2026). Generasi sebagai identitas budaya: Dinamika pengalaman historis dalam pembentukan karakter pada generasi boomers hingga Gen Z. AL-ULUM: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 12(1), 47–59.
Rahmatiah, H. A., & Asiyah, N. (2019, July). Kesenjangan generasi antara guru dan murid sebagai tantangan digitalisasi pendidikan. In Prosiding Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang.
Rakhmah, D. N. (2020). Memahami generasi pascamilenial: Sebuah tinjauan praktik pembelajaran siswa. Masyarakat Indonesia, 46(1), 49–64.
