ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 46 November 2025
Self- Awareness Di Zaman Modern :
“Ketika Dunia Terlalu Bising, dan Kita Kehilangan Suara Diri”
Oleh :
Antonita Maria Clarita Naro
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
Matahari baru mulai terbit dari timur, Sebelum kedua mata benar-benar terbuka, tangan sudah lebih dulu meraih ponsel mengecek pesan, notifikasi, berita, bahkan media sosial. Dalam hitungan menit, otak mulai bekerja keras memproses berbagai informasi; siapa yang sedang menikmati hidup, siapa yang sedang mengalami musibah dan bahkan nanti siapa yang lebih sukses dari kita. Kita belum sempat mendengarkan suara kicauan burung di balik jendela, dan merasakan hembusan angin di pagi hari, tapi sudah tenggelam di dalam kebisingan dunia digital. Di tengah derasnya arus suara notifikasi dari dunia digital yang terus berbunyi tanpa henti, ada suara yang perlahan mulai menghilang, yaitu “suara diri kita sendiri”
Fenomena ini menjadi suatu hal yang umum terutama di kehidupan modern. Di zaman yang penuh dengan tuntutan ini membuat manusia semakin jarang dan bahkan mengabaikan dirinya sendiri. Kita terlalu fokus dengan dunia luar, bekerja keras, berpikir jauh ke depan, tapi lupa dengan diri kita, kita lupa melihat ke dalam dan lupa bertanya : Apa yang aku rasakan? apakah aku bahagia? dan apakah aku benar-benar hidup, atau hanya menjalani rutinitas semata? Itulah akar dari kehilangan self awareness yaitu kesadaran diri yang menjadi dasar dari keseimbangan antara emosi dan kesehatan mental. Kesadaran diri bukan sekedar mengetahui siapa kita, tetapi juga memahami mulai dari apa yang kita rasakan mengapa kita merasakannya, dan bagaimana perasaan itu dapat mempengaruhi cara kita berpikir serta bertindak. Tasha Eurich merupakan seorang psikolog yang menempatkan self awareness sebagai fondasi utama dari kecerdasan emosional dan efektivitas pribadi (Eurich, 2018)
Sebagai contoh : Seorang wanita yang selalu tampil sempurna di sosial media, selalu menunjukan kebahagiaan dan terlihat sukses tetapi dibalik itu semua, ternyata ada perasaan yang sulit untuk dijelaskan, perasaan yang kosong dan hampa. Apa yang dirasakan oleh wanita ini bukan hanya kelelahan fisik, tetapi kelelahan mental dan kehilangan hubungan batin. Dalam momen-momen seperti ini, self-awareness sangat berperan untuk menjadi cermin bagi kita agar dapat melihat pantulan wajah dan isi hati yang sebenarnya.
Ketika kita berani menatap cermin itu, maka kita mulai melihat segala hal yang selama ini tersembunyi di dalam diri kita, sesuatu yang sering kita abaikan, ketakutan yang kita sembunyikan selama ini, luka yang lama terpendam, serta keinginan dan impian yang kita tunda hanya karena takut akan penilaian orang lain. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa self awareness memiliki dua sisi yang saling melengkapi dan dapat dipahami yaitu internal self awareness yang merupakan kemampuan dalam memahami pikiran, motivasi, emosi dan external self awareness yang merupakan kemampuan bagaimana orang lain memandang kita, dan bagaimana agar apa yang kita lakukan bisa berdampak bagi orang lain. Kondisi di zaman modern lebih menguatkan pada self awareness eksternal yang meliputi bagaimana kita terlihat dimata orang lain dan bagaimana orang lain melihat kita, sedangkan self awareness internal sering diabaikan. Kita mengetahui bagaimana caranya agar dunia melihat kita baik-baik saja, tapi kita sendiri tidak mengetahui apa yang membuat hati kita damai.
Individu yang memiliki self awareness adalah individu yang memiliki arah/kompas dalam dirinya sendiri. Ketika marah, kita menyadari bahwa kemarahan yang timbul bukan karena orang lain, melainkan berasal dari dalam diri sendiri karena rasa lelah, atau merasa tidak dihargai. Saat sedih, kita tidak perlu menyembunyikan kesedihan tetapi kita harus mengetahui bahwa kesedihan merupakan sebuah pesan sederhana yang disampaikan dari dalam hati bahwa ada sesuatu yang belum kita selesaikan dan selalu di pendam. Dengan adanya kesadaran, kita dapat belajar untuk lebih mengontrol diri dan menyembuhkan diri sendiri tanpa menyalahkan dunia. Terdapat sebuah penelitian dalam tinjauan oleh Organizational Psychology yang menunjukkan bahwa individu yang memiliki self awareness tinggi cenderung lebih bahagia, lebih mampu dalam mengelola stres, dan memiliki hubungan sosial yang lebih sehat.
Dunia di zaman digital sangat memberikan banyak kemudahan bagi semua orang, tetapi sebaliknya dapat menciptakan kebisingan-kebisingan yang nyaris melekat dalam setiap individu. Kita begitu sering mendengar berbagai macam dan ragam suara dunia seperti komentar, berita di mana-mana sampai kita lupa mendengarkan suara hati sendiri, yang tanpa kita sadari, ternyata dibalik kebisingan dunia, ada suara hati yang perlu kita dengar.
Media sosial membuat banyak orang hidup untuk dilihat baik tetapi bukan untuk benar-benar merasa baik. masing-masing orang mulai membangun identitas diri mereka berdasarkan jumlah likes dan berbagai ribuan followers di sosial media. Dalam situasi tersebut, self awareness tumbuh sebagai bentuk perlawanan yaitu dengan adanya keberanian untuk tetap jujur kepada diri sendiri, meskipun banyak tuntutan dari dunia.
Tetapi proses untuk menemukan kembali self awareness merupakan proses yang tidak mudah dan instan. Karena self awareness lahir dari pengalaman yang mengguncang seperti kegagalan, kehilangan, bahkan kesepian, yang justru disitulah sebuah pintu dari ruang refleksi dapat terbuka lebar, dimana ketika kita berhenti berlari, kita mulai mendengarkan diri, menemukan bahwa kebisingan di luar tak sekeras yang kita kira, tetapi karena dalam diri kita terlalu diabaikan dan tak ada yang berbicara.
Self awareness bukan berarti kita harus menjadi yang sempurna, melainkan menyadarkan kita untuk selalu peka dengan diri sendiri, bukan hanya dunia luar, karena kita perlu memahami diri sendiri, mengapa kita bisa marah, mengapa kita bisa sedih, dan mengapa kita bisa lelah. Di dunia yang terus berputar dengan cepat, self awareness mengajarkan kita untuk melambat bukan berarti untuk tertinggal, tetapi agar kita tidak kehilangan arah. Dan mungkin pada akhirnya kita dapat lebih mendengarkan suara diri kita sendiri di tengah bisingnya dunia modern.
Di tengah dunia yang berisik ini, yang paling kita butuhkan adalah diam, memberi ruang bagi kita untuk berbicara bukan hanya mengikuti suara luar yang lebih keras. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kesadaran internal yang tinggi cenderung mengalami tingkat kebahagiaan yang lebih besar, hubungan interpersonal yang baik, mampu mengelolah stress dengan baik. Sebagai contoh, studi “ The Importance of Awareness, Acceptance, and Alignment with the Self” menyimpulkan bahwa self connection dengan komponen sel-awareness, self acceptance, dan self-Alignment berpotensi mendukung kesejahteraan. Dengan kata lain: Kita hidup di dunia yang terlalu cepat, tetapi jiwa kita tetap membutuhkan ritme yang manusiawi.
Ketika dunia terasa terlalu bising, ingatlah bahwa masih ada satu suara yang penting yaitu suara diri kita sendiri. Dan ketika kita kembali mendengarkannya dengan sikap ramah, jujur, dan terbuka, kita dapat menjalani hidup dengan penuh kesadaran.
Referensi:
Klussman, K., Curtin, N., Langer, J., & Nichols, A. L. (2022). The importance of awareness, acceptance, and alignment with the self: A framework for understanding self-connection. Europe's journal of psychology, 18(1), 120.
Li, J., Ma, W., Zhang, M., Wang, P., Liu, Y., & Ma, S. (2021). Know yourself: physical and psychological self-awareness with lifelog. Frontiers in Digital Health, 3, 676824.
London, M., Sessa, V. I., & Shelley, L. A. (2023). Developing self-awareness: Learning processes for self-and interpersonal growth. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior, 10(2023), 261-288.
Open AI. (2025). Bantuan Merapikan Naskah